
"Tapi yang penting niat itu nggak om lanjutkan sayang, jangan marah ya" Zio mencium pipi Davina dengan gemas, berharap Davina tak melanjutkan kekesalannya.
"Tapi tetap aja hati Davina nggak bisa terima" Sungut gadis itu.
"Iya om Zio minta maaf, saat itu om terlalu pengecut untuk menghadapi kamu atas perasaan yang om Zio miliki" Nada bicara Zio terdengar getir membuat Davina merasa tak enak hati. Ia sadar memang semua tak mudah, ia juga merasakan kepanikan yang sama saat menyadari perasaan nya pada Zio untuk pertama kali.
"Iya Davina ngerti, maaf Davina nggak bermaksud terlalu menekan om Zio" Gantian Davina kini yang mengusap pipi pria itu.
"Kamu nggak salah sayang" Senyum kembali terlukis di bibir pria itu agar perasaan kekasih kecilnya kembali membaik.
"Yang penting sekarang om Zio udah benar-benar yakin untuk menjalani ini semua bersama Davina, jangan merasa takut lagi ya om? perasaan ini nggak salah, jangan berfikir untuk menghapusnya lagi" Bisik Davina.
"Iya sayang, om Zio sudah sangat yakin sekarang. Om Zio nggak akan pernah berusaha untuk menghapus perasaan ini, om Zio nggak akan bisa melepaskan kamu lagi. Jadi bersiaplah untuk terus terikat dengan pria tua ini sayang" Ucap Zio sambil terkekeh.
"Siapa bilang om tua? om Zio masih terlihat begitu tampan dan gagah" goda Davina sambil menunjuk dada Zio dengan tatapan sensualnya.
Zio segera menangkap tangan Davina, sentuhan tangan Davina di dadanya serta ekspresi wajah gadis itu membangkitkan sesuatu dalam dirinya, dan Zio sadar hal itu sangat berbahaya.
"Jangan menggoda om Zio seperti ini, om takut tak bisa menahan diri" Bisik Zio begitu dekat di telinga Davina, suaranya terdengar berat. Sementara tangannya menyusuri pipi mulus gadis itu. Davina sontak memejamkan mata, menikmati desiran halus di sekujur tubuhnya atas sentuhan Zio padanya.
"Memangnya apa yang akan om lakukan?" Davina tertantang untuk menggoda Zio semakin jauh.
"Sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh kamu selama ini, sesuatu yang sangat berbahaya sayang" balas Zio.
"Davina malah penasaran om seberapa berbahaya memang nya?" Tatapan Davina semakin dalam, gadis itu tampak menggigit bibir bawahnya.
Zio menghembuskan nafasnya dengan kasar, tubuhnya seolah terbakar hasrat. Sepertinya Davina memang sengaja menggodanya, entah belajar dari mana gadis itu bersikap demikian.
Zio yang tak bisa menahan dirinya lagi dengan cepat meraih tubuh Davina dan membawa gadis itu ke atas pangkuannya, Zio memegang wajah Davina dan membenamkan bibirnya menyesap bibir gadis itu dengan penuh damba.
Zio terus menikmati sensasi yang bibir Davina suguhkan, ia tak menyangka akan begitu tergila-gila pada rasa bibir Davina, gadis kecil yang sudah ia rawat sejak dulu seperti putrinya sendiri.
Pria itu merasa heran, saat resmi menjalin kasih ia gampang sekali tergoda pada setiap pergerakan Davina. Padahal dulu rasanya biasa saja, bahkan ia seringkali membantu Davina berganti pakaian. Untuk sesaat Ia merasa menjadi pria tua mesum yang tengah melahap gadis di bawah umur, namun ia juga tak berdaya untuk menghentikan mencumbu Davina.
Suara decapan bibir yang saling berpagut dan lenguhan serta erangan keduanya memenuhi ruang kerja Zio. Nafas mereka saling memburu seiring pergumulan panas yang semakin sulit untuk dihentikan, akal sehat Zio seakan dihempas oleh kobaran gairah yang semakin dahsyat membakarnya.
🍁🍁🍁
Disaat gelap semakin beranjak ketika kebanyakan orang tengah bercumbu dengan lelap, ia malah masih terjaga. Pria itu sempat tertidur beberapa saat namun mimpi buruk memaksanya terbangun dan sekarang ia merasa takut untuk kembali hanyut dalam lelap.
Fikiran nya kini bermuara pada kisah kasihnya bersama Davina, kejadian siang tadi saat ia mencumbu gadis itu kembali terlintas. Ia sadar kendali dirinya semakin menipis saat bersama Davina.
Hampir saja ia melakukan sesuatu yang belum seharusnya, untung saja saat akal sehatnya mulai menipis sekelebat senyuman Sandi dan Danisya berhasil menghentikan aksinya.
Zio berulang kali menghela nafas kasar.
Pria itu dilanda resah, takut kejadian itu kembali terulang. Ia sangat mencintai Davina dan tak ingin merusak gadis itu, ia tak ingin mengambil sesuatu yang belum menjadi haknya. Namun ia sadar sebagai pria dewasa yang normal terlebih adanya ikatan cinta keduanya terkadang seolah menjadi pembenaran bagi mereka melakukan hal yang belum seharusnya, ia takut suatu hari nanti tak bisa menahan diri.
Sementara untuk menikahi Davina, Zio masih terlalu takut memikirkannya. Davina masih sangat muda, masa depannya masih panjang. Pria itu khawatir akan menjadi penghalang Davina menggapai cita-citanya.
Saat sendirian seperti ini ia memikirkan dan mengkhawatirkan banyak hal tentang kelangsungan hubungannya dengan Davina, namun saat tengah bersama gadis itu beban berat nya seakan terangkat. Ia enggan memikirkan apapun, yang ada di dalam benaknya hanyalah ingin menghabiskan banyak waktu dengan bahagia bersama Davina.
"Kamu sudah semakin dewasa, sudah saatnya berdamai dengan masa lalu. lanjut dan tata kembali hidup kamu nak, jalani hidup seperti seharusnya. Menikahlah, mama juga menginginkan cucu darimu" Ucapan mama Ayumi tadi sore saat ia dan Davina berkunjung ke rumah mamanya tiba-tiba terngiang.
Tatapan sendu mama Ayumi menyiratkan pengharapan. Padahal selama ini sang mama tak pernah menuntut apapun padanya.
"Mama tidak bermaksud mengatur hidup kamu terlalu jauh Zio, namun mama merasa tak bisa pergi dengan tenang andai putra mama belum menemukan kebahagiaannya" lanjut mama Ayumi saat Zio tak menjawab ucapan mamanya. Zio fokus memperhatikan Davina yang tampak memikirkan ucapan mamanya.
"Maksud oma, om Zio harus segera menikah dalam waktu dekat?" Pertanyaan itu akhirnya meluncur dari bibir Davina, Zio sudah menduga dari ekspresi wajah Davina saat mamanya berbicara.
"Iya sayang, mau menunggu berapa lama lagi? usia om Zio sudah sangat matang, bahkan seumuran nya banyak yang sudah memiliki anak 3" Tentu saja usia 38 tahun sudah lebih dari cukup untuk menikah.
"Memangnya oma menginginkan wanita yang seperti apa untuk menjadi istri om Zio?" Zio melihat kecemasan di mata Davina menantikan jawaban dari mama Ayumi. Demi kebaikan bersama, Ia dan Davina memang sepakat untuk menutupi dulu hubungan mereka.
"Yang penting bisa menjadi istri yang baik dan mau menerima segala kekurangan Zio" Ucap mama Ayumi. Zio tersenyum saat melihat Davina terlihat lega dan matanya berbinar
"Tapi om Zio nggak ada kekurangannya oma, om Zio begitu sempurna sebagai pria. Jadi oma tak perlu khawatir, om Zio akan mendapatkan wanita yang sangat mencintai om Zio dengan segenap jiwanya"
Hati Zio menghangat mengingat obrolan mereka tadi sore. Ucapan terakhir Davina yang begitu tulus seolah menghidupkan kembali semangatnya yang sempat redup.
🍁🍁🍁