
"Kamu kenapa?" Zio menatap pada Davina yang lebih banyak diam. Tidak berceloteh ramai seperti biasanya.
"Nggak apa-apa om" Davina tersenyum tipis ke arah Zio lalu kembali fokus pada makan malamnya.
"Princess cantiknya om Zio kenapa banyak diam? lagi ada masalah di sekolah?" Ah jantung Davina menggila, panggilan itu seringkali ia dengar saat masih kecil dulu. Setelah menginjak SMA Davina Zio terbilang tak pernah lagi memanggilnya demikian.
"Davina baik-baik aja om" Lagi-lagi Davina menjawab dengan tersenyum tipis. Zio jadi khawatir melihat perubahan pada diri gadis itu.
"Om Zio, kalau seandainya besok om Zio capek nggak bisa antar Davina nggak apa-apa om. Davina bisa minta antar sama pak Sukri aja, pulangnya juga gitu" Ucap gadis itu dengan lembut. Zio menatap tak percaya pada Davina yang tampak berbeda. Nada bicaranya bukan seperti Davina yang Zio kenal selama ini.
"Sayang kamu beneran nggak apa-apa? kok aneh begini?" Davina kembali hanya tersenyum tipis, dia menggeleng pelan.
"Iya Davina nggak apa-apa om" Davina berusaha terlihat biasa saja padahal hatinya benar-benar tak menentu. Ia geli sendiri pada sikapnya yang sok dewasa. Jika dirinya saja menilai begitu lantas bagaimana dengan Zio? Davina takut bukannya terpikat Zio malah menjauhinya 'Ah Lea awas aja kalo cara ini malah mempermalukan aku' Gerutu Davina.
"Sayang, jangan bikin om Zio khawatir. Bilang om Zio ada salah apa sama kamu sampai kamu bersikap aneh begini? ini bukan Davina yang om Zio kenal sayang" ucap Zio yang sudah tak tahan lagi pada sikap Davina.
"Tapi Davina beneran nggak apa-apa om" Davina jadi ragu melanjutkan rencana nya yang ingin berubah sok dewasa. Nyatanya Zio malah mengatakannya aneh, sungguh Davina ingin menangis rasanya.
"Oke kita lanjutin makan aja dulu. Abis itu baru kita bicara" Putus Zio, Davina mengangguk. Perasaan nya jadi kacau, entahlah kenapa Zio malah menilai aneh sikapnya padahal kan dia sedang berusaha untuk terlihat dewasa di mata pria itu. Kenapa pria itu malah bingung bukannya terpesona seperti harapannya dan Lea.
Memikirkannya membuat Davina resah dan kehilangan selera menyantap makanan di piringnya yang masih tersisah cukup banyak.
"Habisin sayang makannya, kenapa malah melamun?" ucap Zio yang jengah melihat Davina hanya mengaduk-aduk makanan nya.
"Davina kenyang om" Davina meraih air putih dan menyesapnya. Rasanya ia tak sanggup untuk menghabiskan makanannya. Air putih saja terasa begitu seret di kerongkongannya.
"Ya udah, yuk ngobrol dulu" Zio beranjak dari duduknya lalu mendekat pada Davina dan mengulurkan tangannya pada gadis itu.
Davina menatap dalam pada Zio yang menganggukkan kepalanya karena Davina tak kunjung menerima uluran tangannya.
"Ayo sayang" Bisik Zio lembut, menghasilkan debaran yang membuat hati Davina ngilu namun terasa candu.
Davina akhirnya menerima uluran tangan hangat Zio yang langsung menyelimuti tangan nya memberikan kehangatan di sekujur tubuh Davina. Ia beranjak dari posisinya, Zio membawa Davina menuju taman belakang.
Keduanya duduk di kursi santai dalam suasana temaram karena lampu taman belakang yang sengaja dibuat tak begitu terang. Karena Zio menyukai suasana seperti ini saat menenangkan diri.
"Ceritakan pada om Zio ada apa?" Zio memecah keheningan yang sempat menyelimuti keduanya.
"Davina beneran nggak apa-apa om" Ucap Davina yang tak tau harus bagaimana. Pria itu benar-benar memahami dirinya hingga sekecil apapun perubahan nya Zio langsung menyadari.
"Davina hanya belajar untuk tidak merepotkan om Zio, bukan karena apa-apa"
"Kenapa?"
"Kenapa apanya om?" Tanya Davina
"Kenapa tiba-tiba tak ingin merepotkan om Zio? apa pria itu yang meminta kamu melakukan ini? apa pria itu sudah siap menggantikan posisi om Zio menjaga kamu?" Tanya Zio dengan tatapan menusuk.
"Bukan, nggak ada hubungannya sama siapapun om. Davina hanya ingin berubah lebih dewasa, nggak memaksakan keinginan Davina sendiri."
"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Zio lagi.
"Nggak tiba-tiba om, Davina berfikir selama ini Davina selalu memaksa om Zio untuk menuruti semua maunya Davina tanpa memikirkan perasaan om Zio. Davina selalu bersikap kekanakan, padahal om Zio juga butuh ruang untuk diri om sendiri"
"Tapi om senang melakukannya, om memang ada di dunia ini untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginan kamu sayang. Kalau kamu sudah tidak membutuhkan om Zio berarti tugas om Zio di dunia ini sudah selesai. Om Zio uda bisa nyusul papa dan mamanya Davina" ucap Zio sambil tersenyum, berbeda dengan Davina yang menatap tegang pada pria itu.
"Om Zio ngomong apa? Davina nggak suka om Zio bicara sembarangan. Om Zio uda janji kalo kita akan selalu bersama dan om Zio nggak akan ninggalin Davina" Tangis gadis itu langsung pecah, dadanya terasa sesak mendengar ucapan Zio meski pria itu mungkin tak serius dengan ucapannya.
"Hei sayang, aduh jangan nangis dong. Om Zio cuma bercanda" Zio membawa kepala Davina ke dalam pelukannya. Gadis itu terisak sambil memukuli dadanya.
"Om Zio jahat, Katanya nggak akan ninggalin Davina. Kenapa sekarang bilang mau susul papa dan mama" ucapnya sambil terisak
"Om Zio nggak serius, udah jangan nangis ya" Zio mengusap lembut rambut Davina yang masih terus menangis.
"Om Zio akan tetap hidup untuk kamu sayang, jangan takut om Zio belum akan mati sekarang" ucap Zio sambil meraih wajah Davina yang basah oleh air mata. Zio menghapus air mata gadis itu.
"Davina sayang banget sama om Zio, Davina nggak akan bisa tanpa om Zio. Davina mohon jangan pernah berfikir buat ninggalin Davina" Keluh gadis itu.
"Om Zio juga sayang banget sama kamu, om Zio nggak akan ke mana-mana sayang om janji" Melihat wajah sendu Davina yang menatap dalam padanya membuat Zio terpana. Wajah gadis itu begitu menawan dalam tatapan rapuh memohon perlindungan darinya. Dada Zio bergejolak, ia terhanyut dalam pusaran perasaan nya.
Zio melihat wajah Davina perlahan berubah kemerahan namun mata gadis itu tetap tak beranjak menatap padanya, tatapan keduanya saling bertaut seolah sedang mengungkapkan perasan yang tak mampu terucap oleh bibir mereka.
Zio semakin kesulitan mengendalikan sesuatu yang ada di dalam diri nya, matanya kini beralih pada bibir Davina yang sedikit terbuka.
Terjadi perang hebat antara hati dan otak nya yang selalu saja tak sejalan beberapa waktu ini.
🍁🍁🍁