
"Ini nggak masuk akal Zio, ini cuma akal-akalan kamu aja kan?" Ucap mama Ayumi setelah berhasil menguasai diri dari keterkejutannya
"Enggak ma, Zio dan Davina benar-benar saling mencintai. Kami juga nggak tau perasaan ini tiba-tiba hadir. Kami berdua sudah berusaha menyangkal namun pada akhirnya kami nggak bisa berbuat apa-apa saat perasaan kami tetap tumbuh dan semakin kuat" ucap Zio penuh kesungguhan, apa yang Zio takutkan terjadi. Mamanya saja bisa sekaget ini entah akan seperti apa reaksi orang di luar sana yang tau status mereka sejak awal.
"Sudah berapa lama? sudah sejauh mana hubungan kalian?" Mama Ayumi semakin tajam menatap pada Zio.
"Hampir 1 bulan ma, mama jangan khawatir Zio dan Davina masih bisa menahan diri. Kami nggak ngelakuin sejauh yang ada dalam fikiran mama" mama Ayumi menggeleng.
"Menahan diri? mama melihat sendiri bagaimana mengerikan nya kalian, dan kamu bilang masih bisa menahan diri? mama nggak yakin Zio! sekarang mungkin saja kalian memang belum melakukan sejauh itu, tapi siapa yang menjamin kalian bisa terus menahan diri? apalagi kalian berada di bawah atap yang sama" Berulang kali mama Ayumi menghela nafas dan membuangnya dengan kasar. Semua begitu mengejutkan hingga membuat dadanya sesak.
"Kalian nggak bisa tinggal bersama lagi Zio, kamu harus angkat kaki dari rumah ini" Mata Zio membelalak, ia tak percaya sang mama akan memintanya melakukan hal itu.
"Mama tau Zio nggak mungkin ninggalin Davina sendirian di sini ma"
"Davina nggak sendiri, ada asisten rumah tangga yang menemaninya. Davina juga sudah cukup dewasa, keberadaan kamu justru berbahaya untuk Davina" tegas mama Ayumi.
"Nggak bisa ma, Zio nggak bisa ninggalin Davina mama tau itu" Keluh Zio lirih.
"Zio janji pada mama akan menahan diri, Setelah Davina lulus Zio akan langsung menikahi Davina ma. Itu nggak akan lama lagi, tolong jangan meminta Zio pergi dari sini" mama Ayumi malah terlihat semakin shock.
"Menikah? sadar Zio, usia kalian terpaut sangat jauh. Jangan gegabah, pernikahan bukan sebuah permainan! mama memang menginginkan kamu untuk segera menikah, tapi bukan dengan Davina. Ada banyak sekali wanita dewasa yang sudah siap menikah di luar sana Zio"
"Zio nggak pernah berniat mempermainkan pernikahan ma, Zio sangat mencintai Davina. Usia tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan gagal atau berhasilnya sebuah hubungan" timpal Zio tak terima sang mama meragukan niatnya.
"Kamu mungkin iya, terus Davina? dia masih muda Zio. Dia masih labil, mama nggak yakin dia benar-benar mencintai kamu. Bisa aja dia menerima kamu karena rasa balas budi, atau kalau memang cinta sama kamu sekarang apa kamu bisa jamin Davina akan mencintai kamu sampai akhir? Davina belum terlalu jauh melihat dunia nak. Kamu benar usia memang bukan patokan tapi pasti akan banyak sekali permasalahan yang akan kalian hadapi terkait perbedaan usia itu, kalau kalian tak hati-hati justru akan menjadi duri dalam hubungan kalian" Zio mengerti apa yang mamanya maksud karena awalnya ia juga sempat berfikir demikian.
"Tapi Zio bisa merasakan ketulusan Davina ma, dia benar-benar mencintai Zio seperti Zio mencintainya"
"Kamu sudah sangat dewasa Zio, jangan sampai kamu salah memilih langkah. Masa depan Davina masih panjang, jangan mengikatnya. Mama takut ke depan ada badai yang menerpa dan kalian tidak sanggup mempertahankan cinta kalian, kalian hanya akan saling menghancurkan. Jangan sampai hubungan baik yang terjalin selama ini rusak, sesal masa lalu saja belum berhasil kamu hilangkan. Jangan menambah nya semakin banyak, mama uda nggak sanggup melihat kamu menderita Zio" Ucap mama Ayumi melunak.
"Mama bukan tidak menyukai Davina, kamu tau mama sangat menyayanginya. Karena itu mama nggak mau kalian salah mengambil keputusan dan akhirnya saling melukai. Sekarang kalian sedang berbunga-bunga sehingga yang kalian rasakan hanya manisnya saja seolah semua rintangan ke depan akan begitu mudah kalian singkirkan" Yah Zio mengerti, apa yang mamanya ucapkan sama seperti apa yang ia ragukan selama ini.
"Zio akan fikirkan ma, tapi jangan katakan dulu apapun pada Davina. Anggap mama nggak tau apa-apa sampai Davina selesai ujian nanti. Zio nggak mau Davina terganggu konsentrasinya" Davina akan menghadapi ujian satu minggu lagi. Zio ingin Davina fokus dan tak ingin mengganggu kenyamanan gadis itu dengan kondisi ini.
"Asal kamu bisa menjamin tak akan terjadi apapun pada kalian" Meski sulit namun ia tak bisa egois, ia paham cinta diantara Zio dan Davina tengah menggebu. Pasti akan berpengaruh besar pada Davina andai mereka dipisahkan sekarang, ia juga tak mau jika ujian Davina gagal nantinya.
🍁🍁🍁
"Oma bilang apa om?" Tanya Davina setelah mobil mama Ayumi dan Yara tak lagi nampak. Zio merangkul Davina dan mengajak nya masuk ke dalam rumah.
"Seperti biasa, mama meminta om Zio cepat menikah" Zio harus berbohong, entah sampai kapan. Ia tak tau apa nanti akan sanggup mengatakan apa yang sebenarnya.
"Terus om Zio setuju?"
"Kan pacarnya om Zio masih sekolah, gimana mau setuju?" Zio menatap penuh arti pada Davina yang kini tersenyum malu-malu. Melihat nya membuat hati Zio bagaikan diremas dengan kuat.
"Kan pacarnya om Zio bentar lagi lulus" Jawab Davina malu-malu.
Zio membawa Davina duduk di sofa, belum berniat mengantarkan Davina ke kamarnya.
"Memangnya pacarnya om Zio mau menikah setelah lulus sekolah?"
"Mau" Davina mengangguk cepat. Zio mencubit pipi Davina dengan gemas.
"Tapi kamu masih muda sayang, masa depan kamu masih panjang. Kamu masih harus kuliah dulu, ingat kamu adalah pemilik perusahaan yang orang tua kamu tinggalkan" Ucap Zio sambil mengusap lembut pipi kekasih kecilnya. Terbesit rasa perih di hatinya mengingat ucapan sang mama.
"Masa depan Davina akan Davina habiskan bersama om Zio, masalah perusahaan kan ada om Zio, meski perusahaan tersebut atas nama Davina tapi nggak ada salahnya kan kalo om Zio yang menjalankannya? Davina cuma ingin jadi ibu rumah tangga yang mengurus anak dan suaminya dengan baik om" Dada Zio semakin sesak mendapati ketulusan di mata Davina dalam setiap ucapannya. Terlalu sulit meragukan cinta yang Davina miliki untuk nya.
"Lagian kalo mau nunggu Davina selesai kuliah dulu baru kita menikah, om Zio keburu tua nanti" Ucap Davina sambil tertawa.
"Salah sendiri kenapa pacaran sama pria tua" Zio kembali mencubit pipi Davina dengan gemas
"Nggak salah dong, kan Davina cinta dan sayang banget sama om Zio" Dada Zio bergemuruh, perasaan nya terasa campur aduk, antara bahagia juga perih.
"Sama, om Zio juga cinta dan sayang banget sama Davina" Zio menarik tubuh Davina dan membenamkan kepala gadis itu di dadanya. Ia tak mau Davina menangkap keresahan di wajahnya.
🍁🍁🍁