My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 37



Zio kehilangan kata, fikiran nya berkecamuk membayangkan Davina melakukan apa yang ia sebutkan itu bersama pria lain. Sungguh Zio tak bisa membiarkan hal itu terjadi, hatinya tegas menolak.


"Jangan lakukan itu Davina" ucap Zio dengan tatapan resah.


"Kenapa om? Davina kan uda dewasa. Uda saatnya Davina punya pacar seperti yang sering om Zio katakan dulu" balas Davina tanpa rasa bersalah.


"Pokoknya jangan, hentikan pembahasan itu Davina. Otak om Zio seperti akan pecah mendengarnya" Tegas Zio.


"Kita cari tempat untuk bersantai ya?" ucap Zio sebelum Davina membalas ucapannya. Davina terpaksa mengangguk. Zio mengajak Davina kembali berjalan mencari tempat untuk bersantai.


Zio melihat ada rumah pohon yang sedang kosong tak ada pengunjung yang memilih bersantai di sana.


"Naik ke situ mau?" tanya Zio


"Mau om" Jawab Davina tampak bersemangat. Zio berjalan di belakang Davina, ia membantu gadis itu menaiki beberapa undakan tangga dengan memegangi pinggang Davina. Ia benar-benar menjaga gadis itu, takut Davina terpeleset dan terjatuh.


"Di sini Pemandangannya keren om, kayaknya bisa lihat sunset" Seru Davina girang setibanya mereka di atas. Zio tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Davina.


Keduanya duduk bersisian. Dari ketinggian mereka dapat melihat hamparan hutan pinus yang menghijau. Di ufuk langit tampak berkilau jingga menandakan senja mulai turun.


"Om coba deh bayangin saat menikmati keindahan ini bersama orang yang spesial. Pasti rasanya sangat luar biasa" ucap Davina.


"Om nggak perlu membayangkannya lagi sayang, karena saat ini om Sedang menikmati suasana ini bersama orang yang sangat spesial" Ucap Zio dengan tatapan dalam yang menggetarkan hati Davina. Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Tapi spesialnya Davina di hati om dalam arti yang berbeda. Kita terhubung dalam ikatan kekeluargaan, om dan keponakan atau ayah dan putrinya. Sementara yang Davina maksud adalah hubungan spesial antara dua orang laki-laki dan perempuan yang saling mencintai." Davina tersenyum getir.


"Bukankah kita juga seperti itu? Om mencintaimu dan kamu juga demikian kan?" Davina tercekat, ia menatap penuh tanya pada Zio. Gadis itu berusaha menelaah maksud dari ucapan Zio tersebut.


"Tapi bukannya om selalu berusaha menepis perasaan itu? Om nggak mau perasaan itu ada diantara kita kan?" Ucap Davina penuh tanya, tapi tak kunjung ada jawaban dari pria itu. Zio hanya terpaku menatap pada gadis itu.


"Om Zio terlalu takut pada hal yang nggak seharusnya. Bisa nggak om memandang Davina sebagai wanita yang om cintai dan ingin om miliki? Bukan sebagai seorang gadis yang harus om Zio jaga dan sayangi karena rasa tanggung jawab dan penebus dosa atas kematian mama dan papa? Om tau kan om nggak salah dalam peristiwa itu? Tapi kenapa om harus menyiksa diri dengan rasa bersalah hingga akhirnya sekarang bukan hanya om Zio yang menderita, tapi Davina juga tersiksa karena harus dipaksa membunuh rasa cinta yang Davina miliki pada om Zio." Keluh Davina.


"Kalo emang om Zio cinta sama Davina, bisa nggak om Zio mencintai Davina tanpa beban apapun? Bisa nggak om bersikap egois sekali saja demi Davina? bisakah cinta kita saling bertaut om? lepaskan semua rasa yang tak seharusnya. Berdamailah dengan masa lalu dan mari jalani hubungan ini dengan bahagia. Ayolah om buatlah semua menjadi mudah. Davina nggak mau menghapus perasaan ini, Davina nggak bisa om!" ucap Davina penuh permohonan.


Tatapan mata Davina yang berkaca-kaca membuat Zio tak berdaya. Ia meraih wajah sendu gadis itu dengan kedua tangannya.


"Om sangat mencintai kamu sayang, tapi om takut saat status kita sudah berubah om malah menyakitimu dan tak bisa membahagiakan mu seperti sebelumnya. Kamu tau dalam sebuah hubungan akan banyak sekali hambatan yang akan kita hadapi ke depan nya" ucapan cinta Zio terasa amat menggetarkan, kehangatan mengisi setiap sel tubuh Davina.


"Kita bisa menghadapinya bersama om, jangan menakutkan hal yang belum terjadi. Asal bersama om Zio, Davina merasa akan lebih mudah menghadapi dunia. Davina yakin mama dan papa di atas sana juga akan sangat bahagia karena putri kesayangan mereka sudah berada di tangan yang tepat. Nggak ada laki-laki manapun yang bisa membahagiakan Davina selain om Zio" rayu Davina lagi, gadis itu bisa melihat masih ada keraguan di mata pria itu.


"Davina sangat mencintai om Zio" lirih Davina yang membangkitkan rasa yang menggebu di dada Zio. Pancaran mata Davina membuatnya tak bisa menahan perasaan nya lebih lama lagi.


Zio mendekatkan wajahnya dan menatap dalam pada gadis itu.


"Om juga sangat mencintaimu sayang" bisik Zio sebelum menyatukan bibir keduanya, Davina memejamkan mata setetes air mata jatuh di sana. Hatinya bergetar, rasa haru dan bahagianya tak terkata. Gadis itu meresapi sentuhan dan ungkapan cinta dari Zio dengan tubuh yang meremang, darahnya terasa mengalir dengan cepat.


Zio memperdalam ciumannya, dadanya terasa sesak menyadari bahwa ia semakin tak bisa melepaskan gadis ini, rasa ingin memiliki Davina semakin kuat. Rasanya tak sanggup untuk terus berpura-pura dan menepis perasaan nya.


Di bawah langit senja dan hembusan angin yang menyapa, Zio meyakinkan diri tentang rasa cintanya pada Davina untuk segera ia wujudkan dalam sebuah ikatan nyata. Benar kata Davina untuk kali ini saja ia ingin egois. Mungkin 12 tahun sudah cukup baginya untuk menyiksa diri dengan tenggelam dalam rasa bersalah. Bolehkah ia mencukup kan hukumannya sampai di sini saja?


Rasanya tak apa jika kali ini ia memilih untuk bahagia."Kak Sandy dan kak Danisya, izinkan aku menjaga Davina dalam ikatan yang berbeda. Aku tetap pada janjiku untuk menjaga dan membahagiakannya meski hubungan kami sudah berubah. Aku sangat mencintainya. Izinkan aku untuk memilikinya" Bisik Zio di dalam hati seiring sesapan nya yang semakin dalam dan rengkuhannya pada tubuh Davina yang semakin erat.


"Om Zio sangat mencintaimu" Bisik Zio setelah pertautan bibir keduanya terlepas. Ia mengusap bibir Davina yang basah.


"Davina juga sangat mencintai om Zio" Balas gadis itu. Rasanya seperti mimpi bisa mendengar ungkapan cinta tanpa keraguan dan kekhawatiran di mata pria itu. Kali ini tatapan mata Zio terlihat tulus dan hangat.


Zio kembali membenamkan bibirnya menyelimuti bibir Davina dengan bibirnya.


🍁🍁🍁


Guys pada nungguin nggak? 😀😀


sorry kemarin cuma bisa up 1 chapter, mungkin hari ini dan beberapa hari ke depan juga cuma bisa 1 chapter. Author nya lagi ada kerjaan di luar kota, nggak bisa fokus nulis.


🥰🥰🥰