My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 68



"G-gaya baru?" Tanya Davina terbata.


"Iya" Jawab Zio sambil menyeringai. Ia menarik Davina hingga terjatuh di pangkuannya. Belum terjawab kebingungan sang istri Zio sudah lebih dulu menautkan bibir mereka. Pria itu menekan tengkuk Davina untuk memperdalam ciumannya, Zio menghisap dan melu mat bibir Davina dengan penuh damba, hasratnya semakin tinggi bersamaan dengan des ahan yang keluar dari bibir Davina.


Davina menahan nafas saat ciuman Zio turun menyusuri lehernya. Bibir basah pria itu mencecap dan menghisap leher nya hingga meninggalkan jejak kemerahan.


"Masshh..." Davina mencengkeram pundak Zio sambil mendongakkan kepalanya ketika ciuman suaminya semakin turun dan kini menyasar dadanya. Meski masih tertutup pakaian, Davina tak bisa menutupi gelenyar hebat yang menjalari tubuhnya saat Zio menciumi bagian dadanya.


Tak cukup hanya menciumi dari luar, Zio mengangkat blouse yang Davina kenakan dan meloloskannya.


"Mas nanti ada yang datang" Davina yang panik menahan tangan Zio yang akan melepaskan kaitan bra nya.


"Pintunya sudah mas Zio kunci, nggak akan ada yang berani masuk tanpa izin mas sayang" Zio melum at sejenak bibir Davina, saat istrinya lengah Zio dengan cepat melepaskan bra yang menutupi salah satu bagian tubuh Davina yang menjadi Favoritnya.


"Arkhh...." Davina meremas rambut Zio, ia merasa panas di sekujur tubuhnya ketika pria itu mengulum dan menyesap bagian puncak dadanya yang mengeras. Davina menekan kepala Zio, rasa nya begitu campur aduk membuat gadis itu kesulitan bernafas namun ia sangat menyukai sensasi ini.


Zio melepaskan sesapan nya pada dada Davina, ia mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkan Davina di atas meja.


Pria itu berdiri dan melepaskan ikat pinggangnya karena merasa sesak pada milik nya. Davina menatap suaminya dengan wajah memerah karena malu yang bercampur dengan gairah.


Davina memalingkan wajahnya saat Zio meloloskan kain penutup terakhir hingga bagian bawah pria itu tak tertutup apapun lagi. Setelah selesai dengan dirinya Zio kembali beralih pada Davina.


"M-mas mau apa?" Tanya Davina panik ketika Zio menarik celana panjang yang ia kenakan.


"Ya mau apa lagi? kamu pasti mengerti apa yang mas mau sayang" Davina pasrah, Zio benar-benar menela**angi dirinya.


Zio memeluk pinggang Davina dan melahap bibir istrinya, ciuman pria itu terasa rakus dan begitu liar. Zio kembali duduk di kursi dan kembali membawa Davina duduk di pangkuannya tanpa melepaskan pertautan bibir mereka.


Zio beralih pada dada Davina, menghisap dan menggigit kecil puncak mungil nan menggemaskan miliki istrinya, Davina menggeliat dan tanpa sengaja bagian bawahnya saling bergesekan menghadirkan sensasi yang semakin membuat keduanya terbakar.


Karena tak sanggup lagi menahan, Zio memegang pinggang Davina dan sedikit mengangkat tubuh istrinya lalu kemudian mengarahkan nya agar tepat berada di atas miliknya yang telah menanti dengan gagah.


"Oghh...." keduanya melenguh dengan mata terpejam merasakan kenikmatan tak terkata ketika milik Zio melesak masuk pada diri Davina. Penyatuan ini begitu sempurna, tak hanya membuat tubuh saling bertaut namun juga kian mengeratkan ikatan hati dan cinta keduanya.


Zio tersenyum mengamati wajah Davina yang masih terpejam tampak berkeringat, nafasnya terengah dengan dada yang membusung. Zio merasa istrinya terlihat begitu seksi dan mempesona. Di mata pria itu semua keindahan di dunia ini telah beralih pada diri istrinya hingga tak ada satu apapun lagi yang mampu menarik minatnya. Semua fokus dan perhatiannya kini hanya tertuju pada istri cantiknya.


Zio mengusap lembut pipis istrinya hingga Davina perlahan membuka matanya. Tatapan penuh cinta keduanya beradu, menancapkan getaran-getaran cinta yang semakin memenuhi jiwa keduanya.


"Kamu suka?" tanya Zio. Davina mengalihkan tatapannya, pertanyaan Zio membuatnya salah tingkah. Karena ini pertama kalinya mereka melakukan hubungan suami istri dengan gaya seperti ini.


"Bergeraklah sayang" Bisik Zio yang memancing tatapan penuh tanya dari istrinya.


Zio akhirnya mengambil inisiatif memegang pinggang istrinya dan mengangkat tubuh Davina lalu kembali mendudukkannya sebelum miliknya terlepas. Keduanya sama-sama terpana akan sensasi yang hadir.


"Seperti itu sayang" Ucap Zio dengan suara berat menandakan gairahnya mulai memuncak.


Pria itu kembali menuntun Davina mengulangi apa yang dilakukannya sebelumnya, hal itu berhasil memancing hasrat Davina hingga perlahan menekan rasa malunya.


Davina mulai bergerak seperti yang Zio ajarkan, melihat tatapan sayu penuh kenikmatan yang terpancar di mata Zio menyalakan semangat pada diri Davina. Membunuh rasa malu yang berusaha menahannya, memuaskan Zio dan membahagiakan pria itu selalu membuat Davina bersemangat.


Zio merasa puas melihat sang istri mulai aktif bergerak. Davina menghentakkan dirinya hingga dadanya ikut bergerak menambah keindahan wanita itu di mata Zio.


Davina melenguh merasakan milik Zio yang terasa menggelitik, menusuk dan mengaduk-aduk bagian sensitif nya. Hujaman pria itu menembus bagian-bagian yang menjadi titik kenikmatan pada diri nya


"Oh mas..." Davina semakin cepat menghentakkan tubuhnya, ia terus menceracau. Sesapan Zio pada dadanya semakin membuatnya tak berdaya menahan gelombang kenikmatan yang akan segera menghantamnya.


Davina terhempas, tubuhnya menegang dan bergetar, Zio memejamkan mata sembari menahan nafas merasakan gelenyar luar biasa pada miliknya akibat remasan kuat otot-otot kewanitaan Davina yang menandakan wanitanya telah merasakan pelepasan pertamanya.


Tubuh Davina terkulai memeluk Zio dengan kepala yang bersandar pada pundak suaminya. Tenaganya terkuras hingga ia merasakan dirinya bagaikan gak bertulang.


Zio paham kondisi Davina tak memungkinkan untuk melanjutkan percintaan dengan gaya sebelumnya.


"Capek? mau udahan?" tanya Zio sambil mengusap rambut Davina.


"Mas belum keluar" lirih Davina.


"Nggak apa-apa, mas bisa nanti aja" Davina bisa merasakan Zio masih sangat bergairah, milik pria itu masih berdiri dengan gagah di dalam dirinya.


"Sekarang aja, tapi boleh sambil tiduran di sofa?" Davina tak mungkin tega membiarkan Zio meredam paksa gairah nya.


"Arghh sayang..." Zio mengeram karena Davina memainkan otot kewanitaannya, Davina sengaja melakukannya karena melihat keraguan suaminya untuk melanjutkan percintaan mereka, Davina ingin mengakhiri permainan jika hasrat pria itu benar-benar tuntas.


Zio menyerah, tanpa melepaskan penyatuan mereka pria itu membawa tubuh mungil Davina dan menidurkannya di sofa.


"Kita mulai ya" Bisik pria itu. Zio mulai menggerakkan pinggulnya setelah mendapat anggukan dari Davina, semula ia melakukannya dengan perlahan namun lama kelamaan semakin cepat dan liar. Hasrat Davina kembali bangkit, lenguhan keduanya saling bersahutan memenuhi ruang kerja Zio. Keduanya seolah tak peduli andai ada yang mendengar suara-suara percintaan mereka.


🍁🍁🍁


Dunia hanya milik berdua, yang lainnya cuma nyewa 😂😂🤭🤭