
Mata Zio sulit terpejam, otaknya dipenuhi bayang-bayang saat ia mencium Davina. Bahkan rasa bibir gadis itu seakan terus tertinggal di bibirnya.
Zio mengumpati dirinya yang mengungkapkan penyesalan pada Davina namun diam-diam ia terkenang dan sulit mengenyahkan apa yang sudah terjadi.
Zio terus berbalik ke kanan dan ke kiri mencari posisi nyaman, namun karena bukan tubuhnya yang bermasalah melainkan jiwa dan perasaan nya ia tak kunjung menemukan posisi yang bisa mengusir segala fikiran yang berkecamuk.
Zio akhirnya bangkit dari posisinya, ia begitu tak tenang. Wajah Davina menari-nari tak kunjung pergi.
Zio turun dari ranjang, mengikuti kata hati yang memintanya kembali ke kamar Davina. Sepertinya ia tak akan tenang jika belum melihat wajah gadis itu lagi.
Setibanya di sana ia mendapati Davina sudah terlelap. Ia duduk di tepi ranjang dan menatap wajah damai gadisnya. Zio tersenyum getir, pria itu sadar semakin ia meminta hatinya untuk tau diri dan menghapus perasaan pada Davina semakin kuat pula rasa itu mengakar. Cintanya semakin kokoh dan tak ingin beranjak.
"Maafkan om Zio sayang" bisik pria itu, mata Zio beralih pada potret Sandi dan Danisya yang berada di nakas. Zio meraih figura tersebut dan mengusap wajah dua orang yang sangat ia hormati.
"Maaf sudah mengkhianati kepercayaan kalian, aku tau kalian pasti kecewa. Kalian mempercayakan Davina untuk aku jaga tapi aku malah menaruh hati padanya. Maafkan aku yang tidak tau diri dan lancang mencintai putri kesayangan kalian" Keluh Zio. Ia berharap di atas sana Sandi dan Danisya mengerti bahwa ia tak bermaksud seperti ini. Perasaan ini hadir begitu saja tanpa ia duga sama sekali.
Setelah bercengkrama cukup lama Zio kembali meletakkan figura itu ke tempat semula. Pria itu kembali menatap pada Davina yang lelapnya tak terusik dengan kehadirannya.
"Apa yang harus om lakukan dengan perasaan ini? bagaimana seandainya perasaan ini tak mau hilang?" Zio terus menatap wajah cantik Davina yang semakin menumbuh suburkan cintanya. Ia merasa bahagia sekaligus sakit yang bersamaan ketika memandangi nya.
🍁🍁🍁
"Om, Samuel kirim pesan katanya mau jemput Davina sepulang sekolah nanti. Om kalau bisa jemput Davina ya? Davina takut karena Samuel bilang tetap akan menjemput meskipun Davina menolak" ucap Davina.
"Jangan berkata seperti itu Davina. Kan om Zio uda bilang semalam, jangan takut meminta apapun pada om. Karena hidup om Zio memang untuk Davina, tanpa Davina meminta om Zio memang akan selalu mengantar dan menjemput Davina seperti biasa. Tidak akan ada yang berubah" ucap Zio yang merasa terganggu dengan pemilihan kalimat gadis itu. Selain itu Zio juga resah mendengar Samuel ingin menjemput Davina.
Ternyata Samuel benar-benar serius untuk mendekati Davina, entahlah ia semakin tak rela saja.
Sementara Davina terpana beberapa saat mendengar kata-kata yang Zio ucapkan. Ia mulai berandai-andai jika 'hidup om Zio memang untuk Davina' bolehkah ia meminta hati pria itu juga?
"Makasih om" lirih gadis itu. Ia menundukkan wajahnya, melihat wajah Zio membuatnya membayangkan kejadian tadi malam yang terasa membakar tubuhnya. Setiap detik ia kesulitan mengusir bayangan indah itu. Meski Zio meminta nya untuk melupakan namun Davina tak mampu untuk melakukan nya.
"Jangan berterima kasih, itu sudah kewajiban om Zio sayang" ucap Zio.
Mereka melanjutkan sarapan tanpa bersuara, rasa canggung nyatanya tak bisa mereka hilangkan begitu saja, apa yang sudah terjadi meninggalkan jejak yang begitu melekat pada hati dan fikiran mereka.
"Kalau kirim chat sering om, tanya lagi apa segala macam. Tapi nggak pernah Davina balas. Telfon juga nggak Davina angkat. Tadi pagi dia kirim chat bilang mau jemput Davina juga nggak Davina balas" Zio melihat keresahan di wajah gadis itu. Ia menyesal menerima tawaran pak Beni jika akhirnya hanya membuat hidup Davina tak tenang.
"Kalau soal laki-laki yang kamu sukai itu gimana?" Davina memberanikan diri menatap pada Zio.
"Kayak nya dia nggak suka sama Davina om, mungkin di matanya Davina cuma anak kecil yang dia anggap sebagai keponakan. Davina mau belajar bersikap lebih dewasa tapi semalam om Zio malah bilang sikap Davina aneh" Ucap Davina yang membuat Zio terkejut.
"Jadi kamu ingin berubah karena pria itu?"
Davina mengangguk. Ia sengaja menceritakan hal itu untuk mengetahui pendapat Zio tentang apa yang ia lakukan.
"Sayang, jangan mengubah dirimu hanya untuk pria yang kamu sukai. Pria yang tulus akan mencintai kamu apa adanya, mencintai semua yang ada pada dirimu dengan kondisi terburuk kamu sekalipun. Kalo dia nggak bisa menerima kamu itu artinya dia bukan pria yang tepat buat kamu, suatu saat pasti akan ada pria yang mencintai kamu dengan tulus. Jadi diri sendiri aja sayang. Berubah menjadi lebih dewasa memang nggak buruk tapi jangan dipaksakan kalo kamu nggak nyaman, biarkan kedewasaan itu tumbuh secara alami seiring waktu." ucap Zio. Meski berat untuk mengatakannya namun ia mengakui bahwa ia cemburu karena Davina rela berubah demi laki-laki yang dia sukai itu.
"Gitu ya om? jadi kalo emang dia nggak suka sama Davina nyerah aja ya om? nggak usah berusaha buat narik perhatiannya dia?" Ah rasa cemburu Zio semakin menjadi mendengarnya.
"Nggak usah, kamu kayak gini aja uda istimewa. Lagian kamu masih 18 tahun kenapa udah resah aja perihal asmara" Zio sulit menjaga intonasi bicaranya agar biasa saja akibat cemburu yang menderanya.
"Om mau ketemu sama pria itu Davina, seistimewa apa dia sampai kamu ingin sekali bersama dia" lanjut Zio.
Davina terpana melihat reaksi Zio, hatinya tergelitik dan mulai menerka-nerka perasaan Zio yang sebenarnya.
"Dia tampan, dewasa, bertanggung jawab pokoknya istimewa om" Davina sengaja bercerita dengan ekspresi berbunga-bunga.
"Kapan kamu bisa bawa dia ketemu sama om Zio" Hati Davina semakin terlonjak saat melihat ekspresi tak suka yang Zio tunjukkan saat ia memuji pria yang ia sukai. Entah akan seperti apa andai Zio tau bahwa pria yang Davina sukai itu adalah dirinya sendiri.
"Sebenarnya om Zio uda sering kok melihat dia, om Zio nggak nyadar aja" Davina semakin bersemangat membuat Zio penasaran. Karena pembahasan ini kecanggungan yang sempat menyelimuti Davina dan Zio seolah hilang tak berbekas.
"Sering melihat? di mana?" tanya Zio tak sabar.
"Om Sarapan Davina udah abis. Ini juga uda siang berangkat yuk. Nanti lanjutin lagi, kalau uda waktunya om akan tau siapa orang nya"
🍁🍁🍁