
"Kok gitu sih" Sungut Davina kesal setelah mendengar cerita Lea bahwa acara perpisahan di sekolah yang sudah mereka urus dibatalkan dan diganti dengan liburan bersama.
"Ya nggak apa-apa Vin, kayaknya emang lebih asik kalo liburan bareng. Apalagi kita nggak perlu mikirin soal penginapan. Karena semua uda disiapin sama si Tomi. Kapan lagi coba liburan gratis Vin" Davina tidak heran kalau Tomi menyiapkan penginapan karena orang tua Tomi memang memiliki usaha resort di banyak kota yang menjadi tujuan wisata.
"Tapi apa yang uda kita kerjain beberapa hari ini jadi sia-sia dong Le, kita cuma dapat capeknya doang" Ucap gadis itu, Davina merasa begitu kecewa.
"Ya biarin aja lah, kita juga cuma korban tenaga bukan biaya" jawab Lea cuek.
"Kalo liburan apalagi menginap di resort nya Tomi udah jelas banget aku nggak bisa ikut." timpal Davina lagi.
"Loh kok gitu? nggak asik dong kalo kamu nggak ikut Vin"
"Malas akunya, apalagi mesti nginap. Aku nggak bisa lama-lama jauh dari om Zio Le, om Zio pasti juga berat buat izinin aku"
Davina takut Tomi sudah merencanakan sesuatu, apalagi pria itu masih getol mendekati dirinya meski jelas-jelas Davina menolaknya. Davina merasa lebih baik ia tidak ikut serta untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Kelakuan Silla beberapa waktu lalu membuatnya waspada pada segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.
"Ya ampun yang lagi bucin, tapi Vin masa kamu nggak tertarik buat ikut. Pasti bakalan seru banget Vin nanti. Ini tuh momen sekali seumur hidup sayang banget dilewatin gitu aja. Apalagi kalo kamu uda nikah pasti bakalan susah buat kumpul bareng teman-teman" Bujuk Lea.
"Nggak ah, momen berduaan sama om Zio jauh lebih menarik dari semua itu" jawab Davina cuek.
🍁🍁🍁
"Selamat atas kelulusan nya sayang" Zio memberikan sebuket bunga mawar merah pada Davina yang baru saja keluar dari gerbang ditemani oleh mama Ayumi. Tadi pagi Zio harus menghadiri rapat sehingga mama Ayumi yang menggantikannya mengambil surat kelulusan Davina. Namun setelah selesai rapat Zio tak membuang waktu, ia langsung meluncur ke sekolah Davina untuk menjemput kekasihnya tersebut. Ia sebisa mungkin ingin selalu turut serta dalam momen spesial kekasihnya
"Makasih om" Davina membalas pelukan Zio dengan riang.
"Davina menjadi lulusan ke tiga terbaik" ucap mama Ayumi dengan bangga.
"Oh ya? calon istri mas Zio emang luar biasa. Mau minta hadiah apa sayang?" tanya Zio sembari mendaratkan kecupan sekilas di bibir Davina. Pria itu lupa bahwa mereka masih berada di lingkungan sekolah dan ada mama Ayumi di dekat mereka.
"Zio, jaga sikap. Ini di sekolah" Tegur mama Ayumi. Zio dan Davina tersentak, wajah Davina memerah sementara Zio dengan cepat menguasai dirinya.
"Sorry ma kelepasan" ucap pria itu sambil terkekeh.
"Jadi mau mau hadiah apa sayang?" Zio beralih lagi menatap pada Davina.
"Nggak mau hadiah apa-apa om. Dengan om selalu ada di sisi Davina itu uda lebih dari cukup kok" Balas Davina dengan senyum tulusnya.
"Ah buruan naik mobil, kalian ini bikin mama mual aja" mama Ayumi mencebik sambil lebih dulu masuk ke dalam mobil dan duduk di samping sopir. Melihat kemesraan Davina dan Zio masih terasa asing baginya. Ia masih belum terbiasa dengan hal itu.
Zio dan Davina menutup mulut agar tawa mereka tidak sampai terdengar oleh mama Ayumi, kalau tidak bisa-bisa sepanjang hari mereka akan terus mendapat omelan wanita itu.
Zio dan Davina menyusul mama Ayumi masuk ke dalam mobil.
"Duduk nya jangan terlalu dekat, ingat yang mama bilang. Kalian harus menjaga jarak sebelum kalian resmi menjadi suami istri" ucap mama Ayumi saat melihat posisi duduk Davina dan Zio yang tak berjarak.
"Kamu tu ada aja alasan nya, mama cabut restunya baru tau rasa" Ancam mama Ayumi.
"Aduh jangan dong ma" rengek Davina. Gadis itu kembali mendelik tajam pada Zio, namun sia-sia pria itu tetap saja memeluknya dengan erat. Mama Ayumi yang mulai jengah kini menutup mulutnya karena lelah menghadapi Zio yang akhir-akhir ini kerap kali membantahnya.
Sehabis mengantar mama Ayumi pulang, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Davina.
.
.
.
"Untuk merayakan kelulusan teman-teman ngadain liburan bersama om" Ucap Davina saat ia dan Zio tengah menikmati senja di teras rumah Davina.
"Emang nggak ada acara perpisahan di sekolah? bukannya kemaren kamu uda sibuk ngurusin?"
"Enggak jadi, karena sebagian besar anak-anak lebih milih ngadain liburan bareng dan sudah diacc sama pihak sekolah"
Davina memandangi wajah Zio yang semakin hari terlihat semakin mempesona di mata gadis itu.
"Emang liburan ke mana?" tanya Zio. Pria itu terlihat sedikit gamang untuk memberikan izin atau melarang Davina.
"Nggak tau jadi nya ke mana, Davina nggak nanya lebih lanjut karena Davina nggak ikut kok om" Balas Davina yang langsung mendapat tatapan penuh tanya dari Zio.
"Kenapa nggak ikut?" Di satu sisi hatinya Zio tidak ingin Davina melewatkan kesempatan untuk menikmati masa remajanya dengan liburan bersama teman-teman sekolahnya di hari kelulusan mereka, namun Zio tak bisa menampik sudut hati nya yang lain merasa keberatan membiarkan Davina pergi liburan tanpa pengawasan darinya. Sementara ia juga tak mungkin untuk ikut serta dalam acara tersebut.
"Nggak minat aja, mending ngurusin pernikahan kita om" jawab gadis itu. Selain itu Davina sangat mengerti perasaan kekasihnya. Ia tak mau membuat Zio bimbang.
"Kan oma uda urusin semuanya sayang. Kamu nggak apa-apa ikut aja liburannya. Kamu nggak boleh ngelewatin momen-momen seperti itu Davina" Zio meraih tangan Davina dan mengusapnya lembut, tatapan nya begitu teduh menghangatkan jiwa gadis itu.
"Nggak om, Davina uda nggak tertarik buang-buang waktu. Mending Davina ngabisin waktu berdua sama om" Akhir-akhir ini Davina hanya dekat dengan Lea, ia tak terlalu tertarik membuka pertemanan dengan yang lainnya. Davina merasa tak begitu nyaman.
"Tapi beneran kamu nggak tertarik buat ikutan? takutnya kamu menyesal nanti sayang" tanya Zio meyakinkan Davina.
"Beneran om, nanti setelah menikah kita akan bulan madu kan?" Davina lebih tertarik membahas pernikahan yang satu bulan lagi akan digelar. Sebenarnya Davina dan Zio sedikit keberatan harus menunggu. Namun mama Ayumi bersikeras untuk menikahkan mereka pada waktu yang sudah sang mama tentukan, yaitu satu bulan setelah kelulusan gadis itu.
"Tentu sayang, mau bulan madu ke mana?"
"Terserah om Zio aja, ke mana aja Davina mau asalkan bersama om Zio" Ucapnya.
"Duh makin pintar ngegombal ya sekarang" Zio menciumi wajah Davina dengan gemas.
🍁🍁🍁