My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 36



Davina berbunga-bunga karena perlakuan manis Zio padanya. Pria itu langsung memenuhi keinginan nya padahal baru ia sebutkan tadi pagi.


"Toiletnya di mana?"


"Di sana om, kenapa?" Davina menunjukkan arah toilet sekolahnya.


"Ini baju ganti buat kamu, nggak mungkin kan naik motor pakai rok" tentu saja Zio tak akan rela paha Davina terekspose dan dinikmati banyak orang saat naik motor bersamanya.


Davina menerima paper bag besar yang disodorkan Zio padanya.


"Davina ganti dulu kalo gitu om" Davina beranjak dari sana menuju toilet, namun ia menghentikan langkah nya saat Zio mengikuti dari belakang.


"Om mau ke mana?" tanyanya heran


"Nemenin kamu sayang, takutnya Samuel nekat nyulik kamu kalo kamu sendirian" ucap pria itu. Davina mengulum senyum, ia gak menyangka Zio akan berfikir sejauh itu.


Dengan senang hati Davina menerima niat baik Zio. Hari ini ia benar-benar bahagia dengan sikap pria itu.


Setibanya di toilet Davina langsung masuk ke dalam untuk berganti baju sementara Zio menunggu di luar.


Ternyata Zio memberikan jeans hitam dengan kaos oblong putih juga jaket kulit. Mata Davina berbinar saat menyadari bahwa jaket kulit miliknya sama dengan jaket yang dipakai Zio.


"Om, ini jaketnya couple ya?" tanya Davina saat ia keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang berbeda. Sangat cantik dan ini pertama kalinya Zio melihat Davina dengan pakaian seperti ini. Biasanya Davina selalu tampil girly dengan dress atau setelan rok yang ia kenakan, tentu saja Davina juga cantik saat berpenampilan demikian, yah Davina selalu cantik dengan style apapun.


"Iya" jawab Zio singkat. Pria itu tersenyum tipis dan memalingkan wajahnya ke arah lain agar Davina tak menyadari dirinya yang salah tingkah. Tadi ia meminta asistennya mencarikan sepasang jaket dan helm untuk nya dan Davina setelah berfikir untuk mengajak gadis itu naik motor. Ia juga meminta asistennya mencarikan celana dan baju ganti untuk gadis itu.


"Kita mau pergi ya om?" Rasanya tidak mungkin langsung pulang jika Zio sudah mempersiapkan semuanya sedetail ini.


"Iya om mau ajak kamu ke suatu tempat" ucap Zio. Ia menarik tangan Davina dan mengajaknya berjalan menuju motor yang terparkir. Sudah tidak ada lagi mobil Samuel di sana, mungkin pria itu pergi saat Davina sedang berganti pakaian.


"Emang om nggak kerja?" Biasanya pria itu selalu sibuk.


"Om lagi free, nggak ada kerjaan mendesak yang harus om kerjakan" Ucap pria itu, ia meraih helm dan memakaikan ke kepala Davina tanpa menatap wajah itu, ia takut tak bisa menahan diri jika menatap mata Davin karena ia menyadari otaknya semakin gila saat bersama gadis itu. Zio tak menyadari sejak tadi mata Davina tak lepas menatapnya dengan senyum yang tak luntur.


"Makasih ya om" untuk hari ini Davina ingin menikmati kebersamaan nya dengan Zio tanpa harus menuntut kejelasan status.


Zio mengangguk dan membalas senyum Davina. Ia memasang helm untuknya lalu menaiki motornya. Davina terpesona, Zio tampak begitu gagah dan tentu saja sangat tampan.


"Ayo sayang naik" pinta Zio


"Iya om" Davina membawa tubuh langsingnya naik ke atas boncengan dengan berpegangan pada pundak Zio.


"Pegangan ya sayang?" ucap Zio setelah memastikan Davina sudah duduk nyaman di jok belakangnya.


Begitupun dengan Zio, tubuhnya terasa panas dengan gelenyar yang menggelegak. Ia menghela nafas untung mengatur ritme jantungnya. Setelah cukup tenang ia menghidupkan dan memacu motornya membelah jalanan.


Raungan kencang motor itu bagaikan alunan merdu di telinga Davina, semuanya terasa romantis dan membahagiakan bagi keduanya.


Ini pengalaman pertama mereka jalan berdua dengan menggunakan motor. Rasanya luar biasa, apalagi saat sesekali Zio mengusap tangan Davina yang melingkar di perut nya.


Davina tidak tau Zio akan membawanya ke mana, gadis itu tak berniat menanyakannya. Asal bersama Zio ia tak masalah akan dibawa ke mana pun pria itu mau. Ia benar-benar menikmati hangatnya bersandar di punggung kokoh pria itu.


Entah sudah berapa lama menempuh perjalanan Zio kemudian menghentikan motornya. Dari yang Davina amati sepertinya Zio membawanya ke kawasan wisata hutan pinus yang menampilkan panorama indah, meski sudah hampir sore namun masih pengunjung yang datang.


"Gimana rasanya naik motor? pegel ya?" tanya Zio sambil membantu gadis itu melepaskan helm. Zio juga merapikan kembali rambut Davina. Bagaimana bisa menghapus perasaan jika perlakuannya selalu manis begini?


"Rasanya menyenangkan, Davina nggak ngerasain pegel sih om. Mungkin karena perginya sama om Zio. Kan kata orang-orang kalau sama orang yang dicintai terasanya cuma yang indah-indah" ucap Davina sambil tersenyum. Ia terkekeh saat melihat Zio mengulum senyum.


"Bisa aja, mulai nakal sekarang hem" Zio mengacak-acak rambut Davina yang sebelumnya sudah ia rapikan.


Zio lalu menggenggam tangan Davina memasuki tempat itu, di sana menawarkan keindahan alam yang memanjakan mata, udaranya terasa sejuk. Sangat cocok untuk menghilangkan penat dari riuhnya kota.


"Ini hutan pinus kan om? Lea pernah nih ke sini sama pacarnya" Ucap Davina yang memancing Zio menatap ke arahnya.


"Tau darimana Lea pernah ke sini bareng pacarnya?"


"Ya ampun om, Lea kan sahabat Davina. Selain karena dia cerita Davina juga lihat foto-fotonya di akun media sosialnya Lea. Foto-foto mereka romantis banget om, jadi pengen" ucapnya sambil tersenyum. Sementara Zio menggelengkan kepalanya.


"Mau cari pacar ah, supaya bisa ajak ke sini dan romantis-romantisan" lanjut Davina. Zio menghentikan langkahnya.


"Kenapa berhenti om?" Davina pura-pura tak menyadari wajah Zio yang menegang.


"Ulangi tadi bilang apa?"


"Ucapan yang mana om? yang mau cari pacar supaya bisa romantis-romantisan di sini?" Ucap Davina dengan raut wajah tanpa dosa. Hatinya bersorak, Ia suka sekali melihat Zio seperti ini.


"Tolong cuci otak kamu, hilangkan pemikiran bodoh itu. Kamu nggak boleh ke sini sama orang lain selain sama om Zio. Nggak perlu cari pacar, om bisa memenuhi semua keinginan kamu" tegas pria itu dengan tatapan dalamnya.


"Tapi kan beda rasanya om, om Zio bukan pacarnya Davina. Davina pengen ngerasain kayak orang-orang jalan bareng pacar. Romantis-romantisan, ah pokoknya bedalah." ucap Davina santai.


"Romantis-romantisan gimana maksud kamu?" tanya Zio dengan tatapan tajam.


"Ehem, yah foto-foto berdua, jalan sambil gandengan kayak yang sekarang kita lakuin, nikmatin pemandangan alam sambil saling tatap-tatapan, dan lain-lain deh om"


🍁🍁🍁