My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 66



"Sayang kan mas uda bilang kalo uda selesai panggil mas Zio" Zio melangkah cepat ke arah Davina yang berada di depan pintu kamar mandi, Davina masih terlihat berjalan dengan tertatih.


"Davina nggak apa-apa om" ucap Davina sembari tersenyum untuk menenangkan sang suami. Davina terlihat lebih segar sehabis berendam air hangat, kini tubuh cantiknya hanya dibalut oleh lilitan handuk yang menampakkan paha dan kaki mulusnya.


Zio menggendong tubuh istrinya, aroma wangi yang menguar benar-benar menguji iman Zio. Ia harus mati-matian berperang melawan hasratnya yang tiba-tiba menggelegak.


"Kamu duduk di sini dulu ya, ranjang nya masih berantakan" Zio mendudukkan Davina di atas sofa.


"Baju Davina mana om?" tanya Davina.


"Nggak usah pakai baju aja ya, mas Zio suka sekali melihat kamu seperti ini" Ucap Zio dengan tatapan penuh arti.


"Om Zio ih, Davina malu" sungut gadis itu, wajahnya merona. Meski ia sudah resmi menjadi istri Zio namun ia masih merasa malu.


Zio berjalan ke arah koper untuk mengambilkan pakaian Davina sambil terkekeh.


"Mau mas Zio pakaikan bajunya?" Tanya Zio sambil menyerahkan dress santai pada Davina.


"Nggak om, Davina bisa sendiri" jawab Davina cepat.


"Loh daleman nya mana om?" Davina menatap penuh tanya pada Zio karena suaminya hanya memberikan pakaian tanpa dalaman.


"Nggak usah, kita kan juga nggak ke mana-mana. Nanti juga pasti akan dilepas lagi" Ucap Zio cuek, sementara Davina membulatkan matanya tak percaya pada ucapan pria itu.


"Makan dulu sayang, abis itu minum obat" Zio membawakan nampan berisi sarapan yang sudah ia pesan sebelumnya saat Davina masih mandi


"Davina bisa sendiri, lebih baik sekarang om Zio mandi dulu aja" tolak Davina saat pria itu akan menyuapinya.


"Oke, nanti langsung minum obatnya ya. Biar cepat sembuh dan kita bisa ngelakuin yang kayak semalam" Ucap Zio sambil mencium kening istrinya, Davina pura-pura sibuk dengan makanannya seolah tak mendengar ucapan Zio. Padahal jantung nya berdegup kencang, tubuhnya berdesir mengingat kegiatan panas yang sudah mereka lewati tadi malam.


"Sayang kalau nanti ada housekeeping yang datang jangan bukain pintu ya. Suruh masuk nanti aja kalau mas Zio uda selesai mandi" Ucap Zio sebelum menutup pintu kamar mandi.


Davina menghembuskan nafas nya dengan lega saat Zio sudah masuk ke dalam kamar mandi, entah mengapa ia jadi salah tingkah dan merasa gugup saat berdekatan dengan Zio. Ia merasa malu mengingat kejadian tadi malam. Davina benci mengingat dirinya yang mende sah dan menjerit saat Zio mencumbunya apalagi saat mengingat semalam Zio melihat keseluruhan dirinya tanpa mengenakan pakaian. Demi apapun tingkahnya tadi malam benar-benar membuatnya merasa sangat malu.


🍁🍁🍁


"Emang itu buat apa om?" Davina nampak bingung melihat Zio melipat sprei yang mereka tiduri tadi malam. Ia melarang housekeeping membawanya.


"Mas Zio mau mengabadikannya sayang, ini bukti keperkasaan dan kehebatan mas Zio yang berhasil memiliki kamu di malam pertama" Ucap Zio dengan bangga menunjukkan noda merah pada sprei, sementara Davina tampak melongo mendengar penjelasan pria itu.


"Jadi mau mas Zio apakan spreinya?" Davina masih tak mengerti.


"Simpan, kita kasih bingkai aja gimana? nanti dipajang di kamar kita" Ucap Zio penuh semangat.


"Emang boleh dibawa pulang?" tanya Davina heran.


"Om Zio ada-ada aja, kok bisa kefikiran kayak gitu" Davina tersenyum takjub.


"Mas Zio tidak mau melewatkan begitu saja momen berharga kita sayang. Malah sebenarnya mas sedikit menyesal, harusnya tadi malam mas merekam kegiatan itu" ucap Zio dengan raut menyesal.


"Ngapain direkam segala, malu-maluin tau" Davina memalingkan mukanya. Ia bersyukur semalam Zio tidak melakukannya, kalau tidak ia pasti akan merasa kehilangan muka mengingat betapa berisiknya ia tadi malam.


"Tadi malam itu benar-benar luar biasa sayang tapi nggak apa-apa meskipun nggak direkam pake kamera, momen tadi malam sudah tersimpan di kepala mas Zio. Des ahan kamu, ekspresi kamu saat kesakitan dan juga saat keenakan semua masih terekam jelas diingatan mas" ucap Zio dengan bahagia, pria itu tak menyadari wajah Davina yang memerah seperti kepiting rebus karena rasa malunya.


"Masih lemas?" tanya Zio sambil menempelkan tangannya di kening Davina.


"I-iya masih" ucap Davina terbata. Ia tau maksud pertanyaan itu.


"Ya udah yuk istirahat" Zio menarik tubuh Davina dan mengajaknya merebahkan diri di ranjang. Pria itu memeluk erat Davina dan mengusap lembut rambut istrinya.


"Tidur ya sayang, biar cepat pulih" Bisik Zio.


"Iya om" sebenarnya Davina merasa bersalah karena membuat Zio harus menahan gairah nya. Padahal ia tau Zio menginginkannya lagi. Hanya saja tubuhnya benar-benar terasa remuk, bahkan bagian intinya masih terasa sakit efek percintaan mereka tadi malam. Padahal Zio hanya melakukannya satu kali. Entah bagaimana jadinya andai Zio meminga beberapa ronde tadi malam.


"Sayang, mas Zio boleh meminta sesuatu?" Pria itu masih terus mengusap rambut Davina dengan penuh kasih sayang.


"Apa om?" Davina sedikit mendongak untuk melihat wajah Zio ketika mendengar nada serius ucapannya


"Mas minta sama kamu, jangan panggil mas Zio 'om' sayang, kamu ini istri mas Zio sekarang. Bukan keponakan apalagi sugar baby" ucap Zio yang membuat Davina mengulum senyum.


"Iya Om eh mas" jawab Davina sambil tertawa.


"Kenapa malah ketawa?" Zio mencubit hidung Davina dengan gemas


"Nggak apa-apa, ngerasa asing aja om eh mas" Davina terkekeh lagi.


Suara tawa Davina seketika hilang, tubuh Davina kembali terasa lemas dengan detak jantung yang menggila saat tiba-tiba Zio mendaratkan ciuman pada bibirnya. Zio menarik dagu Davina dan memperdalam kecupannya. Zio melum at dan menyesap bibir istrinya, lidahnya ikut menelusup masuk menggelorakan gairah Davina hinga des ahan lepas dari bibirnya.


Belitan lidah Zio membuat darah Davina mengalir cepat, hasratnya perlahan bangkit. Pancingan Zio benar-benar berhasil menghilangkan rasa malu yang sempat mendera Davina. Gadis itu mulai membalas permainan lidah suami nya.


Percintaan tak terelakkan, Zio bahkan lupa sebelumnya ia begitu mengkhawatirkan kondisi Davina yang demam. Hasrat yang ia tahan menuntut untuk segera dituntaskan, gairah pria itu berhasil mengalahkan logikanya.


🍁🍁🍁


Guys kisah Safira belum bisa up karena emang lagi sibuk banget di RL, buat up kisah Davina Zio aja ini udah maksain banget nyuri-nyuri waktu. Makanya aku ngerasa beberapa bab ini ceritanya kayak hambar gitu.


Tapi nanti bakalan rutin kok up nya.


❤️