My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 67



"Selamat atas pernikahan anda pak Zio, maaf saya tidak bisa hadir. Sejujurnya saya tidak menyangka anda akan menikahi keponakan anda sendiri. Samuel sangat patah hati menerima kabar tersebut" ucap pak Beni yang datang ke kantor Zio, saat pernikahan Zio dan Davina digelar 2 minggu yang lalu pak Beni memang tidak hadir karena sedang berada di luar negeri mengurus bisnisnya.


"Terima kasih pak Beni, ya begitulah cinta pak Beni. Kita tidak bisa menebak arahnya, jangankan orang lain saya saja tidak pernah menyangka akan jatuh cinta pada Davina yang sudah saya urus sejak kecil. Semoga Samuel bisa segera pulih dari patah hatinya dan menemukan wanita terbaik yang bisa menyembuhkan hatinya dengan cepat" Balas Zio sambil tersenyum. Pak Beni menganggukkan kepalanya.


"Sejujurnya saya kecewa, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa kalau sudah menyangkut tentang cinta" timpal pak Beni. "Samuel sempat mengamuk, tidak terima Davina menikah dengan pria lain. Padahal selama ini ia belum pernah menaruh hati pada gadis manapun. Davina adalah gadis pertama yang membuatnya jatuh cinta. Namun ia harus dipaksa menerima kenyataan yang membuatnya kecewa" Lanjut pak Beni. Zio menahan rasa cemburunya atas ucapan pak Beni, ia sama sekali tak rela istrinya disukai pria lain.


"Saya harap Samuel bisa berlapang dada untuk melupakan Davina pak Beni. Saya dan Davina saling mencintai, dan kami sudah menikah sekarang. Anda tentu tau saya selalu menggenggam erat dan tidak akan pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milik saya" tegas Zio dengan tatapan penuh kesungguhan yang membuat pak Beni menciut, namun pria itu menutupinya dengan tertawa.


"Tenang saja pak Zio, anda tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Saya pastikan Samuel tidak akan mengganggu anda dan istri anda." ucap pak Beni yakin. Tentu saja ia segan berurusan dengan Zio.


Karena membahas Davina, Zio merasa sangat merindukan istrinya. Namun jam pulang masih lama. Zio juga tidak mungkin pulang duluan di hari pertamanya masuk kerja setelah 2 minggu libur.


"Sepertinya anda sedang merindukan istri anda pak Zio, saya pamit kalau begitu. Siapa tau anda ingin segera pulang. Saya paham rasanya menjadi pengantin baru" seloroh pak Beni sambil tertawa. Zio hanya tersenyum membalas guyonan pak Beni yang mampu menebak isi hatinya.


Selepas kepergian pak Beni, Zio meraih ponselnya dan segera menekan kontak Davina lalu pria itu melakukan panggilan telefon.


"Hai sayang" ucap Davina dengan riang di ujung telefon. Wajahnya terlihat bahagia, Sepertinya Davina memang sedang menantikan Zio menghubunginya karena baru satu deringan panggilan Zio langsung tersambung.


"Hai, Kamu lagi ngapain sayang?" balas Zio, senyum tak surut di bibir pria itu. Apalagi mendengar panggilan Davina untuknya. Tapi sayang saat berhadapan langsung Davina jarang sekali memanggilnya seperti itu, sepertinya sang istri masih merasa malu.


"Lagi nungguin telfon dari mas Zio" jawab Davina sambil mengulum senyum.


"Oh ya? kamu kangen mas Zio ya?" goda pria itu, tanpa ragu Davina mengangguk cepat sambil tersenyum dengan rona kemerahan di wajahnya. Ekspresi Davina membuat rasa rindu yang ada pada diri Zio terhadap istrinya kian menggelegak. Ia tak sabar untuk segera mendekap erat tubuh mungil wanita yang amat ia cintai itu.


"Mas juga kangen banget sama kamu sayang, tapi mas nggak bisa pulang sekarang" ucap pria itu dengan lesu.


"Kalo Davina yang ke sana boleh nggak?" Sebenarnya sejak tadi Davina ingin menyusul suaminya, 2 minggu selalu bersama membuat Davina merasa asing saat berjauhan dari pria itu. Sepertinya ia benar-benar sudah ketergantungan pada Zio. Tapi Davina takut keberadaan nya hanya akan mengganggu fokus Zio yang sedang bekerja jika ia menyusul pria itu.


"Boleh sayang, nanti mas suruh pak Sukri jemput ya?" ucap Zio dengan binar bahagia. Ya walaupun mungkin nanti apa yang ia kerjakan akan berbeda jika ada Davina.


"Beneran boleh mas? Davina ganggu nggak nanti? takutnya mas malah nggak bisa kerja gara-gara ada Davina" Tanya Davina masih merasa sedikit ragu.


"Beneran boleh sayang, mas nggak mungkin ngerasa terganggu. Malah akan semakin bersemangat kalau kerja ditemani istri" jawab Zio penuh semangat. Semenjak bersama Davina Zio merasa seperti muda kembali, ia selalu merasa bersemangat dan lebih bahagia. Terkadang ia bisa bersikap layaknya remaja yang baru memasuki masa puber. Davina benar-benar melukis warna yang indah dalam hidupnya.


"Ya udah Davina siap-siap dulu kalo gitu" Davina melemparkan ciuman pada Zio sebelum mematikan sambungan telfon nya. Zio terkekeh melihat tingkah menggemaskan istrinya. Ia semakin tidak sabar menantikan Davina.


"Bersiaplah sayang" gumam Zio dengan senyum penuh arti.


🍁🍁🍁


"Mas, pintunya nggak dikunci. Kalo sekretaris kamu masuk gimana" Protes Davina meski sebenarnya ia sangat menyukai Zio yang bersikap begitu memuja dirinya seperti ini. Davina merasa diinginkan dan sangat dicintai.


Zio melepaskan rengkuhannya dan tanpa bicara langsung menuju pintu lalu mengunci pintu tersebut. Ia juga berpesan pada sekretarisnya agar tidak mengganggunya dan menghandle tamu yang ingin bertemu dengan nya.


"Gimana?" Zio menatap Davina dengan penuh minat.


"Gimana apanya?" Davina pura-pura tak mengerti, padahal tatapan suaminya sudah menjelaskan semuanya.


Zio merengkuh pinggang Davina dan mendaratkan kecupan di leher gadis itu.


"Ini di kantor mas" Davina tak berfikir Zio akan menidurinya di sini, Ia tau Zio tak segila itu.


"Kenapa kalau di kantor?" Suara Zio terdengar berat.


"Kita nggak mungkin ngelakuin itu kan mas?" Tanya Davina gugup.


"Kenapa nggak mungkin?" Zio memutar tubuh Davina agar menghadap kepadanya.


"I-iya ini di kant...hmmptt" Davina tak sempat menyelesaikan ucapannya karena Zio telah lebih dulu menautkan bibir mereka.


Jika sudah begini Davina tak akan pernah mampu untuk menolak. Terkadang Davina juga tak habis fikir pada dirinya yang begitu gampang terbuai sentuhan suaminya. Bahkan setelah dua minggu menikah Davina sudah semakin piawai membalas sesapan suaminya.


"Melakukannya di sini mas yakin akan sangat menyenangkan sayang" Ucap Zio setelah melepaskan pertautan bibir mereka.


"Tapi di sini nggak ada ranjang mas" jawab Davina yang memancing tawa pria itu.


"Kita nggak butuh ranjang sayang, di sini juga bisa" Mata Zio memandang ke arah kursi kerjanya.


"Di kursi?" Tanya Davina heran.


"Yah, kita coba gaya baru" Bisik Zio sembari menarik istrinya.


🍁🍁🍁


Baca-baca komen part malam pertama, Davina banyak temannya ya ternyata. Demam sehabis malam pertama, sama kayak author sih malah lebih parah dari Davina. wkwkwk 😂😂😂


Eh btw masih ada yang ngira kalo author ini laki-laki nggak? 🤭🤭