
"Om mau ke mana? om jadi mau dinner sama tante Safira?" Davina menatap curiga pada Zio yang terlihat rapi saat keluar dari kamarnya. Ia ingat sempat mendengar pria itu membatalkan makan malam pada Safira saat ingin menemani dirinya menonton dan akan menggantinya dengan malam berikutnya.
"Iya, om udah terlanjur janji" ucap Zio, percuma untuk menutupi karena Davina sudah mendengar pembicaraannya dengan Safira.
"Nggak boleh, kan Davina uda bilang om Zio nggak boleh deketin tante Safira atau tante Silla" ucap Davina lirih dengan tatapan sendu, menunjukkan harapan besar bahwa demi dirinya Zio akan membatalkan rencana makan malam itu.
"Malam ini aja, hanya menunaikan janji yang terlanjur om buat pada nya" Zio balas menatap Davina berharap gadis itu mengerti.
"Ya udah, tapi Davina kecewa sama om Zio" Davina menampakkan jelas kekecewaan di wajahnya sebelum kemudian meninggalkan Zio yang terpaku menatap nya.
Zio membuang nafasnya perlahan, melihat kesedihan di wajah Davina sungguh melukai hatinya. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
Setelah berhasil menata hatinya dan meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja, Zio melangkahkan kakinya keluar menuju mobilnya. Ia memerintahkan pada sopir untuk segera membawa mobil menuju rumah Safira.
Tanpa Zio ketahui Davina mengintip di balik jendela kamarnya dengan mata berkaca-kaca. Ia meraba dadanya yang rasanya ngilu. Ada rasa kecewa dan sakit yang bercampur mengisi hati Davina.
Bayangan Zio berduaan lalu bermesraan dengan Safira berputar di otaknya membuat gadis itu memegangi kepalanya dengan panik.
Dari apa yang ia rasakan sekarang Davina seolah mengerti bahwa perasaan ini bukan sekedar karena ia takut perhatian Zio terbagi jika pria itu bersama wanita lain, namun lebih dari itu.
Davina membuka ponselnya, ia bermaksud menelfon Lea untuk meyakinkan hatinya tentang apa makna dari perasaan nya saat ini.
"Hallo Lea" Davina berusaha menormalkan suaranya agar Lea tidak curiga.
"Ada apa" Balas sahabatnya di ujung telefon.
"Kamu pernah cemburu?" tanya Davina ragu.
"Emang kenapa? kamu lagi cemburu sama om Zio?" Davina menggerutu pada tembakan Lea yang tepat sasaran.
"Nggak tau cemburu atau bukan, om Zio barusan pergi makan malam sama sekretarisnya Le. Terus aku tiba-tiba ngebayangin mereka bermesraan. Aku jadi ngerasa sesak nafas, hati aku sakit kayak disilet-silet. Badan aku gemetaran Lea aku nggak suka" Tidak terasa air mata mengalir di pipi gadis itu.
"Iya kayaknya kamu cemburu Vin, kamu kayaknya beneran suka sama om Zio. Bukan sekedar takut perhatiannya terbagi. Kamu serius suka sama om-om Vin?" suara Lea terdengar prihatin namun Davina merasa kesal pada pertanyaan terakhir Lea.
"Kamu sendiri kan yang bilang kalo om Zio tampan dan kamu aja sering baper cuma melihat ketampanan nya aja. Jadi nggak heran kalo aku suka" Sungut Davina yang disambut kekehan menyebalkan dari Lea.
"Iya-iya, duh nggak nyangka yah sahabat aku yang puber nya telat sekarang jatuh cinta, sekalinya jatuh cinta nggak main-main. Langsung sama om-om" Ledek Lea sambil tertawa kencang, Davina cemberut dengan wajahnya yang merona padahal Lea meledeknya hanya lewat telefon bukan secara langsung.
"Udah ah kamu nyebelin" Davina langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Lea.
Davina melangkah menuju ranjang dan merebahkan dirinya. Ia menatap langit-langit kamar dengan kedua tangan yang ia letakkan di atas dadanya.
"Sekarang apa?" Bisik Davina, ia tak tau harus melakukan apa selanjutnya atas perasaan yang ia miliki pada Zio. Namun ia masih bertanya-tanya benarkah yang ia rasakan ini cinta?
Ia merasa selalu bahagia saat bersama Zio, merasa rindu dan ingin cepat pulang saat ia sedang sekolah atau pergi tanpa pria itu, dan ia merasa tak suka saat membayangkan Zio bersama wanita lain, juga perasaan-perasaan lain yang tak mampu Davina jelaskan menyangkut Zio. Jadi benarkah ini cinta? Jika iya maka harus bagaimana?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk dalam fikiran gadis itu.
🍁🍁🍁
Rasa bersalah menyelinap di hatinya, ia merasa menjadi pria brengsek yang mempermainkan Safira. Ia menjadikan gadis itu sebagai pelarian, dan itu menunjukkan betapa ia seorang pengecut.
"Terima kasih karena sudah bersedia makan malam bersama saya Safira" Ucap Zio setelah selesai mereka telah selesai menikmati makan malam.
"Sama-sama pak, saya juga berterima kasih" Ucap Safira tersenyum manis, namun di balik senyuman itu ia menyembunyikan kekecewaan karena sepanjang makan malam Zio lebih banyak diam. Bahkan sekarang saat mengajak nya berbicara Zio masih dengan bahasa yang kaku dan terlalu resmi untuk ukuran makan malam dua orang yang sedang melakukan penjajakan. 'Penjajakan?' Safira tersenyum mengejek pada dirinya sendiri yang sepertinya sudah berharap terlalu jauh
"Ini sebagai ungkapan terima kasih saya karena kamu sudah bekerja dengan sangat baik" ucap Zio lagi. Safira tersenyum pahit, ternyata semua memang jauh dari harapannya
"Apa bapak akan memecat saya setelah ini?" Tanya Safira yang tak tau harus merespon apa pada ungkapan pria itu yang sama sekali tak ia duga.
"Tentu saja tidak Safira"
"Syukurlah, saya kira setelah mengucapkan terima kasih bapak akan memecat saya" ucap Safira sambil tersenyum.
"Mana mungkin saya memecat kamu yang sudah bekerja dengan baik." Zio lalu mengangkat tangan nya untuk melihat jam. Ternyata sudah 2 jam ia meninggalkan rumah. Pantas saja terasa begitu lama, Meski raganya berada di sini nyatanya fikiran dan jiwanya berada di rumah. Bayangan Davina sejak tadi tak beranjak dalam benaknya. Karena itu Zio membatalkan niatnya untuk mendekati Safira. Ia tak mau sampai menyakiti Safira jika nanti ia tak berhasil mengenyahkan perasaan nya pada Davina. Biarlah ia menanggung kesakitan nya sendiri tanpa mengorbankan orang lain.
"Kita pulang sekarang Safira, sekali lagi terima kasih" ucap Zio.
"Baik pak" Safira mengangguk, lagi-lagi gadis itu tersenyum getir.
🍁🍁🍁
Selamat menikmati yang masih bisa menikmati, yang merasa bosan karena merasa terlalu lama menunggu Davina dan Zio mengungkapkan perasaan nya saya mohon maaf ya 🙏🙏
Konfliknya memang di situ guys, tentang Zio yang mencintai Davina namun ia tak memiliki rasa percaya diri untuk memperjuangkan cintanya karena masih dihantui rasa bersalah, secara Zio menganggap dirinya sebagai penyebab kedua orang tua Davina meninggal.
Kalau mereka langsung saling menyatakan cinta dan membucin berdua artinya konfliknya selesai dan novelnya End di bab 1 aja.
Mungkin aku cukup buat seperti ini aja ya, yang langsung ke poin nya...
"Davina, aku mencintaimu"
"Aku juga mencintai mu om Zio"
"Baiklah mari kita menikah"
"Mari"
Dan mereka hidup bahagia selamanya...
The End....
Mau yang kayak gitu? 😂😂
Note : Bukan baper, cuma lagi menglelah aja. Ini udah aku kurang-kurangin baca komentar supaya nggak buyar, biar tetap menulis sesuai alurnya.
❤️🥰😍