
Davina merasa begitu pilu ketika bangun tidur pagi ini. Biasanya ia selalu bersemangat bangun dan bertemu Zio. Semalam Zio menemaninya lewat panggilan Video sampai ia terlelap namun rasanya tetap saja berbeda, seperti ada yang hilang dalam dirinya.
Pandangan Davina beralih saat mendengar notifikasi pesan dari ponselnya. Matanya berbinar mendapati nama kekasihnya di sana.
"Selamat pagi princess, uda bangun belum"
"Baru aja bangun, om Zio uda lama bangun nya?" Davina ingin menelfon, tapi takut Zio sedang tidak bisa diganggu.
"Dari satu jam yang lalu sayang, sekarang om Zio baru akan sarapan. Mau sarapan bareng?"
Senyum lebar terbit dari bibir cantik Davina.
"Iya mau, tapi kita uda nggak bisa sarapan bareng lagi π₯Ίπ" Balas gadis itu, air mukanya berubah murung.
Davina sedikit kaget karena ponselnya kembali berbunyi namun kali ini bukan pesan, melainkan panggilan video. Tanpa menunggu Davina segera mengangkatnya.
Hati Davina menghangat mendapati wajah tampan Zio tampak di layar ponselnya, pria itu terlihat segar dan tampan. Sepertinya sudah siap untuk berangkat ke kantor.
"Buruan cuci muka dan gosok gigi ya, abis itu kamu turun ke ruang makan. Bibi pasti udah siapin sarapan. Kita sarapan bareng" Ucap pria itu sambil menunjukkan sarapan miliknya.
"Ayo buruan sayang, kenapa malah ngelamun? om Zio belum akan mulai sarapan nya kalo kamu masih belum siap" Davina yang sempat terpaku segera beranjak menuju kamar mandi dan melakukan apa yang pria itu perintahkan. Zio menemaninya, sepertinya Zio tak ingin Davina terlalu merasakan ketiadaan nya di rumah itu makanya ia melakukan semua ini.
"Om, Davina mau ketemu om Zio. Boleh nggak Davina ke kantor?" Lirih gadis itu saat ia tengah melangkah menuju meja makan. Biasanya pagi-pagi begini Zio sudah menunggunya di sana, tapi sekarang kursi yang biasa diduduki Zio terlihat kosong, hal itu sontak mengalirkan kesedihan pada diri Davina.
"Om Zio hari ini banyak kerjaan sayang, nanti kamu malah bosan. Tapi tenang aja nanti sore sehabis pulang dari kantor om Zio akan ke sana." Mata Davina berbinar, ia merasa sedikit bersemangat.
"Beneran ya om?" tanya gadis itu.
"Iya sayang, ayo sekarang sarapan ya. Om Zio bentar lagi harus berangkat. Ada rapat yang harus om Zio hadiri pagi ini" ucap pria itu yang langsung diangguki Davina dengan senyum mengembang.
Keduanya menikmati sarapan berdua seperti yang selalu mereka lakukan selama ini, hanya saja kebersamaan mereka hanya lewat sambungan telefon. Meski tak sebahagia biasanya tapi hal itu sudah cukup mengobati sedikit kesedihan keduanya. Setidaknya mereka masih bisa saling menatap meski terpisah jarak.
"Makan yang banyak sayang, susunya juga jangan lupa dihabiskan" Pria itu selalu penuh perhatian, membuat Davina yakin bahwa sangat mustahil ia akan bisa melepaskan Zio dan melupakan perasaan nya seperti yang mama Ayumi minta.
Mengingat wanita paruh baya yang sangat ia sayangi itu membuat hati Davina kembali, dulu ia berfikir menghadapi mama Ayumi sangat mudah. Ternyata anggapannya salah, pendiriannya begitu sulit dipatahkan.
"Sayang..."
Davina terjaga, Zio terlihat sedang menatap ke arahnya.
"Iya om?"
"Davina nggak kuat kayak gini om, segera yakinkan oma ya?" mohon Davina penuh harap. Zio mati-matian menekan rasa sesak melihat wajah sendu kekasihnya, ingin sekali memeluk gadis kecilnya untuk menenangkan Davina dari keresahan hati.
"Iya, percayakan sama om Zio sayang"
πππ
"Aku turut prihatin Vin, nggak nyangka oma kamu setega itu" Lea menatap iba pada sahabatnya yang biasanya ceria kini terlihat begitu suram.
Tadinya Davina tak ingin ikut disibukkan dengan persiapan acara perpisahan mereka nanti, ia ingin menghabiskan hari-harinya bersama Zio. Namun karena kondisinya sekarang berbeda, Zio meminta Davina ikut mengurus agar gadis itu memiliki kegiatan untuk mengalihkan perasaan sedihnya.
Karena itu meski berat akhirnya ia datang ke sekolah, hal itu lumayan menghibur walaupun tidak sepenuhnya
"Sebenarnya oma nggak sepenuhnya salah Lea, oma ngelakuin itu juga karena dia terlalu sayang sama aku dan om Zio. Oma cuma belum percaya bahwa kami benar-benar saling mencintai sehingga oma khawatir hubungan kami tidak akan berhasil dan berakhir dengan saling melukai" Davina sama sekali tak bisa membenci mama Ayumi meski wanita itu berusaha mematahkan harapan nya. Ia bisa merasakan luapan kasih sayang dari mama Ayumi untuknya.
"Duh oma kamu itu rugi banget nggak ngerestuin hubungan kalian. Dia melewatkan kesempatan untuk mendapatkan menantu yang baik. Padahal kamu uda jelas-jelas disakiti tapi tetap aja berfikir positif tentang dia. Kalau orang lain mungkin uda disumpahin abis-abisan tu calon mertua" ucap Lea gemas.
"Oma Ayumi nggak nyakitin aku kok Le, ya walaupun nggak munafik aku sedih banget sama penolakan dia. Tapi balik lagi, aku yakin oma ngelakuin ini karena dia nggak mau aku sama om Zio saling menyakiti dan melukai. Yang harus kami lakukan sekarang ya berusaha meyakinkan oma, aku yakin nanti oma akan memberikan restunya pada kami kalau oma tau perasaan yang kami miliki saat ini benar-benar tulus, bukan hanya hasrat sesaat" Davina berusaha memposisikan dirinya pada diri mama Ayumi, ia berusaha menepis prasangka buruk yang akan membuatnya membenci wanita yang sudah melahirkan Zio, pria yang begitu ia cintai.
"Ya semoga berhasil Vin, aku cuma bisa bantu doa. Nggak bisa bantu yang lain"
"Iya Le, itu uda lebih dari cukup kok. Makasih ya Le, uda mau jadi pendengar yang baik buat aku" ucap Davina tulus.
"Sama-sama itulah gunanya sahabat. ya ampun geli banget aku tu ngomong kayak gini" Ucap Lea dengan ekspresi geli yang membuat tawa Davina pecah.
"Eh btw si Tomi cari-cari kamu terus tau nggak. Dia nelfonin aku mulu, sumpah ganggu banget tuh orang" Gerutu Lea.
"Jangan-jangan Tomi suka sama kamu Le, dia pura-pura nanyain aku padahal emang pengen nelfon kamu" Davina terkekeh melihat wajah Lea yang terlihat kesal.
"Enak aja, Emang pas aku cek nomor kamu nggak aktif kok" Davina ingat saat Zio mematikan ponselnya ketika mereka melakukan liburan singkat beberapa hari yang lalu. Untung saja Zio mematikan ponselnya, kalau tidak liburan nya dan Zio pasti akan sangat terganggu oleh teror Tomi. Walaupun pada akhirnya liburan itu tetap terganggu dengan keberadaan Samuel.
"Tomi buat kamu aja Le, aku nggak suka sama anak kecil" Ucap Davina santai. Wajah tampan Zio terbayang di benaknya, rasa rindu membeludak memenuhi dadanya. Ia rindu aroma tubuh dan sentuhan liar pria itu.
"Tau deh yang doyannya om-om. Yang lebih tua setahunan aja masih dianggap anak kecil" Ledek Lea.
πππ
Kenapa ya, kalo Zio lagi khilaf komennya banyak. Sementara kalo nggak ada adegan 'iya-iya' komennya sepi π€π€ππ