
"Ma, menurut mama kebahagiaan kak Zio penting nggak?" tanya Yara sebagai obrolan pembukanya dengan sang mama. Setelah beberapa hari, akhirnya Yara memberanikan diri untuk membahas perihal hubungan Zio dan Davina pada mama Ayumj
"Loh kok nanya begitu? ya jelas lah Yara, semua ibu di dunia ini menginginkan anaknya bahagia" mama Ayumi menggelengkan kepala dengan raut wajah heran.
"Mama bersedia melakukan apapun agar kak Zio bahagia?" Tanya Yara lagi.
"Iya, tidak hanya Zio. Untuk kamu juga mama akan melakukan apapun yang bisa membuat kalian anak-anak mama bahagia. Kenapa jadi tiba-tiba meragukan mama?"
"Enggak, Yara nggak meragukan mama sedikitpun kok. Yara cuma pengen tau aja" Yara memeluk lengan mamanya dengan manja. Ia meletakkan kepalanya di pundak sang mama.
"Ma, kalau misalnya kak Zio bahagia bersama Davina gimana?" Raut wajah wanita paruh baya itu tampak berubah mendengar pertanyaan yang ia lontarkan.
"Apa mama akan memberikan restu pada mereka?" lanjut Yara karena mama Ayumi masih diam, terlihat memikirkan pertanyaan Yara.
"Yara ngerti apa yang mama khawatirkan, tapi Yara rasa mereka benar-benar saling mencintai ma. Mereka saling membutuhkan satu sama lain, Kasihan mereka jika harus dipaksa berpisah hanya karena kekhawatiran mama yang belum terbukti. Lagipula mama tau Davina baik kan? kasih mereka kesempatan untuk meraih kebahagiaan mereka"
"Mama sama sekali tidak meragukan kebaikan hati Davina, Mama menolak juga bukan karena tak menyukai Davina, justru karena mama sangat sayang padanya mama tidak mau mereka salah langkah. Davina itu masih sangat muda, perjalanan nya masih panjang. Mama takut mereka tidak bisa saling mengimbangi karena perbedaan usia mereka terlampau jauh lalu pada akhirnya mereka saling melukai. Mama nggak bisa melihat mereka tersakiti Yara" ucap mama Ayumi. Ia begitu teguh mempertahankan pendapatnya.
"Tapi ma..."
"Cukup Yara, jangan bahas ini lagi. Mama nggak nyaman, rasanya sesak. Ini sangat sulit untuk mama terima" potong mama Ayumi. Yara tercekat, ia tak berani memaksa lagi. Namun meski begitu Yara yakin mama Ayumi akan memikirkan dan mempertimbangkan semua ucapannya.
Yara hanya bisa terpaku menatap punggung sang mama yang menjauh meninggalkannya. Yara menghela nafas kasar, ia merasa sedih karena belum bisa meyakinkan sang mama.
"Maafin Yara kak Zio" Bisik Yara di dalam hati. Tatapan penuh harap Zio tempo hari memenuhi benaknya dan membuat ia merasa menyesal tak bisa membantu banyak.
🍁🍁🍁
"Om, ngelamun?" Zio tersadar saat merasakan tepukan di pundaknya.
"Enggak, om cuma mengantuk" Elak Zio, padahal ia memang sedang melamun. Memikirkan ucapan Yara yang memberitahu sikap mamanya setelah sang adik mengajak mamanya berbicara. Karena itu ia tak menyadari Davina yang sudah keluar dari kelas dan masuk ke dalam mobil. Bahkan sekarang mobil mereka sudah mulai berjalan meninggalkan sekolah Davina.
"Semalam om mimpi buruk lagi?" Davina tau Zio akan kesulitan tidur kembali sehabis mendapatkan mimpi buruk. Semenjak malam itu Davina memang selalu rutin ke kamar Zio untuk memastikan apakah Zio mengalami mimpi buruk atau tidak, biasanya ia akan menenangkan pria itu dan menemaninya ketika pria itu terbangun karena gangguan mimpi buruk nya. Tapi tadi malam ia ketiduran sampai pagi dan tak sempat mengecek kondisi Zio.
"Iya mimpi itu masih selalu datang" ucap Zio lirih. Ia sungguh lelah, namun tak bisa berbuat apa-apa selain menerima dan menjalaninya dengan ikhlas. Setidaknya ada Davina yang menguatkannya, yang menjadi alasan Zio bertahan hingga detik ini.
"Kita ke psikiater ya om? ini nggak bisa dibiarin terus menerus" Davina merasa iba dan tak tega melihat kekasih nya menderita lebih lama lagi. Sudah lebih dari cukup selama 12 tahun Zio berkutat dengan luka dan kesakitan akibat sebuah kesalahan yang tak dilakukannya.
Zio mengangguk patuh, ia memang sudah lama memikirkan hal itu. Namun karena kesibukannya, rencana itu belum kesampaian. Ia mengabaikan dirinya sendiri asalkan kebahagiaan Davina terjamin.
"Iya, ah lega banget. Akhirnya Davina bisa bebas dari beban ini" Ucapnya sambil terkekeh.
"Selamat ya, semoga hasilnya memuaskan" Zio merangkul tubuh kekasihnya dan mendaratkan kecupan di kening dan pipi gadis itu. Ia ingin melahap bibir Davina yang semakin terlihat sexy, mungkin efek sesapan mautnya selama ini. Namun karena ada pak Sukri Zio terpaksa menahan diri.
"Makasih om, jadi kapan kita menikah?" tanya Davina.
"Tunggu pengumuman kelulusan dulu sayang" Zio terkekeh menyadari sikap Davina yang selalu berterus terang mengutarakan apa yang ada di dalam fikiran nya.
"Duh masih lama dong om, padahal Davina uda nggak sabar pengen jadi nyonya Kenzio" Davina tersenyum menggoda. Zio tak bisa menahan tawanya, Davina memang selalu menggemaskan.
"Sabar, cepat atau lambat kamu akan segera menyandang gelar istrinya Kenzio" Balas Zio keduanya sama-sama tertawa dengan wajah yang memerah menahan desiran perasaan yang mengaliri jiwa mereka.
"Oh ya sayang, masih ada kegiatan nggak di sekolah setelah ini?" tanya pria itu kemudian.
"Enggak ada om, tinggal menunggu pengumuman aja. Untuk acara-acara kelulusan atau perpisahan Davina sengaja nggak mau ikut jadi panitia karena Davina mau menghabiskan waktu sama om Zio" jawab Davina, yang diangguki oleh kekasihnya.
"Mau liburan?" Tawar Zio yang langsung mendapat sambutan antusias dari Davina.
"Mau banget om, emang om mau ajak Davina liburan ke mana?" tanya gadis itu dengan semangat.
"Davina maunya ke mana?" Jika memang pada akhirnya mama Ayumi tak juga luluh setidaknya Zio ingin mengukir kenangan indah bersama Davina sebelum sang mama meminta mereka berpisah.
"Terserah om, Davina hayuk aja mau ke mana pun asalkan bersama om Zio Davina pasti bahagia" ah bagaimana bisa ia melepaskan gadis semanis Davina yang jelas-jelas sangat mencintai dirinya. Gadis itu sama sekali tak ragu menunjukkan rasa cinta yang ia miliki.
"Oke malam ini juga kita berangkat sayang. Cukup kan waktunya buat bersiap?"
"Cukup om, berapa lama perginya?"
"Mungkin sekitar satu minggu" Jawab Zio.
"Waah pasti asik banget om, makasih ya" Davina memeluk lengan Zio setelah lebih dulu mendaratkan kecupan berkali-kali di pipi pria itu.
"Jangan nakal gitu sayang, kamu tau kan pacar kamu ini seringkali lupa diri?" Bisik Zio, wajah Davina merona seketika.
🍁🍁🍁