
"Sayang, kamu nggak serius kan sama ucapan kamu?" tanya Zio setelah mereka sudah berada di rumah.
"Ucapan Davina yang mana?" Saat hanya tinggal berdua begini Davina berubah dingin dan menghindari kontak mata dengan Zio.
"Tentang kuliah ke luar negeri" Zio begitu berat jika harus melepas Davina pergi jauh dalam waktu yang lama.
"Kayaknya Davina beneran pengen kuliah ke luar negeri om, kalau di sini terus perasaan Davina pada om bukan nya hilang malah akan semakin besar. Padahal om Zio maunya Davina menghapus perasaan ke om kan?" ucap gadis itu dengan menahan sesak di dadanya.
"Mungkin kalau kita berjauhan dan Davina nggak bisa lihat om dalam waktu yang lama bisa membantu Davina melupakan perasaan ini, perasaan yang menurut om Zio salah" ucapan Davina terasa menghujam hati Zio.
"Apa itu satu-satunya cara?" tanya Zio dengan suara berat.
"Sepertinya iya, Davina nggak boleh melihat wajah om Zio, nggak boleh ngerasain perhatian dan kasih sayang om Zio karena itu semua yang membuat perasaan Davina semakin subur dan mengakar" Keluh Davina.
"Om harus bagaimana agar kamu melupakan niat untuk meninggalkan om Zio?" tanya pria itu.
"Tanpa harus Davina katakan, Om Zio uda tau jawaban nya" balas Davina sendu.
"Gimana?"
"Hilangkan semua rasa bersalah om atas kematian mama dan papa karena nyatanya om sama sekali nggak bersalah. Berdamailah dengan masa lalu dan jangan menahan perasaan yang om miliki pada Davina kalau memang om beneran cinta sama Davina seperti yang om ucapkan waktu itu, bisa?" Davina tersenyum pahit saat melihat keraguan yang tercetak jelas di mata Zio atas permintaan nya.
"Nggak bisa kan om? mau nggak mau Davina yang harus mengalah dan menghapus perasaan ini kan?" Davina ingin meneriaki Zio agar pria itu tak terus menerus terpenjara pada pemikiran nya yang salah. Tapi ia tau semua itu sama sekali tak akan berpengaruh apa-apa.
"Kenapa harus menyiksa diri begini om?" Bisik gadis itu, Davina berlalu meninggalkan Zio yang masih berkutat dengan fikiran nya.
"Andai bisa om juga ingin segera menghapus rasa bersalah ini Davina" Ucap Zio lirih.
🍁🍁🍁
"Davina berangkat om" Davina mengulurkan tangannya untuk mencium tangan Zio karena ia akan segera berangkat ke sekolah setelah sarapannya habis.
"Biasanya salim nya nanti setelah sampai di sekolah" karena heran sekaligus curiga Zio tak segera membalas uluran tangan gadis itu.
"Iya karena sekarang Davina berangkatnya nggak dianterin om Zio. Davina dijemput temen" sesuai dugaan gadis itu, seketika wajah Zio berubah tegang.
"Dijemput teman yang mana?"
"Om Zio nggak kenal kok walaupun disebutin juga. Dia teman sekolah Davina" Davina masih belum menurunkan tangannya.
"Laki-laki atau perempuan?" nada bicara Zio terdengar gusar.
"Laki-laki om, Davina berangkatnya pake motor. Asik kali ya, selama ini Davina kan nggak pernah motoran om" ucap gadis itu dengan semangat.
"Nggak boleh, om nggak ngizinin. Kamu berangkat sekolahnya sama om seperti biasa" dari ketegasan nya Zio seolah menutup segala akses bagi Davina untuk memprotes keputusannya.
"Salah sendiri kenapa langsung mau tanpa bertanya ke om Zio lebih dulu?" Zio menatap tajam pada Davina yang pria itu sadari mulai menunjukkan pemberontakannya.
"Davina cuma ingin membiasakan diri tanpa om Zio, supaya pelan-pelan Davina bisa melupakan perasaan Davina pada om" Zio tercekat mendengar penuturan Davina yang selalu terasa menghujam ulu hatinya.
"Tolong jangan menjauhi om Zio sayang, kita bisa menata kembali perasaan ini agar kembali seperti semula tanpa harus membangun jarak Davina. Itu sama sekali bukan solusi" Zio menatap penuh harap pada Davina. Ternyata Zio masih betah dalam mode penyiksaan diri.
"Usaha Davina buat lupain om Zio nggak akan pernah berhasil Kalau kita masih dekat seperti biasanya om, Davina sudah mengalah dengan bersedia menghapus perasaan ini meski rasanya berat. Davina ingin om Zio juga mengalah dengan membiarkan Davina menempuh cara yang Davina yakini akan membuahkan hasil. Setelah perasaan Davina berhasil hilang kita akan kembali seperti sedia kala om, menjalani hubungan antara om dan keponakan seperti yang om mau tanpa ada perasaan yang tak seharusnya" ucap Davina penuh permohonan.
Ucapan Davina selalu saja berhasil membuat Zio tak berkutik. Ia tak mampu menyangkal apa yang Davina katakan.
"Pokoknya om Zio tetap pada keputusan om, kamu nggak boleh pergi sama teman kamu itu" Zio meraih tangan Davina dan membawanya keluar menuju mobil. Zio sama sekali tak melepaskan genggamannya pada tangan Davina meski gadis itu memaksa untuk dilepaskan.
"Om Zio lama-lama sama kayak Samuel, tukang maksa, egois! Davina nggak suka" ucap nya kesal. Zio menebalkan telinga nya, ia seakan tak mendengar umpatan bernada protes dari Davina.
"Om Zio nggak kasih izin Davina untuk mencintai om Zio tapi kenapa om juga menghalangi usaha Davina buat lupain om?"
tanya Davina ketus.
Rasa kesal bercampur kecewa semakin terasa meluap karena pria itu tak merespon pertanyaannya.
"Kasihan teman Davina, dia udah bela-belain jemput tapi Davina malah nggak jadi berangkat bareng dia."
"Tapi om nggak lihat ada teman kamu tadi, mungkin dia nggak jadi jemput" Padahal memang tak ada siapapun yang akan menjemput Davina. Gadis itu sengaja ingin memberikan shock terapi pada Zio. Ternyata seperti dugaan Davina, Zio kelabakan dan sama sekali tak mengizinkannya. Hanya saja usaha nya masih belum berhasil meluluhkan Zio dan membawa pria itu berdamai dengan luka masa lalunya
"Jadi kok, nggak mungkin lah dia batal jemput. Selama ini dia selalu ngajakin berangkat sekolah atau pulang bareng. Masa baru pau mulai pdkt dia uda ngecewain, nggak mungkin dong" Davina mengeluarkan ponsel dan membuka kontak ponselnya.
"Mau ngapain?" Davina tersenyum dalam hati, pancingannya berhasil.
"Mau nelfon teman Davina, mau minta maaf karena ngecewain dia. Mudah-mudahan aja dia mau maafin, nanti pulangnya nggak usah jemput ya om. Mau pulang bareng dia sebagai ganti nggak jadi berangkat bareng" nada suaranya Davina buat seolah menyesal dan khawatir.
"Ngapain minta maaf, nanti dia ngerasa kamu ngarep banget sama dia. Nanti om Zio jemput seperti biasa. Kamu nggak boleh pulang bareng laki-laki nggak jelas, apalagi naik motor." tegas Zio sambil merebut ponsel di tangan Davina.
"Itu ponsel Davina kenapa diambil?" Davina berusaha merebut ponselnya kembali namun Zio segera memasukkan ke dalam saku jas nya.
"Nanti pas pulang sekolah baru om kembalikan" ucap pria itu final.
Dengan wajah cemberut Davina masih berusaha mengambil ponselnya dengan nekat mencondongkan tubuhnya ke arah Zio dan berniat menyelipkan tangannya ke dalam saku jas pria itu. Namun dengan sigap Zio menangkap tubuh Davina dan mendudukkan di pangkuannya lalu memeluk gadis itu dengan erat sehingga tangan Davina tak bisa leluasa bergerak.
🍁🍁🍁
Sorry ketiduran, harusnya up tadi malam. Tapi mata uda berat padahal belum sampai 1000 kata. 🤭🤭