My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 55



Selepas kepergian Silla, Zio memanggil sekretaris dan asisten nya. Zio memerintahkan mereka untuk melarang Silla datang ke kantor dan masuk ke dalam ruangannya.


"Om Zio ngapain peluk-peluk tante Silla" ucap gadis itu masih dengan isakan yang tersisah.


"Bukan om Zio yang meluk, dia aja yang datang langsung meluk sambil nangis. Om Zio uda berusaha untuk melepaskan pelukannya tapi Silla meluknya kuat banget" Zio mengusap rambut Davina yang masih betah menyesapkan wajah di dadanya.


Tidak Davina pungkiri, ia melihat bagaimana Zio berusaha melepaskan pelukan Silla meski pria itu belum menyadari keberadaan nya. Hal itu jelas menunjukkan penolakan Zio. Namun karena rasa cemburu dan dipicu kondisi hatinya atas niat mama Ayumi membuat Davina merasa sangat terluka. Ia tak bisa berfikir jernih, dan merasa Zio mengkhianatinya.


"Om Zio bilang om hanya akan memberikan pelukan untuk Davina, oma dan kak Yara. Kenapa tante Silla dikasih pelukan juga, om Zio bohong" ucap gadis itu lagi.


"Iya sayang om Zio minta maaf, om Zio benar-benar tidak tau kalau Silla akan datang. Kalau aja om Zio tau pasti om akan menolak untuk bertemu dengannya sayang" Zio merasa bersalah melihat kekecewaan mendalam kekasihnya.


Zio membawa Davina untuk duduk di sofa, pria itu merapikan rambut Davina yang tampak begitu berantakan. Wajah kekasihnya terlihat kusut karena banyak menangis. Zio memaki dirinya sendiri karena menjadi sebab tangisan kekasihnya.


"Maafin mas Zio yah?" Ucap pria itu begitu lembut, wajah Davina memanas dan semakin memerah karena Zio mengubah sebutan om menjadi mas. gadis itu masih saja salah tingkah jika Zio dengan jahil menggodanya dengan mengingatkan Davina pada kejadian tempo hari. Davina kembali mengutuki kepercayaan dirinya beberapa waktu lalu, akhirnya ia merasa malu sendiri sekarang.


"Sayang, please jangan marah ya? Jangan sedih, mas nggak sanggup melihat kamu seperti ini" Zio menghapus jejak air mata yang sesekali masih terlihat keluar dari mata indah kekasihnya. Ia tak menyangka efek pelukan Silla begitu melukai Davina. Namun Zio mengerti karena ia pun tak akan rela ada pria lain yang memeluk dan menyentuh Davina. Gadis itu hanya miliknya dan hanya dia yang boleh menyentuh Davina.


"Oh ya sayang, kamu kenapa tiba-tiba datang? kamu butuh sesuatu?" Tanya Zio saat menyadari sesuatu. Davina tak memberitahu akan datang ke kantor, biasanya gadis itu selalu memberitahunya lebih dulu.


"Lagi pengen datang aja, mungkin ini cara Tuhan menunjukkan sama Davina kalau om Zio suka peluk-pelukan di kantor tanpa sepengetahuan Dav... Hmmmpphh..." suara Davina teredam ciuman yang tiba-tiba Zio darat kan di bibir nya.


Zio menatap tajam pada Davina setelah melepaskan lum atan nya pada bibir gadis itu. Davina menundukkan pandangannya, tak sanggup menentang nyala tak suka yang terpancar di mata pria itu atas ucapannya.


"Sebenarnya Davina mau kasih tau om Zio kalo tadi Davina nggak sengaja dengar oma bilang mau menjodohkan om Zio sama anak dari sepupu jauh oma" ucap Davina terbata. Air matanya kembali mengalir deras saat menceritakan apa yang ia dengar. Luka hatinya semakin menganga dan melahirkan rasa sakit yang luar biasa.


"Apa? kamu tau dari mana sayang?" ucapan Davina bagaikan sambaran petir bagi Zio. Ia tak ingin percaya namun ia tau Davina tak mungkin berbohong.


"Oma benar-benar nggak bisa nerima hubungan kita om. Oma nggak mau menerima Davina" Keluh gadis itu putus asa. Zio ternganga, kepalanya terasa sakit dengan perasaan yang campur aduk antara marah, kecewa dan juga sedih.


"Davina tau om Zio pasti kesukitan nolak permintaan oma kan? Davina nggak tau harus gimana kalau sampai om Zio benar-benar menikah dengan orang yang oma jodohkan. Davina nggak tau akan seperti apa hidup Davina ke depan" Gadis itu merasa sangat ketakutan, ia tau posisi Zio sangat sulit.


"Jangan berfikir terlalu jauh sayang, om nggak akan menerima perjodohan itu Davina. Percaya sama om Zio" Zio menarik tubuh rapuh Davina ke dalam dekapan nya. Pantas saja Davina terlihat sangat terluka, ternyata ucapan sang mama adalah pemicunya.


"Tapi om Zio nggak mungkin bisa melihat oma sedih, om pasti akan menerima perjodohan itu pada akhirnya." Davina tersedu dan hal itu sangat melukai hati Zio. Ia merasa semenjak bersamanya Davina bukannya mendapatkan kebahagiaan malah banyak sekali mengalami kesakitan dan mengeluarkan air mata


"Tapi om juga nggak bisa melihat kamu bersedih sayang, kamu itu semangat hidup om Zio. Om Zio nggak mungkin melepaskan kamu Davina. Om sangat mencintai kamu, om juga nggak tau akan seperti apa hidup om Zio tanpa kamu. Om nggak akan sanggup sayang" Zio mengeratkan pelukannya


"Davina bingung om, di satu sisi Davina nggak mau om Zio jadi anak durhaka dengan menentang keinginan oma. Tapi di sisi lainnya Davina juga nggak sanggup kalau akhirnya harus berpisah dan merelakan om Zio untuk wanita lain. Davina harus gimana om?"Hati Zio tertoreh begitu dalam mendengar kesah pilu Davina. Zio sangat memahami apa yang tengah Kekasihnya rasakan. Pria itu sama sekali tak pernah meragukan kebaikan hati kekasih nya, meski masih muda namun Davina begitu peka pada sekelilingnya. Gadis itu selalu ingin menebarkan kebahagiaan bagi siapa saja.


"Nggak sayang, om akan terus cari cara agar oma bisa menerima hubungan kita. Nggak boleh ada yang berkorban. Bertahanlah di sisi om sayang" Tegas Zio. Kali ini mama Ayumi sudah sangat keterlaluan, Zio tak bisa membiarkan mamanya bertindak sesuka hatinya lagi. Sudah cukup penyesalan atas kematian Sandi dan Danisya bagi Zio, ia tak mau menambah banyak sesal dalam hidupnya dengan membiarkan sang mama mengorbankan Davina dan membawa wanita lain masuk ke dalam hidupnya.


"Berjanjilah apapun yang terjadi kamu nggak akan goyah Davina, tetaplah bersama om Zio sampai kapanpun. Jangan berfikir untuk menyerah, kita sudah melangkah sejauh ini. Kita pasti akan bisa merebut restu mama" Ucap Zio penuh kesungguhan, matanya menatap penuh harap pada Davina.


"Iya om, Davina janji akan bertahan di sisi om Zio apapun yang terjadi. Makasih ya om Zio uda mau mempertahankan dan nggak berniat membuang Davina" ucap gadis itu. Ia bersyukur Zio masih mempertahankannya, setidaknya di dunia ini masih ada orang yang menginginkannya.


"Makasih juga uda mau bertahan di sisi mas Zio sayang" Bisik Zio sambil tersenyum. Davina dengan cepat menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa malu karena lagi-lagi Zio mengubah panggilannya.


🍁🍁🍁


🍁🍁🍁