My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 65



"Maaf, maaf sayang" Zio menghapus air mata Davina dan menghujami wajah istrinya dengan ciuman, ia merasa bersalah namun juga terlihat puas karena berhasil memiliki Davina secara utuh, mengisi tubuh Davina dengan miliknya.


Setelah mati-matian menahan diri selama ini akhirnya ia bisa menuntaskan hasratnya pada Davina. Kesabarannya berbuah manis, lebih dari itu Zio merasa bangga karena berhasil menjaga Davina hingga gadis itu berhasil mempertahankan kehormatannya.


"Masih sakit?" Tanya Zio, ia sudah merasa tidak tahan. Bagian bawah tubuhnya yang berada di dalam diri Davina meronta menuntut lebih. Namun di sisi lain ia juga tak sampai hati memaksakan jika istrinya masih kesakitan.


Zio tak mau egois, ia ingin menciptakan malam indah yang bisa mereka kenang berdua, Zio berharap Davina bisa menikmati percintaan ini sama seperti dirinya.


"Sebentar lagi ya om" ringis Davina yang masih berusaha menyesuaikan bagian sensitifnya atas keberadaan benda asing yang memenuhinya. Davina masih belum nyaman, bagian bawah tubuhnya terasa nyeri dan sesak.


Ketika mata Davina beradu dengan tatapan Zio, ia seketika mengerti bahwa suaminya begitu mendambakan dirinya. Davina bisa melihat gairah yang menggelegak. Naluri sebagai istri yang sangat mencintai suaminya menuntunnya untuk melupakan rasa sakit, demi Zio ia rela menahan rasa tidak nyaman yang masih menderanya.


"Davina uda siap om" Davina tersenyum untuk menutupi apa yang ia rasakan sebenarnya. Ia yakin suaminya tak akan melakukannya jika tau dirinya masih merasa kesakitan


"Beneran? uda nggak sakit lagi?" Tanya Zio memastikan.


"Beneran om" Davina mengangguk. Pria itu tersenyum dan mencium kening istrinya cukup lama sebelum memulai aksinya.


Kening Davina berkerut, ia menggigit bibir bawahnya ketika merasakan ngilu dan nyeri saat Zio mulai menggerakkan pinggulnya. Pria itu perlahan menarik miliknya lalu kembali menekan nya cukup dalam. Davina menahan nafas agar jeritannya tak keluar, meski Zio sudah melakukannya dengan perlahan namun rasa sakit itu masih begitu terasa. Miliknya terasa diaduk-aduk.


Sementara Zio tampak menengadahkan kepalanya dengan mata terpejam saat menghujamkan miliknya, Davina begitu sempit dan mengalirkan kenikmatan yang luar biasa. Remasan dan kehangatan inti Davina mengaktifkan setiap titik kenikmatan di dalam tubuh pria itu.


"Ohh sayang..." Zio melenguh, ia mempercepat pergerakan pinggulnya. Gairahnya semakin memuncak mendengar erangan dan desa han lembut istrinya. Davina memang masih merasakan nyeri namun ada rasa lain yang ikut menerbangkan dirinya.


Lenguhan dan erangan keduanya saling bersahutan, gesekan kulit yang saling beradu dan suara-suara percintaan yang terdengar sensual memenuhi kamar pengantin Davina dan Zio.


Hingga pada akhirnya tubuh keduanya menegang dan bergetar bersamaan dengan desah an panjang ketika puncak kenikmatan mereka tiba.


Zio masih berada di atas tubuh Davina yang terkulai tak berdaya. Nafas terengah keduanya saling bersahutan dalam keheningan malam, keringat membanjiri tubuh keduanya. Dalam lelah senyuman puas tersungging di bibir sepasang pengantin baru itu.


"Terima kasih sayang" Zio mencium kening dan bibir Davina sebelum pria itu turun dari tubuh istrinya.


Zio menarik Davina yang tampak kelelahan masuk ke dalam dekapan nya. Pria itu memeluk sang istri dengan erat.


"Tidurlah Davina" Bisik nya sembari mengusap rambut Davina seperti yang seringkali ia lakukan dulu saat menemani Davina tidur.


Rasa lelah setelah pelepasan hebat yang ia rasakan membuat Davina tak menjawab apa yang Zio ucapkan. Matanya begitu berat, pelukan nyaman suaminya membuatnya semakin tak berdaya melawan kantuk. Pada akhirnya ia menyerah, membiarkan lelap menerbangkannya ke alam mimpi.


🍁🍁🍁


"Sayang kamu demam?" Zio panik saat merasakan suhu tubuh Davina yang begitu panas ketika ia membuka matanya.


Matahari sudah menembus masuk ke dalam kamar mereka melewati celah gorden menandakan hari sudah siang. Benar saja jarum jam sudah menunjuk angka 9 saat Zio melirik benda penunjuk waktu itu di nakas.


"Badan kamu panas sayang, kita ke rumah sakit" Ucap Zio. Pria itu bergegas turun dari ranjang setelah memastikan posisi nyaman untuk istrinya. Ia mencari pakaian yang berserakan di lantai.


"Davina nggak mau ke rumah sakit om, Davina nggak apa-apa. Cuma lemas" ucap Davina dengan suara yang nyaris tak terdengar.


Zio tak menggubris ucapan Davina. Ia memakai pakaiannya dengan cepat lalu mencari pakaian untuk Davina.


"Kita harus segera ke rumah sakit, kamu nggak baik-baik aja sayang" Ucap Zio mendekat pada istrinya. Ia mencium pipi Davina yang terasa panas, ia menyesal karena menuruti naf*u nya tanpa memikirkan kesehatan Davina tadi malam.


"Nggak mau, Davina mau mandi aja om. Badan Davina lengket semua" Davina menolak saat Zio akan memakaikan baju padanya. Sebenar nya Davina merasa malu jika sampai dokter tau ia mengalami demam setelah melewati malam pertama.


"Kita harus cepat-cepat ke rumah sakit, nanti aja mandinya" Bujuk pria itu.


"Nggak mau, om lupa ya tadi malam abis kita 'gitu' langsung tidur nggak bersih-bersih dulu, pasti bau banget. Bagian situ Davina juga rasanya nggak nyaman. Bawa Davina ke kamar mandi ya? Davina mau pipis juga" Rengek Davina. Zio akhirnya menyerah dan menyetujui permintaan istrinya.


"Mas Zio siapkan airnya dulu" ucap pria itu, ia beranjak menuju kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk istrinya. Setelah itu Zio kembali ke kamar, menggendong Davina dan membawanya menuju kamar mandi.


Davina menyesapkan wajahnya ke leher Zio, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Ia belum terbiasa tampil polos tanpa apapun yang menutupi dirinya di depan Zio meski pria itu sudah resmi menjadi suaminya.


Setelah Davina buang air kecil, ia mencoba untuk berjalan sendiri menuju bathtub. Namun Zio tak membiarkan nya, dengan sigap pria itu segera membopong tubuh Davina dan meletakkannya di bathtub.


"Mau mas Zio mandiin?" Tanya pria itu.


"Davina bisa sendiri" Ia menutup mata Zio dengan telapak tangannya.


"Kenapa mata mas Zio ditutup sayang?" Tanya Zio sambil terkekeh


"Davina malu, om Zio buruan keluar" Rengek Davina manja.


"Beneran nggak apa-apa mas Zio tinggal?" Zio berniat memesankan sarapan juga obat penurun panas untuk meredakan demam istrinya.


"Iya nggak apa-apa" Ucap Davina cepat


"Ya udah, panggil mas kalo uda selesai ya" Zio mengusap puncak kepala Davina sebelum meninggalkan gadis itu.


Zio terpaku menatap noda merah yang sudah mengering di sprei. Senyum bangga terbit di bibirnya, ia merasa sangat bahagia karena menjadi pria pertama bagi Davina.


🍁🍁🍁


Ada nggak yang kayak Davina abis malam pertama malah demam?


Ayo tunjuk tangan ☝️☝️😂😂😂