My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 32



"Tapi itulah faktanya Davina. Om adalah penyebab orang tua kamu meninggal. Om sama sekali tidak mengarang cerita karena ingin menolak kamu seperti yang kamu tuduhkan." Ucap Zio sendu.


"Terus om mau aku percaya dan membenci om Zio iya? nggak om, Davina nggak percaya" Bagaimana bisa pria yang ia kenal penuh kasih sayang dan selalu mementingkan kebahagiaannya adalah penyebab kematian orang tuanya.


"Jangan bicara lagi" Davina mengangkat tangannya saat Zio akan kembali mengatakan sesuatu. "Davina mau pulang sekarang" Ucapnya lagi.


"Baiklah, kita pulang sekarang sayang" Zio menuruti permintaan Davina yang terlihat rapuh.


Sepanjang perjalanan Davina melempar pandangan ke luar jendela. Ia berusaha mencerna ucapan Zio. Hati nya menolak untuk percaya kata-kata pria itu terkait kematian orang tuanya. Saat peristiwa itu terjadi Davina memang masih kecil dan belum terlalu paham apa yang terjadi, tapi bukan berarti ia akan menerima dan percaya begitu saja ucapan Zio.


Merasakan bagaimana Zio merawat dan mengasihinya Davina yakin Zio adalah pria baik-baik yang penuh cinta. Davina tak akan percaya Zio mampu melukai orang lain apalagi orang tuanya.


Meski hanya sekilas namun ia masih mengingat beberapa kenangan indah antara dirinya, Zio dan juga kedua orang tuanya. Davina percaya pria itu menyayangi mama dan papanya dan tak akan mungkin menyakiti mereka.


"Davina om minta maaf" Zio mencoba membuka obrolan namun Davina tak merespon nya. Gadis itu tetap betah membisu sambil memandangi jalanan.


"Sayang..."


"Jangan ajak Davina bicara dulu om


Davina butuh waktu untuk mencerna semua ini" Potong Davina. Ia tak tau bagaimana cara menghadapi Zio saat ini.


"Iya sayang, tapi jangan lama-lama diamnya ya?" Zio menggenggam tangan gadis itu, Davina tak menolak. Hati kecilnya merasa tentram dan merasakan kehangatan pada sentuhan tangan pria itu. Namun ada bagian yang terasa sakit saat menyadari Zio tak menginginkan dirinya. Ucapan cinta pria itu terasa tak berarti karena Zio tetap menolak nya. Ia meragukan kebenaran cinta yang terucap dari bibir pria itu.


Sebenarnya Zio tak kalah resah dengan keadaan ini, ia sangat menginginkan Davina, namun ia tak memiliki keberanian untuk mewujudkannya.


Peperangan semakin hebat terjadi. Keinginan untuk memiliki Davina atau melepaskan gadis itu sama besar nya. Zio tak tau bagaimana caranya membangun kepercayaan dirinya untuk memiliki gadis itu.


🍁🍁🍁


"Oma, Davina boleh tanya sesuatu?" Davina mengunjungi rumah mama Zio dan Yara. Hubungan Davina dan Zio sedikit renggang beberapa hari ini. Davina hanya berbicara seperlunya pada Zio. Meski pria itu tetap rutin mengantar dan menjemputnya sekolah tetap saja seperti ada jarak yang memisahkan keduanya saat ini.


Davina selalu meminta langsung diantar pulang ke rumah tidak lagi menemani Zio di kantor seperti yang selalu ia lakukan selama ini. Sebisa mungkin ia mengurangi intensitas kebersamaan nya dengan Zio.


"Davina mau tanya tentang penyebab kematian orang tua Davina oma, oma tau nggak?" awalnya Davina merasa ragu namun karena ingin membuktikan kebenaran ucapan Zio tempo hari Davina harus mencari tahu. Sesuai usul dari Lea, Davina menemui mama Ayumi yang ia yakini mengetahui peristiwa 12 tahun yang lalu.


Davina melihat wajah mama Ayumi tampak bersedih, 12 tahun harusnya waktu yang sudah cukup lama untuk menyembuhkan luka. Namun sisah-sisah kepedihan itu tak bisa hilang sepenuhnya. Peristiwa itu begitu pahit untuk diingat namun tetap saja selalu terkenang


"Mereka meninggal karena mengalami kecelakaan" Ucap mama Ayumi dengan suara berat. Yah Davina samar-samar mengetahui orang tuanya memang mengalami kecelakaan, hanya saja ia ingin tau lebih banyak perihal kecelakaan itu karena pengakuan Zio yang mengatakan pria itu adalah penyebab mama dan papanya meninggal. "Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan ini sayang?" Mama Ayumi mengusap rambut Davina, gadis itu kini terlihat semakin sendu dan bersedih.


"Kenapa om Zio mengatakan bahwa dia adalah penyebab mama dan papa meninggal oma?" Tanya Davina kemudian. Mama Ayumi menghela nafas berat, wanita itu tampak tersenyum pahit.


"Karena om Zio yang menyetir mobil saat itu, ia tak berhasil mengelak saat sebuah truk melaju kencang ke arah mereka. Karena itu om Zio selalu merasa kalau dialah penyebab Sandi dan Danisya meninggal. Padahal itu semua murni karena kecelakaan. Polisi sendiri membebaskan nya karena Zio tidak terbukti bersalah. Kecelakaan itu terjadi karena sopir truk yang berkendara dalam keadaan mabuk" Hati Davina bergetar kala mengetahui penyebab kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya secara jelas setelah 12 tahun berlalu. Luka di hatinya kembali terasa basah.


"Om Zio merasa sangat bersalah, ia terus menganggap bahwa dialah penyebab kematian orang tuamu Davina. Kalau saja bukan karena kamu, Zio sudah mengakhiri hidupnya karena terlalu berat menanggung rasa penyesalan. Kamu satu-satunya alasan Zio melanjutkan hidupnya" Suara mama Ayumi terdengar berat menahan kesedihan.


Davina tercekat mendengar penjelasan mama Ayumi, keyakinan nya benar. Zio sama sekali tidak bersalah. Pria itu bukanlah penyebab kematian orang tuanya seperti pengakuan Zio padanya.


Davina merasa sedih membayangkan betapa tersiksanya Zio menjalani hidup dalam penyesalan. Perasaan pria itu terlalu halus hingga harus menanggung rasa bersalah atas peristiwa yang terjadi di luar kehendak dan kuasanya sebagai manusia.


"Apa Davina akan membenci om Zio setelah tau bahwa om Zio yang menyetir mobil saat kecelakaan orang tua mu sayang?" Tanya mama Ayumi dengan khawatir


Davina berusaha tersenyum dan meraih dan menggenggam tangan wanita yang sangat ia hormati itu.


"Mungkinkah Davina akan membenci orang yang sudah mengorbankan hidupnya selama 12 tahun untuk memberikan kebahagiaan pada Davina oma? Davina tau om Zio nggak salah, tapi om Zio harus menderita selama bertahun-tahun karena rasa bersalahnya itu"


"Terima kasih sayang, terima kasih karena kamu tak menghakimi dan menyalahkan nya" mama Ayumi memeluk Davina dengan perasaan haru. Ia mengira Davina akan marah mengingat gadis itu saat ini masih berusia belasan tahun, bisa saja ia salah pengertian dan menyalahkan Zio atas peristiwa 12 tahun yang lalu yang menjadikannya yatim piatu di usia nya yang masih sangat membutuhkan kasih sayang orang tua.


"Davina sangat menyayangi om Zio oma, om Zio selalu memastikan Davina tak merasakan kekurangan apapun termasuk kasih sayang, mana mungkin Davina akan tega menyalahkannya"


"Kami sudah berulang kali meyakinkan Zio bahwa dia nggak salah, tapi tetap saja rasa bersalah itu tak pernah bisa Zio hilangkan. Saat melihat kamu, Zio merasa sangat bersedih namun kamu juga menjadi kekuatan yang membuatnya bertahan hingga saat ini"


🍁🍁🍁