
Davina lega saat Samuel langsung mengajaknya turun dan kembali ke ruangan di mana Zio dan pak Beni berada. Davina dapat melihat kelegaan di wajah Zio saat melihat dirinya masuk.
"Kalian sudah selesai ngobrolnya? kenapa cepat sekali" ucap pak Beni saat melihat keduanya.
"Davina kedinginan pa" Ucap Samuel. Zio menatap khawatir pada Davina.
"Davina mau pulang om, ngantuk" ucap gadis itu, ia sudah tak tahan lagi ingin segera membenamkan diri dalam pelukan Zio karena resah yang begitu mengganggu hatinya.
"Pak Beni terima kasih atas jamuan nya, sepertinya kami harus pulang duluan. Davina juga harus sekolah besok" Davina sedikit tenang karena Zio menuruti permintaan nya.
"Baiklah pak Zio, semoga selain hubungan bisnis kita juga bisa menjalin hubungan keluarga" Pak Beni tersenyum penuh arti.
"Kalau masalah itu kita serahkan pada Davina dan Samuel pak" Ucap Zio.
Setelah berbasa basi beberapa saat akhirnya Zio dan Davina benar-benar pamit.
Saat sudah di mobil, Zio yang memahami bahwa perasaan Davina sedang tidak baik-baik saja segera menarik tubuh gadis itu dan membawanya ke dalam dekapannya.
Davina yang sejak tadi menahan akhirnya menumpahkan rasa yang mengganggu hatinya. Ia menangis sesegukan di dalam pelukan Zio.
"Kenapa sayang? Kamu diapain sama Samuel?" Zio teramat khawatir, apalagi tangis Davina semakin pecah. Zio mengusap rambut gadis itu dengan perasaan tak menentu.
Davina tak menjawab pertanyaan Zio, ia masih menikmati tangisannya, menumpahkan segala keresahan, ketakutan dan juga kekecewaannya pada Zio karena membiarkan Samuel membawanya pergi.
"Davina takut, Davina nggak suka sama Samuel" Davina merasa tidak nyaman pada tatapan dan seringaian pria itu. Ia sama sekali tak merasa aman di dekatnya, malah merasa dirinya terancam.
"Kayaknya Samuel bukan pria baik-baik. Davina nggak mau ketemu dia lagi om" Keluh Davina masih terisak. Meski sudah 18 tahun dan sebentar lagi akan lulus menengah atas namun Davina tak pernah didekati oleh pria seagresif Samuel. Walaupun Tomi dan beberapa teman di sekolahnya dengan jelas menunjukkan ketertarikan padanya namun ia tak pernah merasa takut seperti saat Samuel menatap nya.
"Ada apa? Samuel berbuat yang tidak baik ke kamu?" Zio meraih wajah Davina agar menatap padanya setelah tangisan gadis itu sedikit mereda.
"Enggak, tapi tatapan matanya serem om. Kayak mesum gitu. Davina nggak suka, apalagi dia bilang tertarik sama Davina karena berbeda sama gadis-gadis kebanyakan yang langsung menunjukkan rasa suka ke dia. Sementara Davina enggak. Dia kira dia sekeren itu apa sampai-sampai semua perempuan harus bertekuk lutut sama dia" gerutu Davina.
"Tapi beneran nggak macam-macam sama kamu kan?" masih terbesit kekhawatiran pada diri Zio.
"Enggak tapi Davina takut dia bilang merasa tertantang dan memastikan bahwa Davina akan suka sama dia. Terus dia maksa minta nomor Davina, kalau nggak dikasih dia nggak mau ajak Davina turun dari rooftop buat ketemu om Zio" Adu gadis itu lagi.
Zio lega apa yang ia takutkan tak terjadi, sebagai seorang pria ia paham jika Samuel merasa tertantang untuk menaklukkan Davina yang tak tertarik padanya sementara ada banyak wanita di luaran sana yang memujanya.
"Davina nggak mau sama Samuel om" Davina menatap pada Zio.
"Iya kalau emang nggak suka nggak usah ketemu lagi" Zio mengumpati dirinya yang merasa bahagia karena Davina tak menyukai Samuel, padahal ia sendiri yang menginginkan Davina bisa bersama pria lain agar perasaannya pada Davina bisa lenyap.
"Beneran ya om, jangan terima lagi tawaran pak Beni untuk makan malam atau apapun. Davina nggak mau om" Davina kembali menyerukkan kepalanya ke dalam dada Zio.
🍁🍁🍁
"Vin aku uda buka-buka internet cara mendekati pria yang jauh lebih dewasa. Mungkin bisa dicoba" ucap Lea, keduanya sedang berada di kamar Davina. Hari ini sengaja Davina tidak menemani Zio di kantor sepulang dari sekolah karena sudah janjian untuk bertemu Lea. Karena Zio jarang sekali mengizinkannya pergi keluar tanpa pria itu maka Davina meminta Lea yang datang ke rumahnya.
Tadi setelah makan siang bersama Zio, Davina langsung minta diantar sopir pulang ke rumah sementara Zio lanjut bekerja.
"Nggak aneh-aneh tapi kan?" Tanya Davina ragu.
"Ya enggaklah, emang aneh-aneh gimana?" Lea bertanya dengan ekspresi menyebalkan.
"Nggak usah diperpanjang, jelasin aku harus gimana?"
"Menurut artikel ini, ada 6 langkah yang harus dilakukan. Pertama buat dia penasaran tentang kamu" ucap Lea.
"Ah om Zio kayaknya nggak penasaran lagi deh sama aku, dia udah paham banget aku luar dalam Lea" Ucap Davina lesu.
"Masih ada cara selanjutnya Vin, jangan menyerah oke. Cara ke dua tunjukkan kesopanan dalam sikap dan tutur kata" Lea menjeda ucapannya dan menatap penuh tanya pada Davina. "Selama ini kamu selalu bersikap sopan sama om Zio?" Davina hanya mengangguk. Entah mengapa dirinya mulai meragukan saran-saran dari sahabatnya itu akan benar-benar membantu atau tidak.
"Cara ke tiga, ehem ini penting nih Vin. Tunjukkan sisi dewasa mu. Aku yakin pasti selama ini kamu manja banget kan sama om Zio, mulai sekarang coba deh bersikap dewasa dan mulai mengerti dia, jangan kamu mulu yang minta dimengerti" ucap Lea seakan menghakimi.
"Iya sih aku emang aku manja, mungkin mulai sekarang harus coba lebih dewasa ya" Selama ini Davina selalu memaksakan keinginannya pada Zio, sekarang ia harus bisa menurunkan egonya.
"Bener tuh, kamu harus bisa jadi tempat bersandarnya dia sesekali. Karena dia nggak selamanya tangguh Vin, adakalanya dia rapuh." Davina mengangguk paham.
"Lanjut yah ke cara ke empat. Tebar pesona mu di hadapannya. Dengan tebar pesona om Zio jadi tau kamu menyukainya meski nggak secara langsung. Tunjukkan kalo kamu bisa jadi wanita yang anggun. Buat matanya sukar berpaling darimu lewat tatapan mata dan senyuman hangat. Bisa nggak kayak gitu?" Davina tak langsung menjawab karena ia sendiri tak yakin.
"Aku coba deh" Ucap Davina akhirnya.
"Terus cara ke lima berikan kejutan kecil, lalu yang terakhir ungkapin perasaan kamu ke dia" tutup Lea.
"Susah semua Le, aku nyerah aja deh kayaknya" Keluh Davina putus asa.
"Masa sih susah? ya udah kalo mau nyerah kamu sama Tomi aja. Nggak usah sama om Zio" Ucap Lea sambil menutup ponselnya.
"Maunya sama om Zio nggak mau sama Tomi" ucap Davina dengan nada manja.
"Eits jangan manja gitu ngomongnya, harus dewasa oke?" Lea mengangkat telunjuknya ke arah bibir Davina yang tampak manyun.
🍁🍁🍁