My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 74



Davina termenung sendirian di kamarnya, ia mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit. Usia kehamilan nya sudah memasuki 20 minggu atau 5 bulan. Sesekali ia bisa merasakan pergerakan halus janin di kandungannya. Pertama kali mendengar detak jantung bayinya Zio dan Davina menangis haru karena terlalu bahagia menyadari darah daging mereka sedang bertumbuh di tubuh Davina.


Sorot mata Davina saat ini menampakkan keresahan mendalam. Di awal kehamilan sampai hampir 5 bulan tak ada kesulitan berarti meski ia mengalami mual muntah layaknya ibu hamil kebanyakan. Kesigapan Zio sangat membantunya, belum lagi perhatian dan kasih sayang dari suaminya membuat Davina menjalani kehamilannya dengan bahagia. Zio selalu menuruti setiap permintaan nya hingga tak ada waktu bagi Davina untuk merasa sedih dan merana.


Namun sekarang lebih tepatnya sejak satu minggu yang lalu ada rasa yang berbeda mengganggu ketentraman hatinya, Davina mulai merasakan keanehan pada dirinya. Ia merasa enggan melihat wajah Zio. Bahkan ia berharap pria itu pergi ke luar kota atau ke manapun asal Zio tak berada di rumah, keberadaan Zio tiba-tiba membuatnya merasa risih dan sangat terganggu. Jika sebelumnya ia selalu tak sabar menantikan kepulangan Zio tidak untuk saat ini. Ia malah berharap Zio mengabarinya akan pulang terlambat atau harus lembur. Rasanya begitu lelah harus berpura-pura senang mendapati kepulangan suaminya. Namun sayang Zio selalu pulang lebih awal mungkin karena ia merasa Davina sangat membutuhkan diri nya dalam kondisi hamil begini.


"Kenapa jadi gini sih, please hati kembalilah seperti semula" Keluh Davina, ia tak suka dengan kondisi hatinya yang seperti ini. Ia ingin kembali seperti sebelumnya, merasakan getaran cinta dengan hati yang berbunga-bunga saat menatap wajah Zio. Selalu bahagia saat di dekat pria itu serta merasa begitu tenang dan tentram menghabiskan waktu berdua.


Davina menghela nafas lelah kala matanya menangkap jam dinding, jam sudah menunjukkan waktu sore hari. Itu artinya


sebentar lagi Zio akan pulang, Davina ingin menangis saat menyadari bahwa sebentar lagi juga ia harus kembali pura-pura bahagia dengan tubuh bergelayut manja pada Zio padahal hatinya sama sekali tak menginginkan hal itu.


"Mama kenapa ya? mama nggak mungkin menyesal menikah sama papa kamu kan?" Bisik Davina dengan kepala menunduk menatap ke arah perutnya, ia tengah berkeluh kesah pada janin yang ada di rahim nya berharap mampu mengusir gundah.


Tak terasa matanya mulai basah, Davina tak bisa membayangkan betapa kecewanya Zio andai pria itu tau apa yang ia rasakan sekarang. Davina juga kecewa pada dirinya sendiri yang begitu labil.


"Kenapa menangis? apa terlalu merindukan mas Zio?" Davina terkesiap menyadari kedatangan suaminya. Karena terlalu hanyut dalam lamunan Davina sampai tak menyadari kedatangan pria itu di kamar mereka.


"Jangan sedih sayang, mas Zio uda ada di sini" Zio membungkukkan tubuhnya dan mencium puncak kepala Davina sebelum beralih posisi berlutut di hadapan istrinya.


"Davina cuma lagi kangen mama dan papa mas" bohong Davina, ia tak mungkin menceritakan pada Zio tentang apa yang tengah mengganggu perasaannya. Wajah pria itu berubah sendu, namun meski demikian Zio tetap mengusap pipi sang istri.


"Maafin mas Zio, andai kecelakaan itu nggak terjadi mama dan papamu pasti masih ada dan kamu tak akan merasakan rindu yang menyakitkan seperti ini" ucap Zio dengan suara bergetar. Meski tak separah dulu Zio masih kerap dihantui rasa bersalah dibeberapa keadaan.


"Mas apaan sih?! Davina cuma kangen mama dan papa mas, bukan mengharapkan keberadaan mereka karena Davina uda menerima takdir itu dengan baik. Mas Zio kenapa masih aja kayak gini, selalu menyalahkan diri sendiri. Capek banget tau nggak ngasih tau nya" Zio terbelalak melihat kilatan emosi di wajah Davina yang selama ini tak pernah ia dapati. Apalagi sang istri berbicara dengan nada tinggi. Zio merasa seperti tak mengenali istrinya yang selalu selama ini selalu bersikap lemah lembut dengan perasaannya yang begitu halus.


"Kenapa? Davina capek ngadepin mas Zio yang masih betah banget tenggelam dalam penyesalan masa lalu. Uda sering dibilangin kalo itu bukan salah mas Zio tapi masih aja. Doyan banget nyiksa diri sendiri" Dengus Davina. Zio sangat tidak mengerti pada perubahan istrinya, Davina memang seringkali meyakinkan dan meminta Zio untuk melupakan masa lalu jika tiba-tiba Zio kembali didera rasa bersalah. Namun biasanya Davina akan berbicara dan mengingatkan dengan sangat halus padanya, bukan dengan nada emosi seperti ini.


"Iya mas Zio minta maaf sayang, mas Zio janji akan berusaha untuk mengikhlaskan semuanya secara penuh" Balas Zio


"Davina sebel sama mas Zio, Davina mau tidur di kamar Davina sendiri. Mas Zio jangan coba-coba nyusulin ke sana. Biarin Davina sendiri dulu" lanjut Davina yang membuat Zio semakin terperangah.


"Sayang kenapa harus seperti ini? kalo kamu butuh mas Zio gimana?"


"Pokoknya Davina nggak mau diganggu"


Davina melangkah cepat meninggalkan Zio, Davina menebalkan telinganya dan tak menyahuti panggilan Zio padanga. Setibanya Davina di kamar yang ia tempati ketika belum menikah Davina langsung mengunci pintu kamarnya. Ia bersandar pada pintu dan meraba dadanya yang berdetak hebat.


Air mata tiba-tiba luruh, hatinya terasa campur aduk. Di satu sisi ia merasa puas dan lega karena memiliki alasan untuk menghindari suaminya, itu artinya ia tak perlu berpura-pura. Namun di sisi lain hatinya, Davina merasa bersalah karena telah bersikap buruk pada Zio. Davina yakin suaminya tengah dilanda gundah akibat sikapnya yang berubah tiba-tiba. Pria itu terlalu baik untuk ia perlakukan seperti ini, namun Davina tak berdaya menghadapi perasaannya.


"Maafin Davina mas, Davina juga nggak ngerti kenapa jadi seperti ini" Davina menghembuskan nafas berat, ia berjalan menuju ranjang dan merebahkan dirinya. Matanya nanar menatap langit-langit kamar.


Sementara di kamarnya Zio masih termangu, memikirkan apa yang baru saja terjadi. Pria itu berusaha keras memahami makna sikap Davina yang tak pernah terfikirkan akan ia temui. Selama 12 tahun bersama Davina tak pernah terlihat marah seperti itu


Zio dilanda resah, ia bingung harus melakukan apa. Membiarkan Davina sendiri beberapa saat atau langsung mengejar istrinya dan meminta maaf. Biasanya Davina begitu mudah luluh pada permohonan maaf darinya. Tapi mengingat bagaimana ekspresi Davina sebelum meninggalkan kamar mereka Zio kembali meragu, Davina tak pernah bersikap seperti itu sebelumnya. Apakah tepat andai ia membujuk Davina sekarang? Zio takut hal itu malah semakin memancing kemarahan istrinya.


Zio meremas rambutnya frustasi, tadi ia begitu bersemangat pulang untuk bertemu kekasih hatinya, tapi sayang ia malah disambut kemarahan istrinya.


🍁🍁🍁