
"Selamat malam" Zio mencium kening Davina sambil merapikan selimut di tubuh gadis itu.
"Beneran nggak mau nemenin Davina tidur di sini?" Zio tersenyum masam mendengar kekasih kecilnya selalu berusaha menggodanya.
"Nggak sayang, bahaya!" Davina terkekeh, Zio begitu gigih menahan diri. Padahal mereka berada di bawah atap yang sama, Zio bisa melakukan apa saja padanya dengan bebas andai pria itu mau.
"Sekarang kita beneran pacaran kan om?" Mungkin jika dihitung, pertanyaan ini adalah pertanyaan ke seribu yang terucap dari bibir Davina. Seolah semua masih seperti mimpi, sepanjang perjalanan sepulang dari hutan pinus Davina sedikitpun tak melonggarkan pelukan nya pada tubuh Zio, dan terus mempertanyakan kepastian status mereka. Ia sangat takut Zio kembali berubah fikiran.
"Iya sayang" ucap Zio tulus.
"Beneran?" Davina mencari-cari kesungguhan di mata pria itu.
"Iya sayang kita pacaran sekarang" Jawab Zio lagi, ia mengerti kekhawatiran Davina.
"Sekarang tidur, jangan bicara lagi. Besok kamu harus sekolah"
"Mau nanya satu kali lagi boleh?" ucap Davina polos
"Boleh, mau tanya apa?"
"Kapan kita bisa tidur bareng kayak dulu lagi?" tanya Davina sambil mengulum senyum. Zio menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan ini.
"Setelah kita menikah" jawab Zio susah payah, entahlah ia tak yakin perjalanan ke depan akan mudah. Menikahi Davina sangat ia inginkan, namun semua masih terasa samar dan Zio masih belum berani membayangkannya terlalu jauh.
"Kapan kita akan menikah om?" tanya Davina bersemangat.
"Ssst tadi katanya satu pertanyaan aja, sekarang tidur ya" Zio tak bisa juga belum berani menjawab pertanyaan itu, ia perlu memikirkan banyak hal untuk sampai pada keputusan tersebut. Ia tak mau asal menjawab, takut semua akan menjadi masalah di kemudian hari.
"Ya udah deh, selamat malam pacarnya Davina" Ucap Davina, ia tersenyum berusaha mengusir resah atas jawaban Zio yang tak memuaskan hatinya. Davina seolah mampu membaca meski hubungan mereka sudah mengalami kemajuan namun Zio belum benar-benar bisa menghilangkan kecemasan di hatinya
"Iya selamat malam pacarnya om Zio yang sangat cantik" Zio terkekeh, ternyata menjalin kasih dengan remaja bisa mengubahnya menjadi sereceh ini, ia merasa berbunga-bunga hanya karena ucapan sederhana gadis itu.
"Davina cinta om Zio"
"Om Zio juga mencintai Davina"
Dengan berat hati akhirnya Zio meninggalkan kamar Davina menuju kamarnya. Pria itu sempat melayangkan senyum hangat pada Davina yang masih menatap ke arahnya sebelum pria itu menutup pintu kamar Davina.
Setibanya di kamar, pria itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya yang lelah juga otaknya dari pemikiran-pemikiran yang akan membuatnya resah.
Namun bayangan Davina tak mau beranjak, memaksa pria itu memikirkan hubungan mereka ke depan.
'Santailah sedikit Zio, hubungan kalian baru berjalan beberapa jam. Davina masih 18 tahun, nikmati saja dulu jangan berfikir terlalu berat' Zio mensugesti diri sendiri. Namun tetap saja ada kekhawatiran yang memaksa masuk dalam jiwanya, ia tau sekarang tak akan pernah bisa melepaskan Davina. Namun ia takut ada badai yang menghantam hubungan mereka dan ia tak berhasil menyelamatkan Davina dari rasa sakit akibat badai tersebut, sementara untuk dirinya ia sama sekali tak peduli.
Selisih usia mereka begitu jauh, ia takut tak bisa mengimbangi gadis itu. Zio benci saat fikiran dan kekhawatiran itu mengganggunya, namun ia juga tak bisa menepis semua rasa tak nyaman itu begitu saja.
Zio memaksakan dirinya untuk terlelap, mengusir semua fikiran yang mengganggunya hingga tiba-tiba bibirnya terangkat membentuk senyuman saat bayangan ketika ia dan Davina berciuman di hutan pinus tadi sore melintas. Hatinya menghangat, Zio mengeratkan pelukannya pada guling yang ada di sampingnya seolah ia tengah memeluk tubuh Davina seperti yang ia lakukan beberapa waktu lalu. Rasanya begitu menyenangkan, Zio berusaha mempertahankan ingatannya hingga ia terlelap. Berharap dengan mengingat momen indah itu mimpi buruk tak menyapanya malam ini dan ia bisa tidur nyenyak hingga pagi menjelang.
🍁🍁🍁
"Enggak, nanti kamu kerepotan mesti ganti rok dengan celana" Zio menggenggam jemari Davina dan menciumnya, hal itu berhasil membuat wajah Davina memerah.
"Teman-teman Davina sering kok om naik motor pake rok, lagian kan Davina kan pake daleman"
"Nggak boleh, paha kamu nanti ke mana-mana. Pasti banyak mata yang akan curi kesempatan untuk melihat" Tegas Zio, Davina tersenyum bahagia menyadari perhatian dari kekasihnya. Walaupun Zio memang selalu posesif padanya selama ini namun sekarang rasanya sangat berbeda. Davina merasa kali ini ada bumbu-bumbu cemburu yang terasa dari ucapan pria itu.
"Om Zio cemburu?" Tanya Davina malu-malu.
"Iya dong, kekasih mana yang rela pacarnya dilihatin banyak orang?" Jawab Zio cepat.
"Om Zio sweet banget, jadi makin cinta" ucap Davina polos. Ah wajah Davina begitu menggemaskan, sayangnya Zio harus menahan diri karena ada pak Sukri. Zio jadi berfikir untuk mulai belajar menghilangkan traumanya menyetir mobil agar ia bisa bermesraan dengan Davina kapanpun ia mau.
"Om lagi ngebayangin apa? kok senyum-senyum sambil ngelamun?" lamunan Zio buyar mendengar protesan Davina.
"Ngebayangin kemarin sore" Bisik Zio yang membuat wajah Davina memerah, ia memalingkan muka ke arah luar jendela untuk menutupi wajahnya yang terasa panas.
Zio tak tau saja semalam Davina kesulitan tidur karena terus membayangkan ciuman mesra keduanya.
"Sebenar nya om pengen ngelakuin kayak kemaren sore, tapi nggak enak ada pak Sukri" bisik Zio lagi. Ia begitu puas berhasil menggoda Davina.
"Om Zio mesum" Davina balas berbisik.
"Davina nggak suka ya?" Zio pura-pura memasang wajah sedih.
"Su-suka kok om" jawab Davina panik, tawa Zio pecah seketika melihat ekspresi gadis itu.
"Om Zio nyebelin" Davina berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Zio, namun pria itu tak membiarkannya.
"Jangan dilepas sayang" Zio kembali mencium tangan Davina yang berhasil meluluhkan gadis itu. 'Dasar lemah!' Gerutu Davina, ia sadar dirinya kini- tenggelam semakin dalam pada pusaran cinta pria dewasa itu.
"Belajar yang rajin, jangan dekat-dekat sama cowok-cowok ingusan yang mencoba mendekati kamu" ucap Zio saat mobil mereka berhenti di depan gerbang sekolah Davina.
"Iya, om juga jaga hati dan jaga mata dari tante Safira atau pegawai-pegawai om Zio yang kegenitan" ucap Davina dengan wajah serius.
"Siap sayang" Zio mencium kening dan pipi Davina.
"Untuk penambah semangat belajar" Ucap Davina setelah berhasil mencuri kecupan di bibir Zio saat melihat pak Sukri lengah. Gadis itu bergegas membuka pintu meninggalkan Zio yang masih terpaku atas tindakan Davina yang tiba-tiba. Zio tak bisa menahan senyuman sambil meraba bibirnya.
🍁🍁🍁
Sorry guys, kemaren benar-benar nggak sempat buat up.