
Ini kali ke dua Davina tak bisa tidur dan menyelinap ke kamar Zio dan melihat pria itu tidur dengan gelisah. Sama seperti yang pernah Davina lihat waktu itu, kening Zio berkerut dengan nafas beratnya. Keringat terlihat membanjiri wajah pria yang amat ia cintai itu.
"Sebenar nya om Zio sedang bermimpi apa?" Bisik gadis itu sambil mengusap lembut pipi Zio.
"Om Zio, bangun" Bisik Davina lagi. Gadis itu merasa perlu menarik sang kekasih dari mimpi buruk yang mungkin begitu menyiksa pria nya. Davina mendaratkan kecupan di kening Zio lalu menggenggam tangannya.
"Om ada Davina di sini, bangun ya" Davina kembali berusaha membangunkan Zio. Beberapa saat kemudian Zio tampak tersentak dan membuka mata. pria itu segera beranjak dari posisi tidurnya, nafasnya terengah. Zio tampak mengusap wajah dan meremas rambutnya. Sepertinya ia belum menyadari keberadaan kekasih kecilnya di sana, Davina merasa begitu iba melihat Zio terlihat frustasi.
"Om Zio mimpi ya?" Davina mengusap lengan Zio.
"Sayang, kamu di sini?" Zio menatap cepat ke arah Davina saat menyadari keberadaan kekasih nya.
"Iya om, Davina nggak bisa tidur. Om Zio mimpi buruk ya?" Zio tidak menjawab, namun ia memeluk Davina. Merasakan dekapan tangan mungil Davina dan menyesap aroma gadis itu bisa membuat hatinya nyaman dan tenang.
"Om sering mimpi buruk? Waktu itu Davina juga melihat om Zio seperti ini" Tanya Davina sambil mengusap punggung kokoh Zio.
Zio tak menjawab, ia masih berusaha menormalkan detak jantungnya. Pria itu memejamkan mata berusaha mengusir segala keresahan pada dirinya selepas mimpi buruk itu.
"Kenapa nggak bisa tidur? ada yang mengganggu fikiran kamu?" tanya Zio setelah perasaan nya mulai membaik, ia melepaskan pelukannya pada Davina.
"Nggak ada, tadi Davina terbangun karena haus. Abis itu nggak bisa tidur lagi" jawab gadis itu.
"Coba tidur lagi sayang, jangan sampai besok kesiangan. Kamu masih ada ujian kan?"
"Tapi Davina tidur di sini ya, Davina mau tidur sambil dipeluk om Zio" Permintaan yang membuat Zio resah, semenjak mendapat teguran dari mama Ayumi Zio selalu berusaha menahan diri walaupun sesekali ia masih tergoda dan melupakan ucapan mamanya.
"Bahaya sayang, om Zio temenin aja yah. Tapi om Zio nggak ikutan tidur"
"Davina nggak mau tidur kalau gitu" Zio menghela nafas kasar, jika sudah bersikap begini artinya permintaan Davina benar-benar harus ia turuti.
"Oke sayang om Zio temenin. Mau tidur di kamar kamu atau di sini aja?"
"Di sini aja nggak apa-apa" Zio mengangguk, ia dan Davina mengambil posisi untuk tidur.
Davina merapatkan tubuhnya pada Zio dan membenamkan kepalanya pada dada bidang pria itu. Zio mengalihkan pemikirannya dari hal-hal yang bisa meruntuhkan pertahanan nya.
"Pertanyaan yang mana" Suara Zio terdengar berat.
"Tentang mimpi buruk om Zio" Zio terpaku, ternyata Davina masih mengingatnya padahal Zio sudah berusaha mengalihkan topik. Tapi mungkin ia harus mulai terbuka pada Davina, selama ini ia selalu menyimpannya sendiri.
"Iya, om Zio memang sering mengalami mimpi buruk. Hampir setiap malam sepanjang 12 tahun ini" Ucap nya. Davina yang terkejut mendengarnya bangkit dan menghadap pada Zio yang juga ikut bangkit dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Hampir setiap malam selama 12 tahun?" Davina tak bisa membayangkan betapa menakutkan hal itu.
"Kok bisa om? mimpi buruk nya seperti apa?" Tanya Davina lagi.
"Tentang kecelakaan itu" Suara Zio terdengar kelu, pandangannya menerawang penuh luka.
"Hampir setiap malam om Zio bermimpi tentang kecelakaan itu, wajah pucat penuh darah mama dan papa kamu selalu hadir" Zio memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Mungkin mama dan papa kamu ingin om Zio merasakan hukuman itu sepanjang hidup om Zio. Mimpi itu selalu datang seolah sebagai pengingat dosa yang telah om lakukan" Davina menggeleng, meraih wajah Zio dan menatap dalam padanya.
"Om tau kan kecelakaan itu bukan salah om Zio? mimpi itu hadir bukan karena om Zio bersalah. Tapi karena om Zio belum bisa berdamai dengan kejadian itu. Jangan menyesalinya terus menerus om, jangan siksa diri om Zio seperti ini. Kejadian itu murni kecelakaan, walaupun saat itu bukan om Zio yang membawa mobil kecelakaan itu akan tetap terjadi, mama dan papa tetap akan meninggal karena takdirnya memang demikian" Davina tak menyangka penyesalan Zio memang sedalam ini dan berefek begitu mengerikan.
Davina tak bisa membayangkan malam-malam Zio harus dipenuhi ketakutan dan penyesalan karena mimpi itu.
"Om Zio juga sudah berusaha menghapus rasa sesal dan rasa bersalah itu, tapi entah kenapa begitu sulit. Pagi itu kak Sandi dan kak Danisya begitu bahagia karena mereka baru saja mengetahui ada janin di dalam perut kak Danisya. Mereka sudah lama ingin memberikan kamu adik. Tapi saat keinginan mereka terwujud om Zio malah merenggut semua kebahagiaan mereka karena kecelakaan itu" Lagi-lagi Davina tercekat atas fakta yang baru ia ketahui ini.
"Om Zio menghapus seketika senyum mereka, om Zio sangat jahat Davina" Zio menangis untuk pertama kalinya di depan gadis itu. Selama ini ia menyimpan kepedihannya sendiri dan berusaha tegar di depan banyak orang terutama Davina.
"Tapi om Zio nggak salah, kalau memang harus dicari siapa yang bersalah tentu saja sopir truk itu om. Kesalahan nya sudah terbukti dan dia sudah dihukum." Davina memeluk Zio yang terlihat begitu rapuh, Davina sendiri merasa sangat sedih apalagi saat mengetahui mamanya meninggal dalam keadaan hamil, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena semua itu adalah jalan takdir yang mau tidak mau harus dilalui. Apalagi jika harus marah pada Zio, sedikitpun tak pernah terbesit dalam fikiran nya.
"Om Zio, Davina mohon berdamailah. Hapus semua rasa bersalah itu. Mama dan papa juga pasti tak menyalahkan om Zio sedikitpun atas kejadian itu" Zio masih terisak dalam dekapan Davina, Zio seakan meluapkan segala kesakitan yang telah ia simpan bertahun-tahun lamanya.
"Om Zio memimpin perusahaan dan mendapatkan hak perwalian Davina karena wasiat mama dan papa kan?" Zio mengangguk sebagai jawaban.
"Artinya mama dan papa sudah memiliki firasat, kalau tidak mana mungkin mereka menuliskan wasiat itu. Umur mereka masih muda om, dan mereka mempercayakan semuanya pada om Zio itu sudah cukup membuktikan bahwa mereka sangat menyayangi dan mempercayai om Zio. Jadi nggak mungkin mimpi buruk itu datang karena mama dan papa ingin memberikan hukuman pada om Zio agar merasa bersalah sepanjang hidup seperti yang om bilang. Mama dan papa pasti tak akan tega melakukan itu om. Belajarlah melepaskan beban yang menyiksa diri om Zio, om sama sekali tidak bersalah"
🍁🍁🍁