My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 72



"Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak mengganggu Davina. Tapi kau terlalu keras kepala dan tak menggubris ucapanku Samuel" Zio tersenyum sinis sementara Samuel menatap Zio dengan dendam yang membara.


"Jangan merasa menang dulu, aku akan membalas mu" Ucap Samuel dengan tangan terkepal dan rahang yang mengeras.


"Pastikan kau bisa keluar dari sini untuk membalas ku Samuel, tapi aku ragu kau bisa keluar dengan cepat mengingat pasal yang menjeratmu cukup berat" Zio kembali melayangkan senyum sinis pada Samuel yang terlihat semakin marah.


"Tadinya aku ingin membunuhmu dengan tanganku sendiri karena kau telah berani mengusik istriku. Tapi aku tidak mau mengotori tanganku dengan darah bajingan seperti mu. Membusuk lah di sini, karena papa yang kau andalkan juga tak bisa berbuat apa-apa untuk membebaskan mu" Zio menekan egonya agar tak menghajar Samuel meski ia sangat ingin melakukannya. Zio tak mau gegabah mengikuti emosi yang akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. Melakukan kekerasan pada Samuel akan membuatnya berhadapan dengan hukum dan harus terpisah dengan Davina. Zio tak akan pernah mampu untuk itu, benar-benar tak ada yang menguntungkan selain dari hanya kepuasan sesaat.


Zio lebih memilih sedikit bersabar untuk memberikan pembalasan pada Samuel, pria itu memerintahkan pada anak buahnya untuk mengorek info sebanyak-banyak nya tentang putra dari rekan bisnisnya tersebut agar ia bisa mencari celah untuk menghancurkan Samuel. Keberuntungan seolah tengah berpihak padanya, Zio mendapat informasi tentang skandal yang dimiliki Samuel.


Ternyata Samuel sudah lama terlibat dalam perdagangan perempuan dan anak-anak. Zio begitu bersemangat mengumpulkan bukti-bukti yang dapat menjerumuskan Samuel ke dalam penjara. Setelah mendapatkan bukti yang cukup Zio segera melaporkan Samuel pada pihak berwajib.


Kabar yang tak kalah menguntungkan lagi adalah pak Beni juga sedang berhadapan dengan kasus hukum karena terlibat dalam kasus suap demi memuluskan proyek terbarunya. Itu artinya pak Beni tak bisa melakukan apapun untuk meringankan hukuman putranya itu. Zio benar-benar puas.


"Selamat menikmati penderitaan mu Samuel" Ejek Zio sembari beranjak dari duduknya dan melenggang pergi meninggalkan Samuel yang tampak begitu emosi. Namun pria itu tak bisa berbuat apa-apa untuk melampiaskan emosinya pada Zio.


🍁🍁🍁


"Mas, ini ulah mas Zio ya?" Tanya Davina sembari menunjukkan ponselnya di mana terdapat berita tentang ditangkapnya Samuel dan juga pak Beni.


"Kalau kasus pak Beni mas nggak tau menau, tapi untuk kasusnya Samuel mas akui mas Zio ada andil di dalam nya." Ucap Zio sambil menyerahkan kembali ponselnya pada Davina yang kini sudah duduk di sampingnya.


"Kenapa? sedih Samuel ditangkap?" tanya Zio dengan tatapan tajamnya. Insiden pembahasan burung Samuel pada malam yang lalu ternyata membuat Zio begitu cemburu hingga selalu salah paham jika sudah menyangkut tentang Samuel.


"Ngapain sedih? Davina malah seneng banget akhirnya nggak akan ada lagi yang gangguin Davina mas, jujur aja Davina selama ini merasa terancam karena Samuel selalu muncul kapan aja dan di manapun. Sampai-sampai Davina jadi malas keluar rumah takut ketemu dia" Davina sengaja melingkarkan tangannya pada lengan Zio dan menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.


"Serem banget ya dia mas, mungkin aja Davina juga salah satu incaran Samuel buat dijual" Davina bergidik ngeri membayangkan andai Samuel diam-diam mendekatinya untuk dijual dan dijadikan perempuan malam.


"Samuel nggak turun langsung cari korban nya sayang, kalo sama kamu Samuel sepertinya benar-benar suka" Zio belum berhenti menyesali kesalahannya dulu yang memperkenalkan Davina pada Samuel Mungkin ia benar-benar akan memilih mengakhiri hidupnya andai Samuel berhasil melakukan hal buruk pada istrinya.


"Untung nya Davina uda cinta mati sama mas Zio jadi nggak tertarik sama modelan Samuel" ucap Davina sambil terkekeh.


"Maafin mas Zio sayang" Gumam Zio yang membuat Davina kebingungan.


"Karena sempat melakukan hal bodoh mengenalkan kamu dengan pria brengsek itu sayang, mas nggak akan pernah memaafkan diri mas andai Samuel menyakiti kamu" ucap Samuel geram.


"Jangan menyalahkan diri sendiri mas, mas Zio nggak tau kan kalo Samuel itu penjahat? kalo mas Zio tau Davina yakin mas nggak akan ngenalin Davina sama Samuel. Davina sekarang juga udah paham kalo posisi mas Zio saat itu juga sulit untuk menolak keinginan pak Beni" ucap Davina berusaha menghibur suaminya.


"Tapi tetap saja mas Zio sangat menyesal Davina" Keluh Zio.


"Semua uda terjadi mas, yang penting Samuel nggak sempat ngapa-ngapain Davina sayang. Jangan menambah beban dengan memikirkan hal itu. Davina uda aman kan sekarang? itu juga berkat mas Zio" ucap Davina meyakinkan suaminya.


"Makasih sayang" Zio merangkul dan mencium Davina. Pria itu merasa sangat bersyukur karena Davina selalu berhasil mengusir segala keresahan yang melandanya


"Terima kasih sudah hadir mengisi dan menyempurnakan hidup mas Zio sayang Mas benar-benar beruntung memiliki kamu" Bisik Zio dengan tatapan dalamnya.


"Davina juga sangat beruntung memiliki mas Zio dalam hidup Davina mas" Balas Davina.


Davina memejamkan matanya saat menyadari Zio semakin mendekatkan wajah padanya, Tebakan Davina tak meleset karena belum sampai satu menit Davina sudah merasakan sentuhan bibir Zio pada sudut bibirnya lalu sang suami kemudian melum at dan menghisap dengan rakus bibirnya.


Davina mulai terhanyut menikmati ciuman Zio yang telah berubah menjadi ciuman bergairah. Namun perutnya tiba-tiba bergejolak, dengan kepala yang terasa berat. Karena tak sanggup menahan lebih lama dengan berat hati ia menarik diri hingga pertautan bibirnya dan Zio terlepas.


Tanpa berkata Davina bangkit dengan cepat dan berlari menuju kamar mandi. Zio sejenak terpaku menatap bingung pada Davina yang sudah menghilang di balik pintu. Namun pria itu segera tersadar dan bergegas menyusul istrinya saat mendengar suara Davina yang tengah muntah.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Zio panik, pria itu memijat-mijat tengkuk Davina yang semakin hebat memuntahkan isi perutnya.


"Sayang kita ke rumah sakit ya?" Zio sangat khawatir melihat wajah pucat istrinya. Davina terlihat begitu lemas setelah mengeluarkan isi perutnya. Pria itu mengusap rambut istrinya yang menutupi sebagian wajahnya.


"Nanti aja mas, Davina masih lemas" tolak Davina dengan suara lemahnya. Beberapa saat yang lalu Davina terlihat begitu bugar dan energik. Namun sekarang wajahnya berubah kuyu dengan jejak air mata di pipi yang keluar saat ia sedang muntah.


"Iya kita istirahat dulu" ucap Zio sembari menggendong Davina dan membawanya ke luar dari kamar mandi. Ia dengan sangat hati-hati membaringkan tubuh istrinya di ranjang.


🍁🍁🍁