My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 52



Davina menghambur ke dalam pelukan Zio saat mendapati pria itu datang. Ia sudah sangat merindukan Zio padahal mereka berpisah baru sebentar. Bahkan Davina sudah menunggu Zio di teras rumah sejak satu jam yang lalu. Pesan-pesan bernada rindu terus ia kirimkan dalam penantiannya.


"Davina kangen" Ucapnya, suaranya bergetar menahan tangisan.


"Om Zio juga kangen banget" balas pria itu. Zio lalu melepaskan pelukannya dan beralih meraih wajah Davina. Keduanya saling menatap dengan terharu, seolah mereka sudah terpisah begitu jauh dan dalam waktu yang amat lama.


Zio mendaratkan bibirnya pada bibir Davina, keduanya terpejam menikmati sensasi panas yang mengaliri tubuh mereka. Namun ciuman itu tak berlangsung lama, Zio segera melepaskan pertautan bibir keduanya.


"Ini masih diluar rumah sayang, nanti ada yang melihat" ucap Zio saat melihat tatapan protes di wajah kekasihnya.


"Apa oma mengirimkan mata-mata untuk mengawasi kita?" tanya Davina.


"Enggak sayang, mama tidak memiliki kuasa untuk itu." Ucap Zio terkekeh, mama Ayumi hanya ibu rumah tangga biasa. Bukan wanita yang berkuasa yang bisa membayar orang untuk mengawasi putranya.


"Om Zio tinggal di sini aja lagi kalo gitu, kan oma juga nggak tau. Om Zio pura-pura pindah aja" usul Davina seolah mendapatkan angin segar.


"Naluri seorang ibu itu kuat sayang, mama pasti akan tau kalo om Zio berbohong. Om sudah berjanji pada diri sendiri untuk memenangkan restu mama dengan cara yang benar. Meski akan sulit, tapi om Zio ingin hubungan kita ke depannya bisa berjalan baik tanpa hambatan apapun lagi" Davina mengangguk mengerti.


"Om, Davina ingin ikut berusaha meyakinkan oma agar merestui hubungan kita. Davina nggak mau menunggu sambil berdiam diri" keduanya memasuki rumah dan duduk di sofa ruang tamu, Zio menuntun Davina agar berpindah duduk di pangkuannya.


"Kamu nggak benci sama oma?" Zio menatap dalam gadis itu.


"Kenapa Davina harus membenci oma om, Davina sayang sama oma. Percayalah om, penolakan oma sama sekali tak berpengaruh pada rasa sayang Davina padanya" jawab gadis itu tulus, Zio menghela nafas lega. Tadinya ia begitu takut Davina kecewa pada sang mama lalu berubah membenci wanita yang ia cintai itu.


"Terima kasih untuk tetap menyayanginya meski mama sudah menyakiti hati kamu sayang" Bisik Zio.


"Davina sangat mencintai om Zio, om Zio juga adalah sumber kebahagiaan Davina. Lalu bagaimana mungkin Davina tidak menyayangi wanita yang sudah melahirkan laki-laki yang Davina cintai? terlepas dari itu, oma juga sudah banyak memberikan kasih sayang pada Davina selama ini" Zio tersenyum dan mendaratkan kecupan di kening Davina.


"Om Zio benar-benar tidak salah memilih calon istri" wajah Davina merona mendengar Zio menyebutnya sebagai calon istri, hatinya juga berbunga-bunga atas pujian pria itu.


🍁🍁🍁


"Mama" Davina meraih tangan wanita itu dan menciumnya, ia juga tersenyum lebar pada mama Ayumi yang menatap bingung pada gadis itu. Sebenarnya tidak hanya mama Ayumi, Yara dan juga Zio yang datang bersama Davina juga tampak heran karena Davina memanggil mama Ayumi dengan sebutan mama, bukan oma.


"Kok bengong?" Davina menatap bergantian mama Ayumi, Zio dan Yara yang masih tampak terpaku.


"Kamu memanggil oma apa tadi?" tanya mama Ayumi setelah terdiam beberapa saat. Davina tersenyum lagi.


"Mama, mama itu mamanya mas Zio. Sementara Davina calon istrinya mas Zio, artinya mama itu mamanya Davina juga. Jadi harusnya Davina manggilnya mama kan bukan oma" Jawab gadis itu tanpa dosa. Belum hilang keterkejutannya Zio kembali harus melongo saat Davina tiba-tiba juga mengubah panggilan untuk nya. Tadi saat mereka akan mengunjungi mama Ayumi Davina masih memanggilnya secara normal seperti biasa, juga tidak ada pembicaraan yang membahas hal ini.


Yara berusaha menahan tawanya melihat ekspresi bingung sang mama juga kakaknya.


"Iya, harunya Davina juga manggil kak Yara adek kan? atau Yara aja?" Ucap Davina lagi. Kali ini Yara tak bisa menahan lagi, tawa gadis itu pecah. tak peduli tatapan tajam mamanya karena Yara tertawa begitu keras.


"Terserah kamu aja Vin, mau panggil adek atau sebut nama aja nggak apa-apa" Yara menghapus air matanya yang keluar akibat terlalu banyak tertawa.


"Tapi Davina, oma sudah bilang kalau kamu dan Zio tidak bisa melanjutkan hubungan kalian ini" Davina kecewa namun ia berusaha menyimpannya sendiri dan berusaha terlihat santai. Gadis itu tersenyum lalu meraih tangan mama Ayumi.


"Walaupun belum sekarang, tapi Davina yakin mama akan merestui hubungan Davina dan mas Zio suatu saat nanti. Mungkin sekarang mama masih meragukan kesungguhan kami berdua. Tapi Davina dan mas Zio akan terus membuktikan bahwa apa yang mama takutkan itu sama sekali tak akan terjadi. Davina sangat mencintai mas Zio ma, jangan tolak Davina sekarang ya? izinkan Davina berjuang dulu untuk cinta kami" mohon gadis itu.


Lagi-lagi Zio merasa tertampar pada kegigihan Davina dalam memperjuangkan cinta mereka di depan mamanya.


"Davina benar ma, kami akan membuktikan bahwa anggapan mama tentang perasaan kami itu salah. Kasih kami kesempatan untuk saling memiliki, Zio butuh Davina begitupun sebaliknya"


"Terserah kalian saja" Mama Ayumi beranjak dari sana sambil memegang dadanya. Nampaknya ia masih shock dengan apa yang baru saja ia dengar.


Setelah kepergian mama Ayumi, Davina tak berani menatap ke arah Zio. Ia merasa malu dengan ucapannya beberapa waktu lalu.


"Kak mau main sama baby Arsen dong" Ucap Davina pada Yara, ia masih tak menatap ke arah Zio yang ia tau sedang menatapnya.


"Loh kok manggil kakak lagi, tadi katanya mau panggil adek atau mau panggil nama aja?" Seketika wajah Davina bagaikan terbakar, ia benar-benar malu. Ia tak habis fikir kenapa tadi begitu percaya diri mengatakan hal itu.


Ini semua ia lakukan atas usulan Lea, sahabatnya itu memintanya mulai mengubah panggilan sebagai langkah awal untuk menyatakan kesungguhan Davina.


"Baby Arsen di kamarnya ya kak? Davina langsung ke sana boleh?" Davina benar-benar panik, ia hanya ingin menghindari Zio. Ia berdiri dan akan beranjak dari sana, namun langkah nya terhenti saat Zio menangkap pergelangan tangannya.


"Kamu di sini aja sayang, biar Yara yang mengambil Arsen" Davina mengangguk tanpa melihat ke arah Zio.


"Aku ambil Arsen dulu ya" Ucap Yara sambil mengulum senyum. Ia meninggalkan sepasang kekasih tersebut menuju kamar bayinya.


"Dari tadi kenapa nggak berani melihat ke arah mas Zio?" Zio meraih wajah Davina agar menatap ke arahnya. Davina terlihat salah tingkah, ingin rasanya menghilang saja dari sana namun tentu saja itu sangat mustahil. Mengikuti saran Lea selalu membuatnya malu akhirnya.


🍁🍁🍁


Guys mampir juga yuk ke novel author yang selanjutnya ya. Judulnya "Move On" Ini Kisah tentang Safira. Tapi updatenya rada slow karena mau fokus ke Zio_Davina dulu...


🥰🥰