
"Cemburu?" tanya Davina sambil mengulum senyum melihat wajah tegang Zio meski mereka sudah berada sangat jauh dari kedai tempat mereka bertemu dengan Samuel.
"Iya, om Zio sangat kesal mendengar ucapannya, om menyesal memilih tempat ini. Harusnya kita pergi ke tempat lain supaya nggak ketemu sama dia." Zio gusar karena Samuel tampaknya benar-benar terobsesi untuk memiliki Davina.
"Salah sendiri kenapa dikenalin? kalo nggak ada acara konyol jodoh-jodohan segala pasti Davina sama dia nggak saling kenal dan dia juga nggak akan bersikap agresif seperti itu" Davina mengalungkan tangannya di leher Zio dengan senyum dan tatapan puas. Ia jadi punya kesempatan untuk meluapkan kekesalannya atas ulah pria itu yang sempat ingin menjodohkan nya dengan Samuel hingga berakhir merepotkan seperti ini.
"Alasan om melakukan itu sama seperti saat om Zio ingin mendekati Safira" lirih Zio balas menatap Davina.
"Kenapa sebut-sebut nama tante itu? om Zio kangen sama dia?" Mood gadis itu berubah mendengar bibir Zio mengucapkan nama gadis lain.
"Om hanya menjelaskan alasan kenapa om sempat ingin menjodohkan kamu dengan Samuel sayang, bukan karena apa-apa" Zio menggigit pelan pipi Davina. Ia begitu gemas saat kekasihnya menunjukkan raut cemburu seperti ini.
Davina masih memanyunkan bibirnya, namun terlihat gurat kemerahan pada wajah cantik itu akibat apa yang Zio lakukan.
"Kenapa sih om dulu nggak berusaha untuk memperjuangkan perasaan om, malah dihantui ketakutan-ketakutan yang nggak jelas"
"Kita kan uda berkali-kali membahas ini sayang" Tapi apa boleh buat, namanya juga perempuan. Selalu mengingat dan mengungkit kesalahan yang sudah-sudah.
"Oh ya om, tadi Samuel sempat berasumsi bahwa pertemuan Davina sama dia di sini sebenarnya emang udah diatur sama om Zio dan pak Beni. Dia bilang Ini bagian dari rencana kalian berdua melanjutkan perjodohan itu" ucap Davina yang memancing ekspresi terkejut kekasihnya.
"Dia bilang begitu?" tanya Zio tak percaya.
"Iya" Davina mengangguk pasti.
"Itu karangan bebasnya, om udah cukup lama nggak ketemu pak Beni" Kekesalan Zio kembali bertambah mendengar cerita Davina tentang ucapan Samuel.
"Tapi masuk akal juga sih, om Zio kan rekan bisnis pak Beni yang cukup dekat. Masa om nggak tau kalo pak Beni ada proyek di sini. Om emang sengaja ya ingin mempertemukan Davina sama Samuel?" Davina menatap curiga pada Zio. Namun ia berusaha menahan tawa melihat wajah panik kekasihnya.
"Jadi kamu percaya ucapan Samuel? ya ampun sayang itu sama sekali nggak masuk akal. Masa om Zio mengatur pertemuan kekasih om sama cowok lain?" Zio menatap tak percaya pada Davina. Gadis itu mengulum senyum, ia sangat menyukai kalimat terakhir Zio.
"Om beneran nggak tau pak Beni ada proyek di sini. Terus kalo emang om sengaja mengatur pertemuan kalian harus nya tadi dari toilet om Zio langsung pergi aja dan kasih kesempatan kalian ngobrol berdua" Lanjut Zio dengan gusar. Pria itu menatap heran pada Davina yang malah tertawa.
"Santai aja om, Davina nggak mungkin percaya sama ucapan Samuel" Davina masih tertawa, ekspresi panik Zio terlihat sangat lucu.
"Kamu sengaja ngerjain om? nakal kamu ya" Zio menarik tubuh Davina dan memeluk ya erat sembari mendaratkan kecupan bertubi-tubi di seluruh wajah Davina. Gadis itu beberapa kali berteriak sambil tertawa merespon apa yang Zio lakukan.
"Rasain ya, itu hukuman karena kamu uda berani ngerjain om"
Davina malah tersenyum penuh arti.
🍁🍁🍁
"Besok kita pulang ya" ucap Zio sambil menyerahkan cokelat panas pada Davina yang tengah duduk santai menikmati udara malam.
"Kok pulang? om Zio bilang satu minggu. Ini baru sehari masa uda ngajak pulang. Kita juga belum jalan-jalan di sini" Hari ini mereka hanya bermain di pantai. Masih banyak tempat yang belum mereka jelajahi.
"Ada Samuel di sini, om Zio nggak mau nanti dia melakukan sesuatu yang akan merusak liburan kita. Om janji nanti om akan ajak kamu liburan lagi" Selain itu Zio merasa ia sedang melarikan diri dari sang mama, ia merasa menjadi pria pengecut yang memilih menghindari masalah bukan nya menghadapai dan menyelesaikannya.
Semula ia berfikir mengajak Davina jalan-jalan dan merangkai kenangan indah bersama agar bisa mereka simpan jika pada akhirnya sang mama tetap memisahkan mereka, namun sekarang Zio berubah fikiran. Apapun yang terjadi ia akan berusaha merebut restu sang mama dan tidak akan melepaskan Davina. Keyakinan nya sudah benar-benar utuh kali ini, kisahnya dan Davina tidak boleh hanya menjadi kenangan. Ia ingin memiliki Davina di dunia nyata ungu selamanya hingga helaan nafas terakhirnya.
"Tapi Davina masih mau di sini" Ucap Davina dengan penuh harap.
"Tapi ada Samuel di sini sayang" Zio menggenggam tangan Davina dan menatap dalam pada kekasihnya.
"Ada sesuatu yang harus om selesaikan sayang. Setelah urusan itu selesai, kita bisa terus sama-sama. Kita bisa kembali ke sini kapanpun tanpa gangguan siapapun" lanjut Zio.
"Om bilang uda serahin semua urusan kantor sama orang kepercayaan om Zio" Davina tampak sulit menyembunyikan kekecewaan di wajah nya
"Ini bukan urusan kantor, tapi ini berkaitan dengan masa depan hubungan kita sayang. Om Zio harus segera menyelesaikannya agar kita bisa segera menikah. Kamu mau menikah sama om Zio kan?" Wajah Davina merona, mendengar kata pernikahan membuat hatinya menghangat. Tapi tak ia pungkiri rasa penasaran merasukinya.
"Maksud om Zio?"
"Nanti kamu akan mengerti sayang, kamu cukup mempercayai dan menyerahkan semua urusan ini sama om Zio. Ngomong-ngomong kamu belum jawab pertanyaan om Zio. Apa kamu mau menikah sama om?" Zio terus menatap lekat Davina yang kini tersenyum salah tingkah
"Om Zio ngelamar Davina? nggak romantis banget" timpal gadis itu, ia berusaha menahan gejolak di hatinya.
"Belum, ini cuma pertanyaan untuk memastikan perasaan kamu. Lamaran resminya nanti" jawab Zio.
"Iya Davina mau menikah sama om Zio" jawab gadis itu malu-malu.
"Jadi nggak apa-apa pulang besok?" Meski berat namun Davina mengangguk.
"Tapi om janji kan nanti ajak Davina ke sini lagi?"
"Iya om Zio janji sayang, setelah kita menikah kita akan ke sini atau ke manapun yang kamu mau. lagipula nanti pasti akan lebih menyenangkan kalo kita pergi berdua setelah menikah. Kita bisa melakukan apapun tanpa beban" Zio meringis mengingat kejadian kemarin malam, gairah nya yang sudah di ubun-ubun terpaksa harus ia tahan karena mereka belum terikat pada status yang sah.
🍁🍁🍁