My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 35



"Om lepasin Davina, malu sama pak Sukri" Davina berusaha melepaskan diri. Namun rengkuhan Zio begitu kuat hingga apa yang Davina lakukan sama sekali tak membuahkan hasil.


"Diam sayang jangan banyak bergerak" Davina mengernyit mendengar suara Zio yang mengeram seperti menahan sesuatu.


"Makanya lepasin om, Davina bisa duduk sendiri" Davina masih terus bergerak berupaya terbebas dari dekapan Zio, ia tak sanggup menahan rontaan jantung nya yang begitu keras. Terakhir kali Zio memangkunya seperti ini adalah saat dia masih SMP dan masih belum ada perasaan lain di hati mereka, berbeda dengan sekarang.


"Arghhh Davina diamlah" suara berat dan putus asa Zio membuat Davina menghentikan pergerakan nya.


"Davina berat kan? makanya turunin" ucap Davina kali ini tanpa bergerak. Namun Davina seperti merasakan hal aneh di bawah sana, menyadarinya seketika wajah Davina memerah, sedikit banyak ia mengerti apa yang tengah terjadi.


"Om mesum, lepasin Davina" Bisik Davina dengan nada kesal tepat di telinga Zio. Bukannya melepaskan Zio malah terkekeh.


"Kamu mengerti sekarang kan efek yang ditimbulkan akibat kamu keras kepala nggak mau diam" ucap Zio tanpa rasa bersalah.


"Om nyebelin, om mesum. Ini pelecehan tau nggak, Davina bisa laporin perbuatan om Zio ke polisi" Ah itu bohong, Davina sadar ia tak akan tega. Betapa Davina sadar diri bahwa ia begitu mencintai dan menyayangi pria ini. Ia tak akan pernah sanggup membuat pria itu menderita.


Apalagi kini tubuhnya jelas-jelas menunjukkan pengkhianatan, dengan pasrah nya kepala Davina malah bersandar pasrah di dada Zio.


"Iya nggak apa-apa, laporin aja ke polisi" ucap Zio sambil menciumi puncak kepala Davina, wangi segar shampoo Davina begitu menyegarkan penciuman pria itu.


"Tapi Davina nggak tega, Davina terlalu sayang sama om Zio" Davina merasakan pelukan Zio semakin erat dan kecupan yang Zio hujamkan semakin banyak ketika mendengar ucapan manja darinya.


Davina semakin tak mengerti arah fikiran Zio, bahasa tubuh dan sentuhan yang ia tunjukkan sekarang seolah memberi ketegasan pada Davina tentang perasaan pria itu padanya. Tapi Zio masih tak berani mengambil keputusan untuk memberikan status yang jelas pada hubungan ini. Semua terasa mengambang tanpa kejelasan.


"Sampai kapan om mau menyiksa dan mempersulit diri begini? apa om nggak capek?" Pertanyaan itu kembali Davina lontarkan, namun masih sama seperti kemarin tetap tak ada jawaban dari pria itu. Zio lebih memilih untuk membisu.


🍁🍁🍁


Davina akan keluar dari kelasnya namun Lea buru-buru menarik gadis itu agar masuk lagi.


"Kenapa Le?" tanya Davina heran, apalagi Lea tampak sangat panik.


"Ada Samuel di depan Vin" Lea yang sudah keluar kelas lebih dulu segera masuk kembali saat melihat pria itu sudah menunggu seperti waktu itu. Beruntung Samuel belum sempat melihat Lea.


"Duh mau ngapain lagi sih tu cowok" Davina kesal bercampur takut.


"Dia kan masih penasaran sama kamu Vin" ujar Lea.


"Terus gimana dong Le?" Davina tak bisa menghubungi Zio untuk menjemputnya ke dalam karena ponselnya masih di simpan oleh pria itu.


"Kalo nggak kamu pulang sama Samuel aja Vin, sekalian bikin om Zio cemburu. Siapa tau dia bisa cepat ambil keputusan untuk hubungan kalian" usul Lea, Davina berfikir sejenak. Ia mulai terpancing untuk menuruti ide sahabatnya.


"Kayaknya enggak deh Le, aku takut sama Samuel. Aku ngerasa nggak nyaman sama dia nanti malah terjadi apa-apa, lagian aku nggak mau egois mengorbankan perasaan orang lain demi kepentingan aku sendiri" Putus Davina.


"Panggilin om Zio aja Le, sekarang pasti om Zio uda nungguin aku di depan gerbang" Mohon Davina pada Lea.


"Kok lama banget keluarnya" Davina dan Lea terperanjat karena Samuel sudah berdiri di depan pintu kelas Davina dengan seringai penuh kemenangan.


"Ini baru mau keluar" Ucap Davina pura-pura tenang padahal ia begitu ketakutan.


"Yuk pulang bareng, kemaren kan nggak jadi" Samuel masuk ke dalam kelas dan menghampiri Davina yang semakin ketakutan.


"Aku nggak bisa kak, pulang sama Lea aja ya?" Lea menatap tajam pada Davina yang lagi-lagi ingin mengorbankan dirinya. Namun Lea merasa lega karena Samuel sepertinya tak tertarik padanya.


"Aku mau nya pulang bareng kamu, bukan sama teman kamu Vin. Kamu kenapa takut banget sama aku? padahal aku nggak gigit loh orang nya" Samuel terkekeh.


"Aku beneran nggak bisa kak, aku ada tugas yang harus aku kerjain. Jadi harus langsung pulang ke rumah" Davina mencari alasan untuk menolak ajakan pria itu.


"Aku anterin pulang ke rumah langsung, aku janji nggak akan bawa kamu ke mana-mana dulu" Ucap Samuel meyakinkan Davina, ternyata pria itu benar-benar tak gampang menyerah untuk mewujudkan keinginan nya.


"Kak kalau orang nggak mau sebaiknya jangan dipaksa. Kakak mau nggak kalo dipaksa ngelakuin yang kakak nggak mau? coba deh berfikir dari sisi orang lain, jangan mentingin ego" Ucap Lea ketus, ia sudah merasa kesal pada Samuel yang selalu memaksakan kehendak pada sahabatnya.


"Kamu juga sebaiknya jangan ikut campur urusan orang lain" ucap Samuel dengan senyum sinis nya.


"Aku nggak bermaksud ikut campur urusan orang, aku cuma kasih pengertian sama kamu yang uda ganggu kenyamanan sahabat aku" balas Lea tak kalah sinis.


"Maaf om Zio telat sayang" Davina menatap cepat ke arah sumber suara, gadis itu tersenyum lega. Kali ini Zio peka dan menyusulnya hingga ke kelas.


"Iya nggak apa-apa om" Balas Davina dengan wajah berbinar. Samuel mengepalkan tangannya karena Zio kembali menggagalkan rencananya untuk mengajak Davina pulang bersama.


"Om, aku mau ajak Davina pulang bareng boleh?" tanya Samuel.


"Maaf Samuel, om dan Davina mau langsung ke rumah mama nya om ada acara di sana. Jadi Davina nggak bisa pulang bareng kamu" Davina lega karena Zio langsung menolak permintaan Samuel.


"Kami duluan ya, pulang bareng Lea aja Sam" lanjut Zio. Lea terperangah, ternyata Zio sama saja dengan Davina yang seenaknya saja menumbalkan dirinya, yah walaupun Samuel tampan ia sudah terlanjur ilfeel pada pria itu.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Zio meraih tangan Davina dan membawanya keluar kelas.


"Om kita naik motor?" tanya Davina heran saat Zio menghentikan langkahnya di dekat sebuah motor sport yang terparkir di depan kelasnya.


"Iya, tadi kamu bilang mau ngerasain naik motor. Makanya tadi om ambil motor dulu di apartemen, jadi nggak ada alasan lagi ya kamu mau pulang bareng teman kamu itu" Ucap Zio, pantas saja penampilan pria itu terlihat berbeda. Zio mengenakan jaket kulit bukan jas seperti biasa.


🍁🍁🍁