My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 23



"Semalam pulang jam berapa?" Tanya Davina saat sarapan pagi bersama Zio.


"Jam 9, om Zio nggak lama kok perginya" jawab pria itu di sela kunyahannya.


"Kok Davina nggak tau?" Davina melihat Zio tersenyum, gadis itu selalu betah menikmati senyuman pria itu. Senyuman yang baru Davina sadari jarang sekali Zio suguhkan untuk orang lain. Hanya dirinya yang dengan mudah dapat melihat lengkungan seksi bibir pria itu. Seketika hati Davina berbunga-bunga.


"Kamu uda tidur, semalam om Zio ke kamar kamu" Zio tidak berbohong, saat tiba di rumah ia langsung menuju kamar Davina dan mendapati gadis itu telah terlelap. Melihat wajah kecewa Davina saat ia akan pergi membuatnya begitu kacau dan ingin segera bertemu gadis itu. Zio lega pagi ini Davina bersikap seperti biasa padanya.


"Masa sih om? masa Davina cepat banget ya tidurnya?" Wajah bingung Davina begitu menggemaskan.


"Mungkin kamu kelelahan sayang, makanya tidur cepat"


"Iya, hati Davina semalam emang lelah banget" Davina memanyunkan bibirnya.


"Maafin om Zio sayang, om janji setelah ini nggak akan lagi. Om Zio hanya akan mendekati wanita yang kamu suka" ucap Zio dengan wajah bersalah.


'Nggak akan ada wanita yang Davina suka untuk om dekati' batin Davina.


"Oh ya, nanti malam jangan lupa kita mau makan malam sama pak Beni dan Samuel. Kira-kira kamu masih punya baju yang cocok atau kita belanja dulu nanti?" Jika mendekati wanita lain untuk mengalihkan perasaan nya tak berhasil mungkin dengan mendekatkan Davina pada pria lain adalah jalan yang bisa ia tempuh saat ini untuk menepis perasaan nya.


"Davina masih punya baju om, nggak usah repot-repot beli baru" Davina merasa makan malam ini sama sekali tidak istimewa. Ia tak berminat terlalu berlebihan mempersiapkan diri.


"Beneran?" tanya Zio meyakinkan gadis itu.


"Iya, ngapain repot coba. Cuma makan malam biasa. Sebenarnya kalo om Zio nggak maksa Davina juga malas" jawab Davina ketus.


"Samuel itu pemuda yang tampan dan cerdas. Kamu pasti menyukainya"


"Tapi Davina nggak akan suka karena Davina sudah menyukai orang lain" Davina menatap pada Zio, sekilas ia melihat keterkejutan di wajah pria itu. Zio tampak mengetatkan rahangnya.


"Siapa?" tanya nya dengan tatapan tajam. Nyatanya pengakuan yang terucap dari bibir Davina menyakiti hatinya.


"Ada deh, nanti om Zio akan tau sendiri" Davina melirik jam di tangan nya.


"Berangkat yuk om, takut telat" Ucap Davina lagi setelah menyesap sisah susu di gelas nya hingga habis.


🍁🍁🍁


"Menurut kamu aku harus gimana Lea?" tanya Davina dengan pandangan menerawang.


"Perjuangin atau berusaha menghapus perasaan aku ke om Zio?" Lanjut Davina dengan suara berat.


"Kira-kira yang mana menurut kamu yang paling mudah? berjuang atau melepaskan?" Lea malah balik bertanya.


"Nggak tau, makanya aku minta pendapat kamu" Davina setengah menggerutu.


"Aku nggak bisa kasih pendapat apa-apa Vin, karena yang paling tau apa yang harus kamu lakuin itu kamu sendiri. Karena kamu yang ngerasaian. Aku cuma bisa mendukung keputusan kamu" Elak Lea.


"Ya udah berjuang" Ucap Lea dengan penuh semangat


"Caranya?" Davina masih terlihat bingung.


"Ya kamu harus bisa menarik perhatian om Zio dan berusaha ubah posisi kamu di hati nya agar dia memandang kamu sebagai wanita bukan keponakan kecilnya. Buat dia jatuh cinta sama kamu Vin"


"Ya gimana caranya?" Davina sama sekali tak memiliki ide untuk mengambil hati Zio.


"Aduh bingung juga ya, masalahnya aku nggak pernah deketin yang om-om Vin, aku biasa yang seumuran" ucap Lea tanpa perasaan.


"Kamu ngeledekin aku?"


"Duh yang lagi jatuh cinta sensi amat. Maksud aku kalau ngedeketin yang seumuran aku uda berpengalaman. Kalo yang uda dewasa aku belum ada bayangan gimana caranya. Pasti nggak akan sama lah caranya jadi aku bingung mau kasih saran gimana. Tapi aku akan cari info Vin demi kamu" Lea tersenyum lebar berharap Davina tidak benar-benar marah atas ucapan nya.


"Davina lagi mau deketin siapa? aku? nggak perlu capek-capek cari cara toh selama ini kalian tau aku uda suka banget sama Davina" Tomi yang entah datang dari mana tiba-tiba ikut nimbrung duduk di sebelah Davina.


"Sayang nya bukan kamu Tom" Ucap Lea iba.


"Siapa Vin? apa itu artinya kesempatan buat aku deketin kamu benar-benar uda tertutup? aku kurang apa Vin?" Tomi terlihat kecewa.


"Duh Tom, namanya perasaan nggak bisa dipaksain. Terkadang bukan karena kamu punya kekurangan. Semangat bro, masih banyak cewek lain yang jauh lebih cantik dari Davina" ucap Lea.


Davina tau Lea ingin menghibur Tomi, tapi entah mengapa kalimat akhir yang gadis itu ucapkan sedikit menggelitik hatinya.


'Lea menyebalkan' Gerutunya di dalam hati sambil memandang Lea dengan tatapan sinis. Sementara Lea tampak cuek.


"Tapi hati aku maunya sama Davina Le, di mata aku cuma dia yang paling cantik di dunia ini" Ucap Tomi lesu, ia menatap sedih pada Davina.


"Sorry" Ucap Davina lirih, ia menunjukkan rasa bersalah nya.


"Tapi aku nggak akan menyerah Vin, sekarang kamu boleh nolak aku. Tapi suatu saat aku yakin hati kamu akan terbuka buat aku" ucap Tomi, semangatnya seolah kembali tersulut.


"Yah selamat berjuang kalau gitu" ucap Lea sambil mengangkat bahunya. Tanpa menjawab ucapan Lea, Tomi berlalu dari hadapan kedua gadis itu.


Davina jadi berfikir, andai Tomi adalah Zio mungkin ia tak perlu merasakan keresahan ini. Ia tak perlu mencari cara untuk merebut hatinya seperti yang sedang ia lakukan sekarang.


"Le, mungkin nggak ya om Zio suka sama aku. Mungkin di matanya aku cuma anak kecil yang dia anggap sebagai putrinya" Tiba-tiba Davina merasa tidak percaya diri. Mengingat betapa cantik dan anggunnya Silla, juga begitu menariknya Safira dengan segala kecerdasan dan sikap dewasa yang terpancar pada dirinya Davina merasa dirinya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan 2 gadis itu.


"Mungkin-mungkin aja. Kamu masih muda, cantik, dan energik. Tinggal dipoles-poles dikit pasti om Zio bertekuk lutut. Pokoknya tenang aja Vin, kita bakalan cari tau gimana cara memikat pria dewasa. Aku pasti bantuin kamu kok" Melihat semangat Lea membuat harapan Davina ikut bangkit. Ia akan berusaha merebut hati Zio bagaimana pun caranya.


"Makasih Le, kamu emang sahabat aku" Ucap Davina tersenyum tulus.


🍁🍁🍁