
"Sebelum nya saya minta maaf pak, saya ingin memastikan semua hal diantara kita pada pak Zio agar tidak ada keraguan lagi. Supaya saya tidak semakin lama menduga-duga"
Davina menghentikan tangannya yang akan membuka handle pintu saat samar-samar mendengar suara Safira yang berbicara pada Zio di dalam ruangan kekasihnya. Hari ini Davina pulang lebih awal dari biasanya, karena Zio tidak tau itu, Davina meminta diantar Lea ke kantor Zio sekalian ingin memberi kejutan pada pria itu.
Davina menajamkan telinganya, ia ingin memastikan arah pembicaraan Safira.
"Apa maksud kamu Safira?" Terdengar suara Zio menimpali ucapan sekretarisnya. Meski tak melihat langsung namun Davina meyakini Zio sedang menatap heran pada Safira.
"Ini soal makan malam waktu itu, apa benar maksud pak Zio mengajak saya makan malam beberapa waktu lalu hanya sebagai ungkapan terima kasih karena saya sudah bekerja dengan baik selama ini? apa memang benar-benar tidak ada maksud yang lainnya?" Davina tersenyum masam, ia tak habis fikir mengapa muka Safira begitu tebal hingga mempertanyakan hal itu pada Zio.
"Tentu saja iya, bukannya waktu itu sudah saya jelaskan Safira?" Zio tak mengerti mengapa Safira kembali mengungkit soal makan malam itu, ia kira Safira sudah menerima alasannya.
"Iya, saya hanya ingin lebih memastikannya lagi. Jujur saya sudah menyukai bapak sejak lama, dan saya berharap makan malam beberapa waktu lalu itu tidak hanya ungkapan rasa terima kasih. Namun sepertinya saya terlalu jauh berharap. Tapi sekarang saya lega, dengan begitu langkah saya untuk menerima perjodohan orang tua saya bisa saya jalani dengan ringan. Maaf atas kelancangan saya pak, saya sudah lama sekali menahan diri kali ini saya harus memberanikan diri untuk memastikan semua ini agar saya tidak menyesal pada keputusan yang akan saya ambil." ucap Safira terbata, Davina merasa prihatin namun sebagai seorang kekasih ia juga merasa cemburu.
"Maaf kalau ternyata niat saya malam itu membuat kamu memaknainya berbeda. Tapi itu benar-benar murni sebagai rasa terima kasih saya. Saya mohon maaf Safira, dan saya menghargai perasaan kamu. Tapi maaf saya tidak bisa memaksakan hati saya untuk membalas perasaan kamu. Saya yakin jodoh yang dipilihkan orang tua kamu adalah jodoh terbaik yang bisa memberikan kebahagiaan untuk kamu ke depannya" Zio merasa bersalah atas niat awal yang sebenarnya, untung saja ia tak terlalu jauh melibatkan Safira atau gadis itu akan lebih terluka lagi.
"Terima kasih pak, saya sekalian ingin pamit pak. Saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya" Safira menyodorkan amplop yang berisi surat pengunduran dirinya.
"Apa harus seperti ini Safira? kenapa harus mengundurkan diri?" Tentu saja Zio merasa terkejut atas keputusan Safira yang tiba-tiba.
"Saya rencananya akan ikut suami yang kebetulan berdomisili di luar kota setelah menikah nanti sehingga tidak memungkinkan untuk saya tetap bekerja di sini" Lagipula ia merasa kehilangan muka karena jelas-jelas Zio telah menolak cintanya.
"Baiklah Safira, walaupun berat rasanya harus melepaskan sekretaris sebaik dan secerdas kamu. Tapi saya menghargai keputusan kamu. Semoga kamu bahagia" Ucap Zio setelah menghela nafas nya.
"Boleh saya minta sesuatu sebagai tanda perpisahan pak?" Davina yang masih setia mencuri dengar obrolan kekasihnya dan Safira membulatkan matanya, ia bisa menebak arah pembicaraan Safira. Ah bukan bermaksud tidak berempati sedikit saja, namun ia sungguh tak akan rela jika Safira meminta seperti apa yang ada di otak nya kini.
"Katakan, sebenarnya tanpa kamu minta saya pasti akan memberikan hadiah sebagai ucapan terima kasih atas pengabdian kamu selama ini."
"Saya hanya meminta pelukan sebagai salam perpisahan pak" dada Davina bergemuruh. Apa yang ia fikirkan benar-benar terjadi.
"Om Zio" Davina memutar handle pintu dan memanggil kekasihnya dengan ceria sebelum pria itu menjawab permintaan Safira.
Davina melihat ekspresi kaget Safira atas kedatangan nya yang tiba-tiba.
"Sayang, kok udah pulang?" Zio menatap Davina dengan sama terkejutnya.
"Ada rapat dewan guru membahas ujian akhir nanti. Makanya siswanya pulang cepat. Davina ganggu ya om?" Tanya Davina dengan raut wajah yang ia buat seperti merasa bersalah.
"Kalian lagi bahas kerjaan?" tanya Davina, ia menatap pada Safira yang masih mematung.
"Enggak, Safira hanya berpamitan dan memberikan surat pengunduran diri karena akan menikah sebentar lagi" Ucap Zio.
"Oh gitu, selamat ya tante jangan lupa undang kita ya"
"I-iya Davina, baiklah saya permisi pak. Sekali lagi terima kasih" Safira membungkukkan tubuhnya dan segera berlalu dari hadapan Davina dan Zio, ia tersenyum pahit. Safira merasa benar-benar kehilangan mukanya saat ini.
Davina menatap pada Zio yang masih memandang ke arah pintu meski Safira telah hilang dari pandangannya.
"Ada apa sayang?" Tanya Zio saat mendapati tatapan sini Davina setelah pria itu mengalihkan pandangannya.
"Om sedih banget ya ditinggal tante Safira? om Zio sedih nggak bisa kasih pelukan terakhir karena Davina keburu masuk?" Ucap Davina, melihat kilatan cemburu di mata Davina Zio tak bisa menahan dirinya untuk tertawa.
"Kamu lucu kalo lagi cemburu begini, kamu mendengar semuanya?" Zio mengusap rambut Davina. "Om Zio tetap akan menolak memberikan Safira pelukan walaupun kamu nggak ada sayang" lanjut Zio sambil beralih mengusap pipi Davina yang masih memasang wajah tak ramah.
"Bohong" Davina semakin memanyunkan bibirnya. Zio yang tak tahan melihatnya segera melahap dengan rakus bibir itu, dada Davina bergemuruh mendapatkan serangan tak terduga dari Zio.
Wajah Davina memerah, ia memalingkan pandangannya setelah Zio melepaskan sesapan pada bibirnya.
"Beneran sayang, om Zio nggak bohong. Om Zio bukan pria murahan yang akan dengan mudah membagi pelukan pada wanita lain, percayalah om Zio akan menjaganya hanya untuk Davina, mama, dan kak Yara" Zio menarik Davina ke dalam dekapannya, Davina mengulum senyum malu-malu. Ungkapan manis Zio terdengar tulus.
"Davina juga akan menjaganya hanya untuk om Zio" Davina membalas pelukan Zio, niatnya untuk merajuk lebih lama pada pria itu batal sudah. Zio terlalu pandai menaklukkan hatinya.
"Harus sayang, jangan pernah biarkan siapapun menyentuh kamu. Kamu hanya milik om Zio, begitupun sebaliknya" Bisik Zio.
"Oh ya om, Davina jadi ikut penasaran. Sebenarnya niat om Zio mengajak tante Safira makan malam waktu itu beneran cuma ungkapan terima kasih atau ada niat lain?" Davina melepaskan diri dari dekapan Zio dan menatap curiga pada Zio yang kini terlihat salah tingkah.
"Sebenarnya om Zio ingin mendekati Safira, berharap bisa menghapus perasaan om Zio padamu. Karena waktu itu om Zio benar-benar kebingungan atas perasaan yang om fikir nggak seharusnya ada, apalagi saat itu om nggak tau kalo ternyata perasaan kita sama. Tapi sepanjang makan malam om Zio malah kefikiran kamu terus. Makanya om Zio membatalkan niat om buat deketin dia" Ucap Zio apa adanya.
"Om Zio nyebelin, artinya tante Safira benar dong. Ternyata om Zio sebenarnya punya niat lain" Davina merasa begitu kesal menyadari hal itu.
🍁🍁🍁