My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 63



Zio memandang lekat wajah Davina yang hanya menunduk menyembunyikan semburat kemerahan di wajahnya, sangat menggemaskan.


Pria itu mengangkat perlahan dagu Davina agar gadis itu menatap ke arahnya. Zio menikmati keindahan wajah Davina yang terpahat sempurna, mata cantik kekasihnya memancarkan kebahagiaan meski Zio ikut menangkap ekspresi malu dan gugup pada wajah gadis yang siang tadi telah resmi ia miliki setelah ia mengucapkan ikrar pernikahan.


Dada Zio membuncah, kebahagiaan terasa meluap memenuhi hati dan jiwanya. Ia tak pernah merasakan kebahagiaan sebesar ini sebelumnya. Seolah mimpi, gadis yang menjadi alasannya bertahan dalam hidupnya yang kelam, yang ia jaga dan rawat dengan penuh kasih sayang itu telah menjelma menjadi bidadari yang berhasil merebut keseluruhan hatinya lalu menyemai cinta di sana dan sekarang telah resmi ia miliki seutuhnya.


Zio tak henti mengucap sukur dan melayangkan rasa terima kasih sebanyak-banyaknya pada Sandi dan Danisya karena telah menghadirkan Davina ke dunia ini untuk melengkapi hidupnya.


"Takut?" Tanya Zio dengan senyum hangat dan tatapan penuh cinta. Berharap istri kecilnya bisa sedikit santai dan tak terlalu gugup berhadapan dengan nya.


"E-enggak" Jawab Davina terbata. Perasaan nya tak menentu membayangkan apa yang akan terjadi beberapa saat lagi. Meski ia baru berusia 18 tahun dan belum sepenuhnya mengerti tentang kewajiban-kewajiban seorang wanita yang telah berstatus istri, namun Davina sangat paham tentang apa yang biasa dilakukan sepasang manusia yang baru saja terikat dalam janji pernikahan.


Apalagi Lea selalu meracuni nya dengan pelajaran tentang adegan-adegan sepasang kekasih di malam pengantin mereka. Padahal seperti yang sudah-sudah Lea mengajarinya hanya bermodalkan artikel yang ia temukan di internet, tapi sahabatnya itu terlihat seperti seorang yang begitu ahli dan berpengalaman saat memberikan materi yan ia baca pada Davina.


Tubuh gadis itu semakin memanas saat Zio perlahan mendekatkan wajahnya, nafas hangat nya berhembus menciptakan desiran-desiran halus yang merambati bagian-bagian tubuh gadis itu. Davina memejamkan mata, ia merasakan sebuah kecupan menyapa keningnya. Begitu hangat dan mengandung ungkapan cinta yang menghujam tepat di hatinya, sangat indah.


Davina membuka matanya saat tak kunjung merasakan sentuhan bibir Zio pada bibirnya, padahal ia sudah membayangkan dan mengharapkannya.


Jantung gadis itu berdetak hebat mendapati tatapan Zio yang begitu dalam disertai senyum menawan yang pria itu suguhkan. Davina mengakui bahwa ia selalu merasa jatuh cinta pada Zio setiap detiknya. Betapa ia ingin berteriak pada dunia agar semua tau bahwa pria tampan nan mengagumkan ini adalah kekasihnya, suaminya, dan hanya miliknya!.


"Kita tidur, kamu pasti capek" Ucap pria itu sambil mengusap lembut pipi mulus istrinya, Davina membulatkan matanya menatap heran pada Zio.


"Ti-tidur?" tanya Davina tak percaya. Ia tak bisa menutupi rasa kecewanya. Angan-angan indah yang sempat hadir dalam benaknya terhempas begitu saja.


"Iya sayang tidur, ini uda malam banget. Kamu harus istirahat. Mas Zio takut kamu sakit karena kelelahan" Sekarang sudah mendekati dini hari, mereka baru memasuki kamar hotel menjelang tengah malam. Banyak sekali tamu yang berasal dari rekan bisnis Zio menghadiri resepsi pernikahan yang mama Ayumi siapkan dengan begitu mewah. Mungkin sebagai bentuk rasa syukur mama Ayumi karena putra sulungnya telah menemukan belahan jiwa dan melepas masa lajangnya. Padahal Zio dan Davina sudah meminta pernikahan mereka digelar dengan sederhana.


Zio memilih menahan diri karena takut Davina terlalu lelah, belum lagi kegugupan gadis itu membuat Zio tak tega untuk segera meminta haknya meski ia sudah sangat menginginkannya.


"Kenapa?" tanya Zio, ia mengusap pipi Davina yang menatap kecewa padanya. Mata gadis itu perlahan terlihat berkaca-kaca.


"A-apa om menyesal menikahi Davina?" Gadis itu terbata, berusaha menahan laju air mata yang akan segera tumpah.


"Menyesal? Enggak sayang, mana mungkin mas Zio menyesal. Menikahi kamu adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidup mas Zio" Ucap pria itu, ia merasa resah melihat kesedihan di wajah istrinya.


"Sayang kamu salah paham" Zio meraih wajah Davina dan menciumi air mata yang mulai turun membasahi pipi gadis itu. Zio tak menyangka di malam pertama pernikahan mereka ia malah menyakiti hati Davina tanpa ia sadari.


"Mas hanya takut kamu sakit karena kelelahan setelah menyalami ribuan tamu yang hadir malam ini. Mas nggak tega harus menambah kelelahan kamu dengan melayani mas Zio sayang, mas nggak sampai hati memintanya padamu sekarang bukan karena mas tidak menginginkan kamu. Bahkan sebelum kita resmi menikah mas Zio selalu menginginkan kamu setiap detiknya. Mas Zio hanya berusaha untuk nggak egois, apalagi ini adalah pengalaman pertama untuk kita berdua. Mas ingin memintanya di saat kamu sudah siap untuk melakukannya. Maaf sayang, mas Zio terlalu mencintai kamu" Ucap Zio tulus. Davina masih remaja, Zio takut pengalaman pertama mereka malah membuat Davina trauma jika gadis itu belum merasa siap baik secara lahir maupun batin nya. Ia ingin menciptakan malam indah tak terlupakan di momen berharga mereka, karena itu Zio tak mau terburu-buru.


"Harusnya om tanya Davina dulu, bukan malah mengambil kesimpulan sendiri" Sungut gadis itu kesal. Ia memang lelah, tapi tak merasa keberatan jika Zio meminta hak nya malam ini.


Zio merasa bersalah, harusnya ia memang mengkomunikasikannya pada gadis itu. Ia mestinya mulai belajar melibatkan Davina dalam segala hal karena gadis itu adalah istrinya sekarang. Ia tak bisa lagi mengambil keputusan sendiri seperti yang ia lakukan selama ini.


"Iya mas tau mas Zio salah, maaf sayang. Jadi mas Zio sudah boleh memintanya sekarang?" Zio menatap penuh arti pada Davina.


Anehnya Davina malah disergap rasa takut ketika Zio menagih hak nya. Padahal sebelumnya ia merasa sangat kecewa dan merasa tak diinginkan.


"Besok saja" Davina menggeser dan melilitkan selimut pada tubuh nya hingga menutupi kepala lalu merebahkan dirinya. Jantungnya berdegup kencang, rasa gugup yang sempat hilang berganti kekecewaan kembali menerpanya


"Kamu nggak bisa lepas tanggung jawab begitu saja nyonya!" Ucap Zio sembari menangkap tubuh gadis itu.


🍁🍁🍁


Udah Sah ya guys...


Pada datang nggak tadi?


Berhubung pengantinnya lagi capek kita biarin mereka istirahat dulu yah malam ini supaya tenaga mereka kembali terisi Full. Kasihan kalo langsung digasspoll.


Mudah-mudahan besok malam hujan deras, biar apa??? ada yang tau? 🤭🤭🤭


See u


❤️