My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 54



"Mama lihat kan betapa berbahayanya jika mereka dibiarkan terus seperti ini? dipisahkan malah membuat mereka kesulitan menahan diri saat bertemu karena mereka saling merindukan ma. Nikahin aja mereka, itu keputusan yang paling tepat. Memisahkan kakak dan Davina hanya menyiksa mereka dan juga mama, karena mama juga akan selalu was-was takut terjadi sesuatu pada mereka berdua, hidup mama jadi tak tenang" Ucap Yara ketika mama Ayumi mengeluh tentang kelakuan Zio dan Davina


Ternyata mama Ayumi ikut memergoki kemesraan Davina dan Zio tempo hari. Mama Ayumi yang akan menegur keduanya mengurungkan niatnya karena Yara telah lebih dulu menghentikan sepasang kekasih yang tengah bercumbu. Ia lebih memilih kembali ke kamar untuk menenangkan hatinya. Karena jika ia langsung bertemu Zio dan Davina ia takut tak mampu mengontrol ucapannya dan malah melontarkan kata-kata yang dapat melukai hati keduanya.


"Mereka saling mencintai ma, nggak ada gunanya misahin mereka" lanjut Yara karena mama Ayumi hanya diam tak menyahuti ucapannya.


"Ma, sebenarnya apalagi yang mama ragukan sih? menurut Yara ketakutan mama itu terlalu dibuat-buat dan dicari-cari. Nggak ada gadis manapun yg diinginkan kak Zio selain Davina. Mama ingat? bahkan demi Davina kak Zio melepaskan kak Silla yang sudah dipacarinya bertahun-tahun. Setelah itu kak Zio nggak pernah dekat dengan wanita lain, artinya emang kak Zio maunya sama Davina ma. Yara yakin Davina juga merasakan hal yang sama seperti kak Zio. Ayolah ma mau sampai kapan nyiksa mereka? kasihan mereka" mama Ayumi tetap bungkam, tak ada satupun kata yang terucap dari bibirnya.


"Mama please"


"Sudahlah Yara jangan menceramahi mama, mama tau apa yang terbaik untuk putra mama. Mama berencana menjodohkan Zio dengan Sarah anak om Yoga sepupu jauh mama. Mama yakin Sarah bisa menyadarkan Zio dari perasaannya yang salah terhadap Davina" Mata Yara terbelalak, ia tak menyangka sang mama berfikir sejauh itu untuk memisahkan Zio dan Davina.


"Mama keterlaluan kalau sampai menjodohkan kak Zio dengan Sarah. Kak Zio pasti akan sangat kecewa sama mama. Kan uda Yara bilang nggak ada wanita manapun yang kak Zio inginkan selain Davina ma, jangan menambah korban lagi ma. Jelas-jelas kak Zio itu mencintai Davina, menyodorkan Sarah hanya akan membuat Sara menderita karena menjadi pasangan yang tak dicintai oleh suaminya ma" ucap Yara sambil menatap tak percaya pada mamanya, ia kecewa pada keputusan mama Ayumi yang ia nilai sangat egois


"Ini yang terbaik untuk mereka Yara" Yara begitu jengah mendengar alasan mamanya yang selalu sama.


"Mama selalu bilang yang terbaik untuk mereka, padahal Yara yakin hati kecil mama mengakui bahwa yang terbaik bagi kak Zio dan Davina adalah bersama. Mama benar-benar egois. Yara aja ngerasa kecewa banget sama mama apalagi kak Zio" Yara berusaha menekan nada bicaranya agar tetap santun meski ia mulai tersulut emosi karena rencana mama Ayumi.


Tanpa mereka sadari ada Davina yang tak sengaja mendengar obrolan Yara dan mama Ayumi. Gadis itu tampak shock dan terpukul, ia menyandarkan tubuhnya yang tiba-tiba lemas ke tembok sambil memegangi dadanya yang teramat sesak.


Rasanya begitu sakit saat mama Ayumi malah berniat menjodohkan pria yang ia cintai dengan wanita lain. Mama Ayumi benar-benar menutup rapat hatinya untuk Davina masuki.


Dengan menyeret langkahnya Davina segera beranjak dari tempatnya mencuri dengar obrolan Yara dan mama Ayumi. Pandangannya mengabur terhalang bulir air mata yang memaksa menyeruak. Beberapa kali Davina menghela nafas dan membuangnya untuk mengurai sesak yang terasa menghimpit. Isakan tertahan sesekali lolos namun Davina segera menutup erat mulutnya.


Mama Ayumi ternyata begitu kuat menolak dirinya, hal itu seketika membuat Davina merasa dirinya begitu tak berharga hingga mama Ayumi tak sudi menjadikannya menantu. Hati Davina begitu perih mengetahui keputusan mama Ayumi tak sedikitpun goyah, wanita itu terus menolak hubungannya dengan Zio.


Meski dengan susah payah pada akhirnya Davina berhasil keluar dari rumah Yara tanpa sepengetahuan mereka. Davina segera menaiki mobil dan menumpahkan tangisannya.


Setelah puas menumpahkan tangisannya Davina meminta sopir membawanya menuju kantor Zio, ia ingin mengobati luka hatinya dengan melihat wajah kekasihnya dan merasakan dekap hangat Zio yang selalu berhasil membuatnya lebih baik.


Davina menghela nafas dan membuangnya sebelum memutar handle pintu ruangan Zio.


"Om Zi-o...." Langkah Davina terhenti dengan wajah tercengang. Keterkejutannya pada niat mama Ayumi yang ingin menjodohkan Zio dengan wanita lain belum sepenuhnya hilang dan kini pemandangan di depannya membuatnya merasa dua kali lebih sakit.


Tampak Silla sedang memeluk Zio, Davina bisa melihat kepanikan di wajah pria itu saat menyadari kedatangannya.


"Sa-sayang, ini nggak seperti yang kamu fikirkan" Zio mendorong tubuh Silla yang juga menatap ke arah Davina ketika mendengar suara panggilan dari gadis itu, wajah Silla juga bersimbah air mata. Karena Silla yang tengah lengah, Zio akhirnya berhasil melepaskan diri dari pelukan wanita masa lalunya tersebut.


"Sayang" Zio berlari mendekat pada Davina lalu memegang tangan kekasihnya yang masih tampak terpaku, Gadisnya terlihat begitu shock dengan apa yang baru saja ia saksikan. Bulir air mata Davina berjatuhan, melihatnya hati Zio bagaikan teriris.


"Jangan menangis, ini nggak seperti yang kamu fikirkan sayang. Om Zio bisa jelaskan sayang? dengerin penjelasan om ya?" Zio menghapus air mata Davina dan menarik tubuh rapuh gadis itu ke dalam dekapannya.


"Tolong Silla, keluar dari ruangan ini sekarang" Ucap pria itu dingin.


"Tapi Zio aku butuh kamu" Ucap Silla sambil terisak.


"Keluar sekarang atau aku panggilkan security" Suara tegas Zio terdengar dingin dan membuat siapapun yang mendengarnya meremang.


"Jangan pernah lagi datang ke sini, apapun masalah yang kamu hadapi itu sama sekali bukan urusanku" Ucap pria itu lagi.


"Kamu tega banget sama aku Zio, aku cuma butuh tempat berbagi. Aku sedang hancur"


"Sudah aku bilang bahwa apapun masalah yang sedang kamu alami itu sama sekali bukan urusan ku Silla. Jangan pernah berharap apapun padaku. Kamu nggak akan mendapatkan apa-apa" Zio merasa kemarahannya benar-benar memuncak, apalagi melihat Davina masih terus terisak dalam pelukannya.


"Kamu jahat Zio, kamu sama sekali tak berempati pada kesedihanku" Silla yang tampak begitu kacau akhirnya berjalan keluar meninggalkan Zio yang masih setia memeluk erat Davina nya.


🍁🍁🍁