
Pagi ini terasa begitu indah bagi Davina karena setelah sempat tinggal terpisah dengan Zio, hari ini ia dan pria itu bisa menikmati sarapan bersama seperti selama ini.
"Davina mau ngucapin terima kasih sama tante Silla" Ucap Davina pada Zio. Pria itu menghentikan suapannya lalu menatap bingung pada gadis itu.
"Gara-gara tante Silla kegatelan semalam om Zio jadi nginep di sini dan kita bisa sarapan bareng" Ucap Davina menjawab kebingungan Zio meski pria itu belum melemparkan tanya.
"Kamu tu ada-ada aja sayang" Zio menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya kita harus bisa menemukan sisi positif dari setiap kejadian supaya kita bisa tenang om. Kalo mikirin negatifnya aja jadinya nyesek, bener nggak?" ucap Davina santai.
"Iya benar sayang. Pacarnya mas Zio selain cantik juga dewasa dan bijak sekali" Ucap Zio yang membuat Davina tersenyum malu-malu.
"Siapa dulu dong pacarnya" kedua nya lalu terkekeh.
Zio dan Davina menghabiskan sarapan sambil bercengkrama dengan bahagia meski belum ada titik terang akan masa depan hubungan mereka mengingat restu mama Ayumi belum berhasil mereka rebut.
Entah akan berapa lama lagi dan masih seberapa erat mama Ayumi menggenggam restu itu.
"Sudah mama duga kamu di sini Zio, pantas saja di apartemen nggak ada" Zio dan Davina menegang meyadari kedatangan mama Ayumi yang tiba-tiba.
"Mama?" Zio panik, ia takut mamanya mengungkit janji yang ia ucapkan pada sang mama kemarin. Zio merasa sangat khawatir, Davina pasti akan kecewa padanya jika mengetahui hal itu.
"Selesaikan sarapan kalian, kita harus bicara. Mama tunggu di sana" Ucap mama Ayumi sambil menunjuk ruang keluarga
"Mama nggak mau ikut sarapan bareng kita?" Tanya Davina, tak lupa senyum semanis madu ia sematkan untuk mama Ayumi. Meski kemarin ia merasa sangat tersakiti pada ucapan mama Ayumi yang berniat menjodohkan Zio dengan wanita lain namun beruntung Davina bisa menata hatinya dengan cepat sehingga tidak ada ruang dendam di hatinya untuk wanita yang sudah melahirkan pria pujaan nya itu.
"Oma sudah sarapan sebelum ke sini Davina" Ucap mama Ayumi, ia tampak sedikit bergidik. Masih ada rasa tidak nyaman di hatinya mendengar panggilan Davina padanya.
"Om gimana dong? Davina takut" bisik Davina pada Zio setelah mama Ayumi menjauhi meja makan.
"Jangan khawatir sayang, ada mas Zio" Ucap pria itu dengan senyum penuh arti. Ia ingin menghibur Davina agar tidak terlalu tegang meski ia sendiri diam-diam merasa panik.
"Ada kemungkinan oma misahin kita secara paksa nggak om? om beneran kan akan selalu bersama Davina sampai kapan pun?" Seperti ada batu besar yang menghantam kepala Zio ketika mendengar pertanyaan Davina, Zio tak berani membayangkan betapa kecewanya Davina jika tau janji yang sudah ia ucapkan pada mamanya.
"Tenang aja sayang, om akan selalu bersama Davina" ucap Zio meyakinkan. Zio sudah seperti play boy yang mengumbar janji ke mana-mana. Entah janji yang mana yang harus ia tepati, Zio hanya bisa berharap mama Ayumi merestui mereka sehingga ia tak perlu menepati janjinya pada sang mama untuk meninggalkan Davina.
🍁🍁🍁
Davina dan Zio berpegangan tangan erat, suasana terasa mencekam menantikan mama Ayumi memulai pembicaraan diantara mereka. Keduanya seperti pesakitan yang sedang menantikan vonis.
Mama Ayumi tersenyum masam setelah melirik sejenak pada tangan Zio dan Davina yang saling bertaut seperti menempel.
"Apa kalian tidak bisa berhenti untuk berpegangan tangan? mama risih melihatnya" Ucap sang mama dengan jengah.
Davina dan Zio saling berpandangan sesaat lalu dengan kompak menjawab.
"Nggak bisa ma"
"Kami tidak bermaksud menentang mama, tapi kami benar-benar tak bisa untuk saling melepaskan. Mengertilah ma" Rayu Davina yang lagi-lagi menciptakan ekspresi masam di wajah mama Ayumi.
"Apa hubungan kalian tidak bisa diubah seperti sedia kala? hubungan antara om dan keponakan. Davina sadarlah, Zio terlalu tua untukmu. Kalian hidup di generasi yang jauh berbeda." Gantian Zio yang berekspresi masam mendengar sang mama seperti merendahkannya.
"Tapi mas Zio bisa mengisi kekosongan dalam diri Davina ma. Semua yang Davina harapkan dari seorang pendamping hidup dimiliki oleh mas Zio. Jangan paksa Davina mencarinya pada sosok lain sementara Davina sudah menemukannya pada diri mas Zio." Jawab Davina tanpa keraguan.
"Mama lihat sendiri kan? meski generasi kami jauh berbeda tapi Davina bisa mengimbangi Zio dengan kedewasaan nya. Pemikiran dan sikap Davina jauh lebih dewasa dari usianya ma. Jangan khawatirkan hal itu, aku dan Davina bisa menjadi pasangan yang saling melengkapi" Zio menambahkan.
"Itu karena kamu yang memaksanya untuk dewasa sebelum waktunya. Justru itu yang mama khawatirkan, masa remaja Davina jadi terampas begitu saja" ucap mama Ayumi mencibir putranya.
"Tapi Davina sama sekali tidak keberatan soal itu, di satu waktu mas Zio bisa memposisikan diri sebagai remaja sehingga Davina tidak merasa kehilangan momen itu. Ayolah ma berikan restu mama untuk kami"
"Kalian benar-benar keras kepala" Mama Ayumi memijit-mijit kepalanya.
"Mama tak punya pilihan lagi. Lakukan apa yang kalian yakini benar" ucap mama Ayumi.
"Mama merestui kami?" Tanya Zio hati-hati
"Berat, tapi mama nggak punya pilihan selain merestui." Semalaman mama Ayumi memikirkan ucapan Zio dan juga Yara. Mama Ayumi merasa khawatir apa yang Zio dan Yara ucapkan benar-benar terjadi, karena itu ia berusaha untuk menurunkan egonya dan memutuskan untuk memberi Zio dan Davina kesempatan. Perlahan ia menyadari binar cinta di mata Zio dan Davina terpancar begitu nyata, tak ada alasan untuk meragukannya. Mempertahankan egonya hanya akan membuatnya kehilangan Zio maupun Davina.
"Ah mama, sudah Davina duga mama nggak mungkin tega memisahkan Davina dan mas Zio. Davina sayang banget sama mama. Davina janji akan menjadi istri yang baik untuk putra mama dan akan menjadi menantu yang berbakti pada mama" Davina melepaskan tangannya dari tangan Zio lalu berpindah ke samping mama Ayumi dan memeluk wanita itu dengan erat. Kebahagiaan yang Davina rasakan saat ini benar-benar sempurna.
"Makasih ma, Zio janji nggak akan ngecewain mama. Zio juga akan memastikan semua kekhawatiran mama tak akan terjadi." Zio menyusul Davina untuk duduk di sisi lain mama Ayumi dan ikut memeluk sang mama.
Zio dan Davina merasa begitu bahagia meski mama Ayumi terlihat belum sepenuhnya menerima. Namun setidaknya pintu hati wanita itu mulai terbuka.
"Tapi ingat, kalian harus menjaga jarak dan tetap tinggal terpisah sampai kalian terikat dalam hubungan yang sah di mata agama dan negara" tegas mama Ayumi.
"Ya udah sekarang aja nikahnya mas" Ucap Davina penuh semangat.
"Tunggu dapat ijazah dulu Davina. Pernikahan juga butuh persiapan" mama Ayumi berusaha mengatur nafasnya, wanita paruh baya itu merasa shock mendengar permintaan Davina.
"Kelamaan ma" Ucap Davina lesu.
"Sabar sayang, sebentar lagi kok" Ucap Zio sambil tersenyum untuk menenangkan kekasihnya.
🍁🍁🍁
Semoga pada lega ya?
Author nggak tega kasih mereka cobaan lama-lama.
❤️