
"Pak Zio apa kabar" Sapa pak Beni, pria itu datang berkunjung ke kantor Zio.
"Baik pak Beni, pak Beni sendiri apa kabar?" keduanya saling bersalaman dengan akrab.
"Seperti yang pak Zio lihat saya sehat dan bugar" keduanya tertawa sambil mendudukkan tubuh masing-masing ke atas sofa.
"Ada apa pak Beni jauh-jauh datang ke sini" Jika berhubungan dengan pekerjaan Zio merasa untuk saat ini mereka sedang tidak ada hal yang mendesak untuk dibahas mengingat mereka baru saja menanda tangani kontrak kerja sama satu minggu yang lalu.
"Tadi kebetulan lewat pak Zio jadi saya sempatkan untuk mampir. Saya tidak mengganggu kan?"
"Tentu saja tidak pak, hanya saja 1 jam lagi saya harus menjemput Davina di sekolah" ucap Zio setelah melihat jam di tangan nya.
"Oh Davina sekolah di mana? kebetulan Samuel sudah pulang. Bagaimana kalau Samuel saja yang menjemputnya mungkin ini kesempatan untuk memperkenalkan mereka?" Pak Beni tampak bersemangat. Sepertinya pria itu benar-benar serius akan niatnya tempo hari.
Hati Zio mendadak kelu, ia merasa ada torehan tajam menyayat hatinya.
"Sebenarnya itu ide yang bagus pak Beni, hanya saja Davina akan marah jika bukan saya yang menjemputnya pak, yah minimal dia harus diberitahu sejak pagi kalau memang saya tidak bisa menjemputnya. Kalau mendadak malah akan menimbulkan kesan buruk buat dia" Ucap Zio, ia merasa sedikit lega saat melihat pak Beni mengangguk paham.
"Benar juga ya pak Zio, anak muda zaman sekarang suka memberontak kalau terlalu dipaksakan. Bagaimana kalau besok malam pak Zio ajak Davina ke restoran keluarga saya, kita buat perkenalan resmi untuk keponakan pak Zio dan anak saya" Zio terdiam beberapa saat. Ia dilanda dilema, di satu sisi hatinya meronta tak terima namun otaknya juga memaksa nya untuk berfikir jernih.
Samuel adalah putra dari pak Beni seorang pengusaha ternama, Samuel juga lulusan terbaik dari universitas luar negeri yang terbaik pula. Ia yakin Samuel sangat sepadan dengan Davina, hidup dan juga perusahaan gadisnya akan terjamin jika bersama Samuel.
"Baiklah pak, nanti akan saya bicarakan pada Davina" Ucap Zio kemudian. Ia harus mengesampingkan perasaan nya, lagipula mungkin ini salah satu jalan bagi Zio untuk menepis perasaan tak seharusnya yang mulai mengisi hatinya.
"Mudah-mudahan mereka saling menyukai ya pak Zio, saya ingin sekali berbesanan dengan anda" Pak Beni terkekeh. Zio mengangguk dan tertawa dengan sangat terpaksa.
Zio merasa dadanya tiba-tiba sesak, tenggorokannya terasa kesat hingga kesulitan untuk menelan ludahnya. Efek patah hati kah? rasanya dulu ia tak pernah merasa seperti ini bahkan saat hubungan nya dengan Silla yang sudah ia jalani selama 5 tahun harus kandas.
"Maaf pak mengganggu, hanya mengingatkan sudah saat nya menjemput Davina" Safira masuk menghentikan obrolan antara Zio dan pak Beni.
"Baik terima kasih Safira" Zio mengangguk. Safira yang mengerti segera membungkukkan badannya lalu undur diri dari ruangan itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak Zio, sampai jumpa besok malam" ucap Pak Beni ikut beranjak dari duduknya.
"Iya pak Beni hati-hati di jalan" Zio menerima uluran tangan pak Beni sebelum pria itu pergi dari ruangannya.
Zio menghempaskan tubuhnya yang tiba-tiba terasa seperti kehilangan tenaga. Ia merasa benar-benar kalut. Ia tak mengerti mengapa hatinya tiba-tiba berubah begitu perih
🍁🍁🍁
"Om Zio lelah" ucap pria itu.
"Om Zio abis ngapain emangnya?" Tanya Davina polos.
'Hati dan jiwa om Zio yang lelah Davina, bukan fisik' batin Zio. Ia tak menyangka perasaan yang baru timbul beberapa hari yang lalu ini akan sedemikian berpengaruh pada dirinya. Efek yang ditimbulkannya sangat besar.
"Nggak ngapa-ngapain. Kerja seperti biasa" Ucap Zio tanpa membuka matanya. Biasanya Zio selalu menatap wajah Davina saat berbicara.
"Kok bisa kayak capek banget gitu om?" Davina meraih tangan Zio dan menggenggam nya. Hal itu menimbulkan sengatan yang seolah mengalir ke setiap sel yang ada di dalam tubuh pria itu.
"Om udah tua Davina, makanya gampang lelah" Zio membuka matanya, ia tersenyum berusaha menutupi perasaan salah tingkahnya karena Davina masih menggenggam erat tangan nya
"Enggak, om Zio nggak tua. Masih gagah dan tampan. Bahkan banyak teman-teman Davina yang diam-diam nge gebet om Zio" Ucap Davina dengan raut wajah campur aduk antara bangga, sedih dan juga kesal.
"Ah masa sih? kenalin dong" Zio terkekeh dan mengacak rambut Davina.
"Ih nggak boleh, Om Zio itu punya nya Davina" keduanya terdiam begitupun Davina yang langsung menutup mulutnya dengan wajah terperangah.
"Om Zio nggak boleh sama teman-teman nya Davina, harus cari yang lebih dewasa dan cantik" Lirih Davina sambil menundukkan wajahnya yang ia yakini telah berubah merah.
"Tapi kalau bisa jangan tante Silla ataupun tante Safira" Lanjut Davina sambil menatap cepat ke arah Zio. Mengingat Silla dan Safira membuat darah Davina terasa panas hingga ia tak peduli pada wajahnya yang merona beberapa saat yang lalu. Ia menatap tajam pada Zio yang masih terpaku meneliti wajah Davina.
"Terus om Zio harus sama siapa?" Ucap Zio dengan mata yang kini saling bertaut pada mata indah gadis itu. Fikiran nya berkecamuk, otak dan hatinya saling berperang. Otaknya meminta untuk membunuh segala perasaan yang tak seharusnya pada Davina sementara hatinya memaksa untuk memperjuangkan perasaan nya.
"Nggak tau, pokoknya jangan sama mereka" Davina mengalihkan tatapannya. Ia juga melepaskan genggaman tangan nya pada tangan Zio.
"Besok malam pak Beni mengundang kita untuk makan malam di restoran milik nya. Pak Beni ingin mengenalkan kamu sama Samuel" Ucap Zio setelah berhasil menata perasaan nya.
"Mau ngapain? nggak ada jodoh-jodohan ya om Davina nggak suka" sungut Davina.
"Kan kita uda bahas waktu itu sayang, cuma kenalan biasa. Setelahnya ya terserah kamu mau gimana. Nggak enak kalo nolak undangan, beliau datang langsung loh ke kantor tadi" Zio menarik Davina agar menatap padanya. Andai gadis itu tau hati Zio tengah terluka dan berdarah.
Andai ia memiliki sedikit saja keberanian, andai kecelakaan itu tak pernah terjadi, andai mimpi buruk itu tak datang menyapanya hampir di setiap malam dan meracuninya dengan rasa bersalah yang semakin membesar setiap harinya, mungkin ia tak akan pernah selangkah pun membiarkan Davina pergi dari sisinya untuk bersama pria lain.
🍁🍁🍁