My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 53



"Om Davina mau ke kamarnya Arsen" Ucap Davina gugup, Yara juga tak kunjung keluar. Sepertinya adik dari kekasihnya itu sengaja meninggalkannya berdua saja dengan Zio.


"Kok panggilan nya om lagi? Mas Zio dong sayang" Bisik Zio sengaja menggoda kekasihnya. Zio juga merapatkan tubuhnya pada Davina hingga tak ada jarak antara keduanya.


"Itu... sebenarnya Lea yang kasih usul. Ngaco banget kan dia. Davina mau aja lagi ngikutin usulnya yang selalu ngawur" Davina tertawa canggung.


"Nggak kok sayang, mas Zio sangat suka malah" Davina benar-benar ingin berteriak, karena Zio semakin bersemangat menggodanya.


"Panggilan itu semakin membuat mas Zio tidak sabar untuk segera memiliki kamu" Lanjut Zio lagi. Pria itu sengaja berbisik di telinga Davina agar gadis itu bisa merasakan hembusan nafasnya. Lalu kecupan hangat mendarat di pipi Davina. Gadis itu memejamkan matanya, tubuhnya terasa menegang karena ciuman Zio turun menyasar lehernya.


"O-om nanti ada om-ah" Davina bersusah payah menyelesaikan ucapannya, suaranya saling berlomba dengan des ah.


"Biarin aja sayang" Zio kini melingkarkan tangannya di perut Davina dan menarik tubuh gadis itu ke pangkuannya.


"O-om malu dilihat kak Yara" Davina panik atas aksi nekat kekasihnya.


"Yara pasti akan mengerti" Davina melihat kabut gairah di mata Zio. Sepertinya pria itu benar-benar terbakar hasrat. Davina tak mengerti kenapa pria itu bisa seperti ini di waktu dan tempat yang salah.


Davina tak mampu lagi berfikir saat Zio mulai meraih bibirnya, menyesapnya dengan liar dan sedikit kasar. Percuma untuk menolak Davina akhirnya hanya pasrah menikmati sesapan kekasihnya. Adrenalin nya terpacu dua kali lebih hebat karena ciuman Zio juga perasaan takut aksi mereka dipergoki oleh mama Ayumi dan juga Yara.


Zio terus melu mat bibir kekasihnya, bahkan tangan Zio mulai bergrilya menelusup ke dalam pakaian gadis itu. Davina yang merasakan usapan tangan Zio di punggungnya secara langsung tanpa penghalang menggeliat, tubuhnya memanas dengan desiran yang menggelitik seluruh bagian tubuhnya. Sementara Zio seolah tak lagi peduli pada sekelilingnya, ia masih dengan penuh semangat mencecap bibir Davina. Kegilaan yang tengah melandanya kini berawal dari panggilan jahil yang keluar dari bibir Davina beberapa waktu lalu. Hal itu berhasil membangkitkan sesuatu dalam diri Zio.


Tangan Davina mencengkram kuat dada Zio saat merasakan tangan kekasihnya mulai bergerak ke arah depan, akal sehatnya berusaha memerintahkan agar ia segera menghentikan aksi nekat Zio, namun nalurinya malah menuntun gadis itu untuk menikmati sentuhan-sentuhan kekasih nya yang terasa begitu melenakan.


"O-om hentikan" Kata-kata penolakan yang diiringi dengan des ahan seksi itu bukannya menghentikan malah semakin mengundang hasrat Zio untuk menyentuh Davina lebih dalam.


Davina semakin gelisah ketika merasakan bagian yang ia duduki terasa mengeras. Ia benar-benar dibuat tak berdaya dan kehilangan akal sehatnya.


"Ehemm, sepertinya kalian butuh ruangan pribadi untuk melanjutkan kegiatan ini. Takutnya nanti suamiku pulang, kasihan dia belum bisa berbuka puasa" Ucap Yara menghentikan aksi sepasang kekasih yang tengah saling memuja tersebut


Davina hampir saja terjatuh kalau saja Zio tak memegangi tubuhnya dengan erat ketika ia berusaha melepaskan diri karena gadis itu begitu panik saat mendengar suara Yara.


Setelah memastikan Davina sudah cukup berhasil menguasai rasa gugupnya, Zio melepaskan tangannya dari tubuh Davina. Gadis itu segera turun dari Pangkuan Zio dan mengambil tempat di sisi pria itu namun dengan mengambil sedikit jarak.


Keduanya terengah dengan wajah memerah menatap ke arah Yara yang terlihat begitu santai dengan baby Arsen di tangannya.


Davina menundukkan pandangannya dengan cepat, wajahnya bagaikan terbakar bahkan ia ingin menangis karena rasa malu akibat perbuatan tak senonohnya dengan Zio ketahuan oleh Yara.


"Kami pulang dulu" Ucap Zio, suaranya terdengar santai seperti tak pernah terjadi apapun.


"Jadi mau dilanjutin di mana sayang?" tanya Zio tanpa perasaan. Davina tak menimpali, bibirnya tertutup rapat namun tangannya mengepal. Ia merasa sangat kesal pada Zio yang malah menggodanya.


"Sepertinya kakak ipar kamu ini malu Yara, ya sudah kami pulang dulu" Ucap Zio sambil terkekeh. Zio meraih tangan Davina, gadis itu berdiri dan mengikuti langkah Zio masih dengan kepala yang tertunduk. Bahkan Davina sama sekali tak berpamitan pada Yara karena ia benar-benar kehilangan muka untuk berbicara pada adik dari kekasihnya itu.


Setibanya di dalam mobil Zio dikejutkan oleh suara isakan Davina.


"Sayang kamu kenapa?" pria itu begitu panik dan meraih wajah Davina yang sudah bersimbah air mata.


"Om Zio ja-hat hiks" Air mata Davina menyeruak semakin banyak, bahunya tampak naik turun karena isakannya.


"Om Zio jahat? memangnya om Zio ngapain?" Pria itu berusaha mengingat apa yang sudah ia lakukan sehingga kekasihnya menangis seperti ini.


"Davina malu sama kak Yara" Karena tak bisa lagi menahan akhirnya Davina menangis kencang. Ia memukuli dada Zio karena rasa malu dan kesal yang bercampur menjadi satu.


Tawa Zio pecah seketika, ia memeluk tubuh kekasihnya dengan gemas. Kepanikan yang sempat ia rasakan menghilang saat mengerti Davina menangis karena merasa malu kemesraan mereka dipergoki oleh Yara.


"Sayang, udah ya berenti nangisnya. Nggak usah malu, Yara pasti mengerti. Yara itu uda dewasa dan sudah memiliki suami, mereka bahkan sudah melakukan lebih dari yang kita lakukan barusan kok" Ucap Zio dengan entengnya.


"Ta-tapi kan mereka udah nikah, wajar kalo ngelakuin yang gitu-gitu" Gerutu Davina, gadis itu masih menangis sesenggukan di dalam pelukan kekasihnya.


"Ngelakuin gitu-gitu apa sayang? om Zio nggak ngerti" Davina kembali mendaratkan pukulan di dada Zio karena pria itu kembali menggodanya tanpa perasaan.


"Iya-iya maaf" Zio mengusap rambut Davina sambil terkekeh.


"Davina nggak tau apa setelah ini Davina masih memiliki muka untuk bertemu kak Yara" keluh Davina. Isakan nya masih terdengar sesekali. Saat mengingat ekspresi Yara, rasa malu kembali terasa meluap-luap.


"Nggak usah malu sayang, om Zio jamin Yara tak akan pernah mengungkit masalah ini lagi"


"Tapi tetap aja Davina malu om" Davina menutupi wajah dengan kedua tangannya.


"Eh ngomong-ngomong, boleh dong panggilan diubah jadi mas aja" Ucap Zio berusaha mengalihkan topik pembicaraan agar Davina tidak memikirkan apa yang terjadi beberapa waktu lalu terus menerus.


"Nggak mau" ucapnya manja sembari menyesapkan wajah ke dada pria itu.


"Maunya apa? ngelanjutin yang tadi? mau di rumah atau di apartemen?"


🍁🍁🍁