My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 49



"Kalian dari mana?" Zio tercekat saat mendapati keberadaan mamanya di rumah. Dada Zio bergemuruh, apalagi wajah mama Ayumi terlihat dingin. Zio memang berniat untuk menyelesaikan masalah ini dengan mamanya namun ia tak menyangka akan secepat ini. Bahkan ia dan Davina baru tiba dari perjalanan mereka.


"Oma, kapan datang? oma udah lama?" Davina langsung menghambur memeluk manja mama Ayumi seperti yang sering ia lakukan selama ini.


"Sejak kemarin oma bolak balik datang ke sini tapi kalian nggak ada, nomor kalian nggak ada yang bisa dihubungi. Kalian dari mana? oma sangat mengkhawatirkan kalian" Zio lega meski pria itu tau sang mama menyimpan kekesalan namun mama Ayumi tetap bersikap baik pada Davina.


"Om Zio ngajak Davina liburan, karena Davina abis ujian. Biar otak Davina kembali fresh oma" Ucap Davina dengan ceria. Zio tersenyum melihat keakraban mamanya dengan Davina, sayang nya mama Ayumi menentang hubungan mereka. Zio tau hal itu karena mamanya sangat menyayangi Davina dan menganggap gadis itu sebagai cucunya. Wajar saja jika sang mama begitu sulit menerima kenyataan bahwa ia dan Davina menjalin kasih. Mungkin mama Ayumi tak siap dengan berbagai perubahan nantinya.


"Oh gitu, gimana uda nggak stres lagi kan?" Davina menggeleng.


"Liburannya sangat menyenangkan oma, walaupun cuma 2 hari tapi lumayan bikin semangat lagi. Oh ya oma kok baby Arsen sama kak Yara nggak ikut?" tanya Davina. Biasanya Yara selalu menemani mama Ayumi saat datang ke rumah mereka.


"Kak Yara sedang ke rumah mertuanya, kakek nenek nya Arsen dari pihak suaminya Yara sudah kangen." Ucap mama Ayumi pada Davina. Lalu wanita itu kini beralih menatap putranya.


"Sudah saatnya Zio" wajah Zio berubah tegang. Ia sangat mengerti apa yang mamanya maksud.


"Sayang, kamu masuk kamar dulu ya. Om Zio mau bicara sama oma dulu" ucap Zio, Davina tampak penasaran dengan apa yang mama Ayumi maksudkan.


"Davina tetap di sini Zio, dia harus tau dan ini sudah waktunya" ucap mama Ayumi.


"Nggak ma, kita bicara berdua dulu. Belum saatnya Davina tau" mohon Zio, ia belum siap jika mamanya ingin membahas perihal hubungan nya dengan Davina dan juga kepindahannya dari rumah ini. Ia tak akan sanggup melihat kekasihnya bersedih.


"Cepat atau lambat Davina akan tau Zio, lagipula kamu meminta mama tak membahas ini hanya sampai Davina selesai ujian kan? sekarang apalagi yang kamu takuti" Keduanya terus berdebat membuat Davina semakin kebingungan.


"Om Zio, oma, maaf Davina lancang dan ikut campur, tapi kalau boleh tau ada apa sebenarnya? Davina bingung kalian sedang membahas apa" potong Davina yang menghentikan perdebatan ibu dan anak tersebut.


"Sayang, kamu masuk kamar dulu aja ya. Nanti kita bahas berdua oke?" bujuk Zio.


"Davina di sini aja, oma mau bicara pada kalian berdua" ucap mama Ayumi final.


"Ma, please. Biar Zio yang memberitahu Davina nanti" Zio memohon.


"Begini Davina, mulai sekarang om Zio harus pindah dari sini" Tidak hanya Davina, Zio juga terlihat begitu shock. Ia tak menyangka sang mama langsung mengatakannya tanpa memikirkan perasaan gadis kecilnya .


"A-apa oma? Pin-pindah?" tanya Davina terbata, ia kesulitan berucap karena dadanya tiba-tiba terasa sesak. Kepalanya mendadak pusing dan seolah ia tengah berada di awang-awang. Ia merasa tubuhnya melayang. Kata-kata yang mama Ayumi ucapkan tak pernah ia duga sebelumnya.


"Mama..." Lirih Zio, tatapannya begitu memohon agar sang mama menghentikan ucapannya karena melihat kesedihan yang tercetak jelas di wajah Davina.


"Iya, om Zio tidak bisa tinggal di sini lagi. Kalian uda nggak boleh tinggal bersama Davina" Jawab mama Ayumi, ia seolah tak peduli meski Zio terus memohon.


"Tapi kenapa oma? Davina kan belum 20 tahun, kenapa om Zio harus pergi dari sini" Air mata gadis itu luruh. ucapan mama Ayumi terasa mencabik hati nya. Zio tak pernah sanggup melihat air mata di wajah Davina, karena nya ia segera beranjak memeluk tubuh Davina. Keceriaan Davina beberapa saat yang lalu sirna tak berbekas, gadis itu tampak begitu rapuh. Tak ada yang paling menakutkan bagi Davina selain berpisah dari Zio.


"Oma sudah tau tentang hubungan yang sudah terjalin diantara kalian berdua. Karena itu, oma meminta om Zio segera pindah dari sini. Apa yang kalian lakukan itu salah, tak seharusnya kalian menjalin cinta, apalagi jika kalian tinggal serumah. Akan sangat berbahaya" Davina ternganga menatap pada mama Ayumi, air matanya semakin banyak menyeruak.


"Kalian harus menghapus perasaan yang tak seharusnya tumbuh diantara kalian. Sadarlah, kalian nggak mungkin bersatu. Jangan memaksakan diri, yang kalian rasakan itu bukan cinta. Hanya rasa nyaman karena sudah terbiasa bersama dalam waktu yang lama. Dinding pemisah kalian terlalu tinggi dan tak mungkin kalian lewati." lanjut mama Ayumi yang membuat hati Davina dan Zio teriris perih.


"Oma maaf, tapi oma tau darimana kalau yang kami rasakan ini bukan cinta oma? kalau hanya rasa nyaman karena terlalu sering bersama kenapa Davina tak merasakan hal ini pada pak Sukri oma? lalu dinding apa yang mama sebut sebagai pemisah? apa karena perbedaan usia?" Davina menjaga nada suaranya agar tetap lembut dan santun. Meski ia sangat sedih namun ia tak mau bersikap buruk hingga menyakiti wanita yang merupakan cinta pertama Zio tersebut.


"Tentu berbeda sayang, itu karena pak Sukri tidak pernah mengurusi kamu seperti Zio merawat kamu selama ini. Hubungan kamu dengan pak Sukri juga tidak sedekat hubungan kamu dengan Zio."


Mama Ayumi mendekat pada Davina yang masih berada dalam dekapan Zio.


"Meski kalian menyangkal, namun suatu saat kalian akan mengerti bahwa perbedaan usia yang terlalu jauh akan menciptakan dinding pemisah diantara kalian berdua. Oma hanya tidak mau kalian saling menyakiti."


"Tapi perasaan ini benar-benar cinta ma, Zio mencintai Davina begitupun sebaliknya. Kami sudah cukup bisa membedakan yang mana cinta dan yang mana perasaan nyaman hanya karena terbiasa bersama. Lagipula bukannya cinta itu bisa hadir karena kebersamaan itu sendiri?" Zio mengiba.


"Iya oma, jangan pisahkan Davina dan om Zio. Davina nggak bisa tanpa om Zio oma. Om Zio itu hidupnya Davina, kalo om Zio nggak ada Davina nggak tau harus bagaimana menjalani hidup ini oma" Dada Zio semakin sesak, permohonan Davina begitu memilukan hatinya.


"Izinkan Zio menikahi Davina ma, Zio akan buktikan bahwa cinta kami nyata adanya. Seperti halnya Davina yang nggak bisa tanpa Zio, Zio juga nggak bisa tanpa Davina."


🍁🍁🍁