
"Mana ponsel kamu?" Tanya Zio saat mereka tengah bersantai memandang ke arah lautan sehabis menikmati makan malam di teras Villa yang berada di tepi pantai. Satu jam yang lalu mereka telah tiba di Villa yang akan mereka tempati selama satu minggu ke depan.
"Buat apa om?" tanya Davina heran, namun ia tetap menyerahkan ponselnya pada sang kekasih.
"Selama satu minggu kita di sini, nggak boleh pegang ponsel sayang. Fokus liburan aja menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan siapapun" ucap pria itu, Davina tersenyum lebar.
"Om juga?"
"Iya om Zio juga" Jawab Zio sambil ikut mematikan ponselnya. Pria itu lalu menyimpan kedua ponsel milik mereka ke dalam saku sweater yang ia kenakan
"Terus kalau misalnya ada masalah di kantor gimana?"
"Tenang saja sayang, sudah ada yang mengurusnya" Selama dirinya pergi Zio sudah mempercayakan urusan kantor pada orang kepercayaan nya.
Davina merasa berbunga-bunga karena Zio benar-benar ingin menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan pekerjaan. Hal yang baru pertama kali ini terjadi.
"Terus kalau mau foto-foto gimana om? kan sayang kalo nggak ambil foto. Di sini pasti banyak tempat yang bagus-bagus"
"Pakai kamera kan bisa sayang" Zio menggeser posisinya hingga berada di belakang Davina lalu melingkarkan tangannya pada tubuh gadis itu dan menciuminya dengan gemas. Davina terkekeh, namun tubuhnya terasa memanas apalagi nafas Zio terasa hangat menerpa telinga nya.
"Sekarang istirahat, besok kita akan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan" Bisik Zio. Tubuh Davina semakin meremang karena pria itu berbisik tepat di telinga nya.
"Kita tidurnya bareng kan?" Suara Davina sedikit bergetar, efek gemuruh di dadanya.
"Enggak sayang, kan uda om Zio bilang itu bahaya" Meski berkata demikian nyatanya Zio mulai mendaratkan bibirnya pada leher jenjang Davina, awalnya hanya kecupan-kecupan kecil namun kemudian berubah menjadi sesapan yang sedikit kuat hingga melahirkan des ahan dari bibir gadis itu.
Zio semakin merapatkan dekapannya, Ia terus menikmati leher sang kekasih sementara Davina memejamkan matanya menikmati sentuhan bibir Zio yang membuatnya dimabuk gairah.
Zio tiba-tiba menarik tubuh Davina agar menghadap padanya, dalam sekali tarikan ia menggendong tubuh gadis itu dengan posisi saling berhadapan. Zio tak ingin menyia-nyiakan sedetik pun kesempatan untuk segera menikmati bibir kekasih nya. Hembusan angin malam menambah semangat Zio menyesap, menghisap dan menggigit bibir gadis itu. Keduanya larut dalam pertukaran gairah, setiap sentuhan mengalirkan sensasi mendamba pada jiwa mereka.
Sesekali terdengar era ngan dan des ahan di sela kecipak suara pertautan bibir mereka. Zio perlahan melangkahkan kakinya, membawa Davina yang menempel erat di tubuhnya ke dalam Villa hingga langkahnya terhenti di sebuah kamar dengan ranjang yang luas.
Davina menatap Zio dengan wajahnya yang memerah kala pria itu merebahkan tubuh mungil nya. Zio membelai rambut kekasihnya dengan sayang, tatapan mesra penuh cinta dari Zio menghujami diri Davina hingga membuatnya tak berkutik, ia tak pernah menginginkan Zio sebesar malam ini. Rasanya ia rela menyerahkan diri, memasrahkan jiwa dan keseluruhan raganya untuk Zio nikmati sebagai pembuktian betapa besar ia mencintai pria dewasa itu.
"Davina mencintai mu om, jadikan Davina sebagai milik om Zio secara utuh malam ini" Bisik gadis itu penuh harap.
Zio masih menatap dalam pada Davina, otak dan hatinya kembali berperang. Ia ingin menjadikan Davina miliknya agara tak ada siapapun lagi yang bisa memisahkan mereka.
Permintaan sang mama agar ia meninggalkan Davina melintas di otak dan menyakiti hatinya. Menatap wajah sendu kekasihnya membuat Zio semakin tak berdaya bahkan untuk sekedar membayangkan bila ia dan Davina tak lagi bersama.
Rasa sakit di hati semakin menyadarkan Zio bahwa ia tak akan pernah bisa meninggalkan Davina. Pemikiran yang berkecamuk membuat Zio kembali menyalakan gairahnya. Mungkin ini satu-satunya cara agar ia dan gadis kecil itu bisa bersama. Memiliki Davina secara utuh dan menanamkan benih di rahim nya.
Zio kembali menautkan bibirnya, memancing hasrat Davina agar ikut menyala, memporak porandakan logika yang berusaha mengendalikan akal sehatnya.
Davina meremas rambut Zio saat merasakan pria itu menyesap lehernya dengan kuat, Davina yakin apa yang Zio lakukan meninggalkan jejak di sana.
Tubuh Davina menegang, ia sadar Zio semakin berani dan semakin jauh melangkah. Pria itu mulai membuka kancing piyama yang ia kenakan hingga bagian dadanya terbuka. Gadis itu menahan nafas saat Zio membenamkan kepalanya di sana. Tangan Zio menyibak bra yang menghalanginya menyentuh dada Davina secara sempurna. Setelah berhasil menyingkirkan kain penutup tersebut, Pria itu dibuat terpana melihat keindahan diri Davina.
"Cantik sekali" Bisik nya dengan tatapan berkabut, Davina memejamkan matanya untuk menutupi rasa malu. Pria itu perlahan mengusap bagian puncak dada Davina yang tampak berwarna merah muda, begitu indah, alami, dan menggairahkan. Tubuh remaja itu menegang merasakan sentuhan Zio untuk pertama kali pada bagian sensitifnya, ia bisa merasakan sekujur tubuhnya meremang seiring puncak dadanya yang mengeras mendapatkan stimulasi dari jari-jari kekasihnya.
"Om Z_Zioo..." Davina mende sah setengah terpekik saat Zio mendaratkan bibirnya di sana, sungguh rasa luar biasa yang tak terkata nikmatnya. Davina merasakan hisapan Zio yang berefek pada bagian bawah tubuh yang terasa menegang.
Zio terus bermain di dada Davina, setiap eran gan yang keluar dari bibir Davina membuatnya semakin bersemangat menghisap dan menggelitik bagian sana.
"Da_Davina uda nggak tahan om" Sesuatu terasa mendesak di bagian bawah perutnya, Davina dilanda frustasi menghadapi hasratnya .
Zio melepaskan bibirnya, mengangkat kepalanya dan menatap pada Davina yang kini terlihat bersimbah keringat. Gadis itu terlihat semakin seksi dan menggairahkan.
Namu disaat Zio akan melanjutkan niatnya untuk menyentuh Davina semakin dalam, kilasan wajah Sandi dan Danisya yang tersenyum hadir di benak nya membuat pria itu terpaku.
Seketika Zio dilanda rasa bersalah, ia mengambil selimut dan menutupi tubuh Davina yang hampir terbuka lalu memeluk erat tubuh gadis itu.
"Maaf, maafkan om Zio" Hampir saja ia mengkhianati kepercayaan kedua orang tua Davina yang telah mempercayakan penjagaan gadis itu padanya, lalu ia malah hampir merusak Davina atas nama cinta.
Zio memang menginginkan Davina, tapi tidak seharusnya dengan cara kotor dan curang seperti ini. Mestinya ia memperjuangkan Davina nya dengan cara terhormat.
"Kenapa om?" tanya Davina yang dilanda kebingungan.
"Nggak seharusnya om Zio melakukannya sejauh itu, om minta maaf sayang. Om sadar om belum berhak melakukannya." Zio terus mendekap erat tubuh Davina.
"Om nggak salah, Davina juga menginginkan nya" Davina mengusap punggung Zio untuk menenangkannya.
"Belum sekarang, tunggu saatnya tepat. Om Zio akan menagihnya ketika kita sudah menikah nanti" Zio merutuki diri yang hampir saja tenggelam pada langkah yang salah, ia sangat mencintai Davina maka sudah seharusnya ia memperjuangkan Davina dengan cara yang benar.
🍁🍁🍁
Gara-gara para readers banyak yang memanas-manasi Zio supaya khilaf akhirnya hampir kejadian kan 😏😏
Untung Zio cepat sadar, kalo nggak image pria gentle dan bertanggung jawabnya akan terchorengg..
Ayo dong emak-emak, jangan pengaruhi Zio yang tidak-tidak lagi ya.
😂🥰😘😍