My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 61



Davina dan Zio sedang menikmati makan malam berdua di privat room sebuah restoran mewah saat ponsel Zio berbunyi. pria itu mengerutkan keningnya saat mendapati nama Safira.


"Siapa yang telfon om?" tanya Davina heran karena Zio meletakkan ponselnya kembali tanpa mengangkatnya.


"Safira sayang" Jawab Zio, ia kembali fokus menyantap hidangan makan malam.


"Angkat om, siapa tau penting" Davina berusaha menekan egonya, meski ia cemburu namun entah mengapa ia tak tega pada Safira jika kekasihnya tak menggubris panggilan dari gadis itu.


"Safira bukan sekretaris mas lagi, kayaknya nggak ada yang penting sayang"


"Atau siapa tau tante Safira butuh pertolongan" Davina meraih ponsel Zio yang masih berdering dan segera mengangkat panggilan itu sebelum deringnya berakhir.


"Ayo ngomong" Bisik Davina sambil menyodorkan ponsel Zio yang sudah ia loudspeaker kan terlebih dahulu.


"Ya ada apa Safira?" Tanya Zio tanpa basa basi.


"A-apa aku mengganggu pak?" Tanya Safira terbata.


"Aku sedang makan malam berdua dengan Davina. Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Zio sambil menatap ke arah Davina yang terlihat begitu awas menyimak obrolan Zio dan Safira.


"A-aku cuma memberi kabar bahwa besok aku akan menikah pak" Zio tersenyum melihat Davina menghela nafas lega ketika Safira memberitahu perihal pernikahan nya.


"Oh ya? selamat Safira. Aku dan Davina turut berbahagia untuk mu" Karena Safira bukan lagi bawahannya Zio, kali ini suara Zio terdengar santai dan bahasanya juga tak terlalu formal.


"Te-terima kasih, tapi aku sedang bimbang" ucap Safira di ujung sana yang membuat kening Zio mengernyit.


"Ada apa?"


"Apa keputusan untuk menerima perjodohan ini sudah benar?" Safira seperti sedang bergumam.


"Apa pria itu baik? ah tidak mungkin orang tua mu menjodohkan kamu dengan pria yang tidak baik. Lagipula pernikahan mu akan berlangsung besok, sudah bukan waktunya lagi untuk mempersoalkan keputusan yang sudah kamu ambil sebelumnya" timpal Zio.


"Tapi tetap saja aku tidak yakin pada keputusan ini. Apa yang harus aku lakukan pak?" Zio tidak suka mendengarkan keluh kesah wanita lain selain ibunya, Davina dan Yara namun ia berusaha berempati mengingat Safira bekerja dengan sangat baik selama ini, apalagi Safira sepertinya begitu kalut sehingga Zio masih berupaya mendengarkan dan tak langsung mematahkan obrolan mereka.


"Aku tidak tau Safira, kamu yang paling mengerti kondisinya. Jadi aku tak bisa memberi saran apapun" ucap Zio.


"Baiklah pak, terima kasih. Maaf sudah mengganggu, telfon nya saya tutup" ucap Safira.


"Sekali lagi selamat untuk pernikahan kamu, yakinlah pasti akan ada banyak kebaikan yang akan kamu temukan di dalam nya nanti" balas Zio.


"Baik pak terima kasih" Zio meletakkan ponselnya ketika Safira mengakhiri sambungan telfon nya.


"Mungkin tante Safira memberitahukan om Zio masalah pernikahannya berharap om Zio menghentikan pernikahan dan membawa kabur tante Safira dari sana" Ucap Davina yang disambut tawa oleh Zio.


"Om nggak ada perasaan sedih saat mendengar tante Safira akan menikah?" Tanya Davina menyelidik.


"Kenapa mas Zio harus bersedih? mas malah bersyukur Safira sudah menemukan pria yang akan mendampinginya" ucap Zio.


"Yah siapa tau aja om memiliki perasaan berbeda pada tante Safira dan perasaan itu baru om Zio sadari saat ia akan menikah" ucap Davina yang kembali disambut tawa oleh Zio.


"Kamu kebanyakan nonton drama sayang, cerita di serial jangan dibawa ke kehidupan nyata, walaupun ada beberapa yang nyambung tapi lebih banyak yang halu nya" ucap Zio dengan gemas.


"Beneran om nggak ada rasa apa-apa sama tante Safira? kalian lama loh sama-sama" pancing Davina. Sepertinya gadis itu belum ingin menyerah untuk mengorek isi hati Zio yang sebenarnya.


"Tapi sama kamu nya lebih lama, hati mas Zio juga uda tertawan sepenuhnya sama kamu." Ucap pria itu.


"Nggak percaya" Namun Davina mengucapkan nya sambil mengulum senyum, ia sangat suka menggoda Zio.


Zio beranjak dari kursinya lalu menghampiri Davina dan memeluk kekasihnya itu sembari menciumi wajah gadis itu.


"Mas Zio mencintai kamu sayang, cuma kamu dan hanya kamu, hanya Davina, Davina sayangku!" ucap Zio yang membuat Davina tergelak.


🍁🍁🍁


"Kak Samuel?" Tatapan Samuel membuat Davina bergidik.


"Makan sama kakak yuk" Samuel meraih tangan Davina tanpa basa basi.


"Aduh kak maaf, Lea masih belum selesai belanjanya" Davina berusaha melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh Samuel. Ia merasa sangat ketakutan, sikap Samuel juga terlihat mengerikan.


"Jangan maksa kak" Lea ikut membantu Davina melepaskan jari-jari Samuel yang melingkar di pergelangan tangan Davina.


Bagaimanapun Lea merasa bertanggung jawab pada sahabatnya karena ia yang meminta Davina menemaninya belanja kebutuhan liburan yang akan berlangsung 2 hari lagi.


"Aku hanya ingin mengajaknya makan berdua" Ucap Samuel dengan tatapan tajamnya pada Lea.


"Tapi Davina perginya berdua sama aku. Jadi kami nggak boleh pisah dong" Balas Lea tak mau kalah.


"Lepasin nggak? atau aku panggil satpam atau aku bisa teriak mempermalukan kamu di sini" Ancam Lea.


Davina lega karena ancaman Lea berhasil buat Samuel melepaskan tangan nya.


"Setelah ini ikut aku, aku mau bicara sama kamu Davina" Ucap Samuel.


"Emangnya kakak mau bicara apa? aku sama Lea masih lama. Lea belum dapat apa yang dia butuhin" Demi apapun ia tak akan mau mengikuti kemauan Samuel, ia merasa terancam dengan keberadaan pria itu.


"Nggak apa-apa. Kakak akan tunggu" ucap pria itu. Davina dan Lea saling berpandangan. Lea merasa bersalah melihat ketakutan di mata Davina, ia menyesal meminta Davina menemaninya.


"Yakin sanggup nemenin cewek belanja? kaki kamu bisa patah" ucap Lea dengan tatapan meremehkan.


"Sebanding dengan apa yang akan aku dapatkan nanti" Jawab Samuel dengan senyum menyeringai pada Davina yang semakin bergidik.


"Emang apa yang bakalan kamu dapat?" tanya Lea lagi. Sebenarnya Lea tau apa yang Samuel maksud, namun ia ingin mendengar secara jelas dari mulut pria itu.


"Davina" ucapnya.


"Mak-sud kakak apa?" tanya Davina, ia menatap tak suka pada Samuel meski hatinya ketar ketir menahan rasa takut.


"Maksud aku ya makan dan mengobrol berdua sama kamu" Jawab Samuel.


"Nggak bisa berduaan aja, aku harus ikut. Enak aja masa Davina doang yang ditraktir aku enggak. Padahal kan kami datang nya berdua jadi sampe pulang tetap harus berdua" Protes Lea dan tersenyum penuh arti pada Davina.


"Aku hanya ingin berdua dengan Davina" ucap Samuel, pria itu tersenyum sinis pada Lea.


"Bacot ih" Lea menarik tangan Davina untuk melanjutkan mencari barang-barang yang ia butuhkan sambil mencari cara agar bisa kabur dari Samuel yang mengikuti mereka dari belakang.


🍁🍁🍁


Guys, ada undangan nih dari Davina dan Zio.


Besok mereka mau menikah kalo nggak hujan.


Siapin amplop yang tebal yaa...


☺️🀣


Btw katanya cobaan orang yang mau menikah itu banyak ya, salah satunya bermunculannya para mantan atau gebetan πŸ€”πŸ€”


❀️