
"Kamu? apa yang kamu lakukan di sini?" Zio menatap tajam pada Silla yang dengan tak tau malunya malah mendekat ke arah Zio. Pria itu menggeser tubuhnya dengan cepat ke arah lemari dan mengambil pakaiannya.
"Ingin bertemu kamu tentu saja, melewati malam bersama dan menghangatkan ranjang mu mungkin?" Zio menatap dengan api kemarahan yang menyala. Apalagi saat Silla tiba-tiba melingkarkan tangannya di tubuh pria itu. Tingkah Silla tak ubahnya seperti wanita murahan yang haus belaian.
"Jangan bermimpi Silla! Aku sama sekali nggak nyangka kamu bisa merendahkan diri seperti ini. Status mu masih seorang istri tapi kamu malah tanpa rasa malu masuk ke dalam kamar seorang pria dan tanpa permisi. Ini kriminal Silla!" Zio melepaskan tangan Silla dan mendorong wanita itu hingga Silla hampir saja terjatuh. Zio amat menyesali kecerobohan dirinya yang tak mengganti password apartemennya. Karena tak pernah terfikirkan oleh Zio bahwa Silla akan melakukan hal kotor ini.
"Tidak mengganti password apartemen sudah menunjukkan bahwa aku masih diterima dengan baik oleh mu dan pintu apartemen mu masih terbuka lebar untukku. Jadi aku bisa datang kapanpun aku mau kan? seperti dulu." Nada suara Silla ia buat menggoda dengan de s ahan nya, terdengar begitu memuakkan di telinga Zio
"Aku nggak nyangka kamu kembali tinggal di sini. Aku sangat beruntung padahal aku hanya coba-coba datang ke sini, mungkin ini memang bagian dari cara takdir bekerja untuk kembali menyatukan apa yang sempat terpisah. Kamu juga masih mengharapkan ku kan? Terbukti sampai detik ini kamu masih betah menyendiri" lanjut Silla dengan kepercayaan diri yang penuh. Ia belum menyerah, wanita itu kembali mendekat ke arah Zio.
"Berhenti di situ, aku bisa melakukan apapun yang akan membuat kamu menyesali kelancangan kamu ini seumur hidup. Aku tegaskan padamu, jangan terlalu percaya diri Silla. Aku masih sendiri hingga detik ini bukan karena aku msh mengharapkan mu, tapi karena Davina. Dia adalah alasan dari semua yang aku lakukan, bahkan Davina adalah alasanku untuk bernafas" tegas Zio sinis. Lalu pria itu dengan sigap berjalan menuju kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam. Beruntung Silla tak sempat menghentikan langkahnya. Zio segera mengenakan baju dan celananya, sangat berbahaya jika ia berduaan masih dalam kondisi tanpa pakaian.
Bukan karena takut tergoda, melainkan Zio tak ingin kemungkinan terburuk terjadi. Bisa saja Silla menjebaknya dengan mengundang seseorang untuk memergoki mereka berdua lalu mengarang cerita yang akan menyudutkannya. Silla terlalu licik, dan Zio harus mewaspadai wanita itu bukan?
Setelah cukup lama berfikir Zio membuka pintu kamar mandi nya, hal yang tak terduga kembali membuat amarah Zio tersulut, Silla sudah menunggunya di depan pintu dengan hanya memakai pakaian dalam yang menunjukkan bagian-bagian tertentu tubuhnya
"Kamu benar-benar wanita gila!" Zio mengeram kesal.
"Jangan munafik Zio, ayo kita habiskan malam ini dengan penuh cinta. Aku menyerahkan diriku seutuhnya padamu Zio, nikmatilah apa yang tak sempat kamu nikmati saat kita bersama dulu." Zio menatap miris pada Silla. Ia tak habis fikir kenapa Silla bisa berubah sangat menjijikkan seperti ini.
"Hanya dalam mimpimu" Zio terpaksa harus bersikap kasar, ia memegang pundak tubuh Silla dan mendorong nya ke arah ranjang. Zio memanfaatkan hal itu untuk segera berlari keluar. Ia yakin Silla tak akan berani menyusul dengan pakaian minimnya.
Pria itu terus berlari menuju lift, tak peduli Silla meneriakkan namanya berkali-kali. Ia hanya ingin segera keluar dari sana dan menghindari aksi nekat Silla yang mungkin saja akan lebih parah.
🍁🍁🍁
"Om Zio?" Davina dikejutkan dengan kedatangan Zio ke rumahnya, padahal sudah hampir jam 10 malam. Namun ia lega karena sejak tadi ia begitu gusar menunggu Zio yang tak kunjung menghubunginya. Padahal biasanya pria itu akan menelfon dan menemani nya hingga ia tertidur.
Keterkejutan Davina bertambah saat Zio langsung memeluknya dengan erat. Ia bisa merasakan kekasihnya tengah gundah. Davina ingin bertanya namun ia berusaha menahan nya sampai Zio sendiri yang mulai bercerita. Davina mengusap punggung pria itu dengan lembut dan penuh cinta.
"Apa oma tetap menolak?" Tebak gadis itu, Davina memang mengetahui bahwa kekasihnya itu menemui sang mama selepas mengantarnya tadi sore.
Zio menghela nafas kasar. Ia melepaskan pelukannya lalu menatap pada Davina
"Iya mama masih menolak, tapi om Zio sudah menegaskan pada mama bahwa om Zio nggak mau menerima perjodohan itu." Zio kembali menghela nafas untuk mengusir kegelisahannya atas kejadian yang baru saja menimpanya. Ia ragu untuk bercerita pada Davina, namun setelah menimbang Zio memutuskan untuk jujur. Sebaiknya Davina tau sekarang dari pada nanti terjadi hal yang tak diinginkan apalagi kalau sampai terjadi kesalahpahaman yang membuat hubungan mereka semakin runyam.
Cukup rasanya menghadapi penolakan mama Ayumi, Zio tak mau menambah permasalahan dalam hubungannya dengan Davina.
"Sebenarnya ada yang mau om Zio ceritakan" Zio menatap pada Davina yang kini terlihat penasaran.
"Tadi Silla datang ke apartemen om Zio" sesuai tebakan pria itu, Davina tampak begitu kaget. Entah akan seperti apa respon kekasihnya andai Ia tau dari orang lain apalagi jika tau dari mulut Silla.
"Tiba-tiba dia sudah ada di kamar om Zio ketika om keluar dari kamar mandi" Zio menjelaskan sejujur-jujurnya tanpa menutupi apapun.
"Om Zio memang salah, tak mengganti password apartemen yang memang Silla tau ketika kami masih..." Zio tak melanjutkan ucapannya saat melihat Davina yang menebarkan aura kemarahan dengan tatapan tajamnya. Lengan kokoh Zio segera menangkap tubuh Davina dan merengkuhnya dengan kuat, Zio takut Davina pergi karena kecewa padanya tanpa mendengarkan ceritanya secara utuh.
"Tak terjadi apapun sayang, om berani bersumpah demi Tuhan! Silla memang berniat menggoda om Zio, tapi percayalah sedikitpun om tak tergiur dengan ulahnya. Om Zio malah merasa begitu jijik, jangankan untuk menyentuhnya, melihat nya saja om Zio rasanya ingin muntah" ucap Zio penuh penekanan. Tentu saja Davina sedikitpun tak meragukan Zio, ia menyimpan kemarahan pada aksi Silla yang lancang menggoda kekasihnya.
"Makanya om cepat-cepat ke sini meninggalkan wanita itu dan segera menceritakannya padamu agar tidak terjadi kesalah pahaman andai Silla mengarang cerita yang tak benar"
"Kalo Silla menjebak om Zio dengan memasang kamera di dalam kamar om Zio seperti di film-film lalu menyebarkannya pada rekan bisnis om Zio bagaimana? nama om Zio akan rusak. Orang-orang akan menganggap om Zio pria buruk karena bermain gila dengan istri orang" Zio tersenyum, meski pendapat Davina terkesan begitu drama namun kemungkinan itu tetap saja ada. Ia lega Davina tak menaruh curiga malah mengkhawatirkan dirinya.
"Mas Zio tak peduli pada pendapat orang sayang, yang penting kekasih mas menaruh kepercayaan dan sedikitpun tak meragukan kesetiaan mas Zio padamu" Bisik pria itu. Zio mengigit kecil pipi Davina yang lagi-lagi berubah kemerahan.
🍁🍁🍁