
"Om Zio jangan pergi, Davina gimana kalau nggak ada om Zio di sini. Davina takut om" Davina tersedu memandangi kekasihnya sedang membereskan beberapa pakaiannya. Untuk saat ini Zio terpaksa menuruti perintah mamanya karena mama Ayumi tetap kukuh pada pendapat nya dan menolak mentah-mentah rencana pernikahan Zio dan Davina.
"Sini sayang" Zio menghentikan kegiatannya lalu mengulurkan tangan meminta Davina mendekat padanya.
Davina menuruti permintaan Zio, gadis itu mendekat dengan langkah gontai. Kakinya terasa begitu lemah bagaikan tak bertulang, ia masih belum bisa mencerna dengan baik kenyataan pahit ini. Semua masih terasa seperti mimpi buruk, begitu menyiksa.
Zio yang menyadari kondisi Davina berjalan cepat lalu menangkap tubuh rapuh kekasih kecilnya dan memeluk nya erat. Tubuh gadis itu bergetar karena tangisan yang semakin pecah. Davina merasa terluka dengan amat dalam.
"Sabar ya, om Zio janji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Om Zio akan terus berusaha meyakinkan oma agar merestui kita. Jangan sedih sayang, kita masih bisa terus bertemu kapan pun walaupun kita uda nggak tinggal bersama. Om Zio juga pastikan ini nggak akan lama. Jangan menangis sayang, tidak akan ada yang berubah pada hubungan kita, hanya tempat tinggal yang membedakannya sekarang. Itupun hanya sementara waktu" Zio menciumi puncak kepala Davina bertubi-tubi. Tangisan Davina bagaikan pisau tajam yang menyayat-nyayat hatinya.
Davina tau mereka masih tinggal di kota yang sama, takkan sulit bagi mereka untuk bertemu. Hanya saja penolakan mama Ayumi yang tak pernah diduga oleh Davina sebelumnya membuat gadis itu begitu terpukul. Ia tak tau apalagi yang akan mama Ayumi lakukan setelah ini.
"Kalau oma menghalangi pertemuan kita gimana? oma nggak mungkin membiarkan kita tanpa pengawasan om" Davina masih terus terisak.
"Bagaimanapun caranya om pastikan kita akan selalu bertemu sayang tenanglah. Kamu yang kuat ya? jangan putus asa apalagi sampai menyerah" Zio meraih wajah Davina dan mencium kening Davina lama kemudian memeluknya lagi, melihat tatapan terluka Davina dengan air mata bersimbah membuat nya begitu lemah. Zio juga merasa sangat berat menghadapi ini, namun mereka tak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan mama Ayumi.
"Om Zio akan tinggal di mana?" Setelah 12 tahun tak pernah tinggal terpisah lalu hari ini akan ada jarak diantara mereka membuat hati keduanya benar-benar semakin terluka.
"Di apartemen sayang" Zio tak henti mengusap punggung Davina yang masih dalam dekapannya.
"Kalau Davina terbangun tengah malam terus nggak bisa tidur lagi kayak biasanya nanti Davina gimana kalau om Zio nggak ada" Keluh gadis itu, ia juga memikirkan jika Zio mengalami mimpi buruk. Davina tak tega Zio menghadapinya seorang diri, sudah terlalu lama pria itu melewati kesakitan nya sendiri.
"Davina bisa telfon om Zio, jangan khawatir"
Bisik Zio, meski terus menenangkan Davina nyatanya hati pria itu tak kalah sakit dan terluka. Entah bagaimana ia menekan rasa khawatir saat tinggal berjauhan dengan gadis itu nantinya.
"Iya om Zio janji sayang"
Setelah itu keduanya tak lagi bersuara, Zio dan Davina memejamkan mata menikmati kehangatan tubuh dan menyesap aroma masing-masing lalu menyimpan nya di dalam memori. Seolah setelah ini mereka tak akan pernah bertemu lagi.
🍁🍁🍁
"Mama yakin sama keputusan mama? kasihan mereka ma. Apalagi Davina, dia harus tinggal sendiri kalo kak Zio harus pergi dari rumah itu" Ucap Yara, ia sudah mendapatkan cerita dari Davina tentang kepindahan Zio. Yara ikut merasakan kesedihan saat Davina menangis ketika menceritakan pada dirinya lewat sambungan telefon beberapa waktu yang lalu.
"Davina tidak tinggal sendirian Yara, ada asisten rumah tangga di sana" sangkal mama Ayumi.
"Beda ma, mau nggak mau pasti ada jarak antara Davina dan asisten rumah tangga. Ada banyak hal yang nggak bisa mereka berikan untuk Davina dan hanya bisa diberikan oleh kak Zio. Kasihan Davina, dia pasti merasa sendiri ma. Selama ini dia bisa mengalihkan perasaan kehilangan atas kepergian kedua orang tuanya karena ada kak Zio yang menggantikan peran orang tuanya, Davina masih 18 tahun ma. Dia butuh kak Zio, dan Yara juga yakin kak Zio butuh Davina untuk menutupi luka yang menganga di hatinya."
"Tapi tetap tinggal bersama akan berbahaya untuk saat ini. Mereka sedang dibutakan oleh perasaan yang mereka sebut cinta. Mama nggak mungkin memisahkan mereka andai hubungan mereka masih sama seperti selama ini. Kamu lihat sendiri kan apa yang sudah mereka lakukan waktu itu? lagipula mama hanya melarang mereka tinggal bersama, mereka masih bisa berhubungan lewat telefon" tegas mama Ayumi.
"Ya udah nikahin aja mereka ma, mereka sama-sama siap kok. Kan mama bilang mereka hanya berpisah tempat tinggal dan masih bisa berhubungan bahkan bisa bertemu. Menurut Yara mama hanya membuang waktu dengan menentang hubungan mereka, sementara perasaan mereka tetap tak bisa dihilangkan. Jadi nggak ada salahnya kalo mereka dinikahin aja ma" balas Yara.
"Davina masih 18 tahun, dia belum siap untuk menjalani kehidupan rumah tangga Yara. Menikah tidak semudah yang dibayangkan, mama takut justru hal itu akan mempengaruhi mental Davina, apalagi jika nanti mereka memiliki anak. Biarkan Davina tumbuh seperti gadis seusianya, mengenyam pendidikan dan bergaul sepuasnya" Mama Ayumi menghela nafas lelah, sulit sekali mengungkapkan apa yang ia rasakan sebenarnya. Sedikitpun ia tak membenci Davina, justru ia sangat menyayangi gadis itu. Tapi niatnya ditangkap berbeda oleh mereka semua.
"Terus kak Zio gimana? mau sampai kapan mama membiarkan kak Zio hidup sendiri tanpa pendamping? atau mama mau kak Zio melajang seumur hidupnya? kak Zio sangat mencintai Davina ma. Kak Zio juga sudah sangat mengenal Davina. Yara yakin kak Zio sudah sangat memahami bagaimana memperlakukan dan mengarahkan Davina dengan baik. Percayakan semuanya pada mereka, karena mereka yang paling tau apa yang mereka rasakan dan apa yang terbaik untuk mereka. Mama cukup doakan saja mereka. Jangan pisahkan mereka ma, yakinlah apa yang mereka rasakan ini benar-benar cinta. Kasihan mereka harus menderita karena prasangka mama." Yara terus berusaha meyakinkan mamanya berharap pintu hati wanita itu sedikit terbuka.
"Sudahlah Yara mama capek. Terserah kalian mau menanggapi seperti apa, mungkin bagi kalian saat ini mama jahat karena memisahkan mereka. Namun suatu saat nanti kalian akan mengerti apa yang mama lakukan ini demi kebaikan Zio dan Davina" mama Ayumi beranjak meninggalkan Yara yang tampak kecewa karena pendapat mama Ayumi begitu sulit dipatahkan.
🍁🍁🍁