
"Kak, Davina jangan digigitin terus kasihan" Zio yang baru akan minum mengurungkan niatnya setelah mendengar ucapan Yara yang sedang datang berkunjung bersama mama Ayumi.
"Maksud kamu apa?" tanya Zio pada Yara yang kini menahan tawanya.
"Tuh leher Davina merah-merah kasihan banget, Kalian pasti ngelakuin itu terus setiap ada kesempatan ya?" Goda Yara sembari mengarahkan telunjuknya pada leher Davina. Zio menatap cepat ke arah sang istri yang juga terlihat kaget dengan ucapan adik iparnya itu. Tadi Davina buru-buru menemui mama Ayumi dan Yara saat mengetahui kedatangan mereka tanpa sempat meneliti kondisi dan penampilannya terlebih dahulu.
"Yara kamu tu jahil banget" tegur mama Ayumi, namun wanita paruh baya itu juga terlihat menahan tawa.
Davina menatap pada Zio, pria itu melemparkan senyum menenangkan. Ia tau istrinya tengah mati-matian menahan malu karena ucapan Yara.
"Kayak nggak pernah ngerasain jadi pengantin baru aja kamu." Jawaban Zio sama sekali bukan jawaban yang Davina harapkan. Ia merasa semakin malu karena ucapan Zio seolah membenarkan anggapan Yara bahwa mereka selalu bercinta di setiap kesempatan. Yah meski kenyataan nya hal itu memang benar.
"Digempur terus tiap saat, uda ada tanda-tanda jadi belum Vin?" Tanya Yara beralih pada Davina.
"Apanya yang jadi kak?" Tanya Davina tak mengerti.
"Adek bayi, hamil maksudnya" jawab Yara sambil terkekeh.
"Davina nggak tau kak, emang apa aja tanda nya?" Davina terlihat antusias
"Telat menstruasi sih tanda yang paling umum, kamu uda telat belum?" Davina tampak berfikir mendengar jawaban adik iparnya.
"Emang belum waktunya menstruasi kak, jadi nggak tau" jawab Davina.
"Kak Yara dulu berapa lama jadinya baby Arsen? apa langsung jadi ya kak?" timpal Davina lagi.
"Enggak kok, nunggu beberapa bulan dulu baru jadi" jawab Yara.
"Udah, nikmati aja dulu masa-masa pengantin baru kamu sama Zio. Jangan mikirin hal itu dulu, kalian juga baru 2 minggu menikah. Nanti malah jadi stres" Ucap mama Ayumi, ia tak mau Davina merasa terbebani. Apalagi menantunya itu masih sangat muda.
"Iya ma" Jawab Davina tersenyum hangat. Ia beruntung mama Ayumi tak terlalu menuntutnya untuk segera memberikan cucu.
"Iya ma kita berdua emang santai kok, kalo dikasih cepat syukur kalaupun belum kita akan sabar dan akan terus berusaha dengan bikin tanpa henti. Ya nggak sayang?" ucap Zio sambil tersenyum menggoda.
Davina tersenyum masam, suaminya akhir-akhir ini seringkali berbicara vulgar. Kalau saat berdua Davina tak terlalu mempermasalahkan nya, namun jika di hadapan Yara dan mama Ayumi Davina merasa keberatan karena itu akan membuatnya merasa sangat malu.
🍁🍁🍁
"Selamat atas pernikahan kalian" Ucap Silla dengan tatapan sinis pada Zio dan Davina saat mereka tak sengaja bertemu di sebuah pesta rekan bisnis Zio. Silla datang bersama dengan suaminya. Namun Silla menghampiri meja Zio dan Davina sendirian karena suaminya sibuk bercengkrama dengan tamu-tamu lain yang juga datang.
"Terima kasih" Ucap Zio datar.
"Kenapa nggak ngundang aku, bukannya kita ini berteman?" Singgung Silla lagi.
"Kami hanya mengundang orang-orang terdekat saja" Balas Zio, pria itu menangkap ketidak nyamanan istrinya dengan keberadaan Silla.
"Dulu kita sempat berpacaran cukup lama Zio, apa itu tidak bisa dikatakan dekat? atau kamu sengaja nggak ngundang aku karena malu?"
Silla tersenyum mengejek.
"Karena kamu ketauan sakit jiwa! menikahi anak kecil bahkan dulu kamu rela mengakhiri hubungan kita yang sudah terjalin bertahun-tahun demi dia. Aku nggak nyangka pernah berhubungan dengan pengidap kelainan seperti kamu" ucap Silla yang tidak hanya menyulut emosi Zio namun juga amarah pada diri Davina.
"Jaga bicaramu Silla! itu sama sekali bukan urusan kamu" Ucap Zio dengan geram.
"Aku dan mas Zio berhubungan setelah aku berusia 18 tahun tante" Davina ikut menimpali. Ia tak terima jika Silla menuding suaminya dengan tuduhan yang tidak-tidak.
Silla mengedikkan bahunya dan melemparkan senyum mengejek pada pasangan itu sebelum beranjak pergi menuju suaminya.
"Mas jangan terpengaruh sama ucapan tante Silla." Ucap Davina lembut sembari menggenggam tangan suaminya.
"Enggak sayang, ngapain terpengaruh pada ucapan wanita sakit jiwa itu" ucap Zio sembari tersenyum pada istrinya. Padahal pria itu justru mengkhawatirkan perasaan Davina atas ucapan usil Silla.
"Mas malah mengkhawatirkan kamu sayang" ucap Zio.
"Davina nggak apa-apa. Seperti yang mas bilang, kenapa harus peduli sama ucapan ngawur orang yang nggak penting. Rugi banget" Keduanya terkekeh.
Tidak berapa lama, rekan bisnis Zio datang menghampiri mereka. Keduanya terlibat obrolan seputar bisnis yang tak Davina mengerti.
"Mas, Davina ke toilet sebentar" Bisik Davina pada suaminya. Ia sudah menahan ingin buang air kecil sejak tadi dan sekarang ia tak bisa menahan lebih lama lagi.
"Mas temani"
"Jangan, Davina nggak apa-apa sendiri aja" Tolak Davina. Ia tak mungkin membiarkan suaminya meninggalkan rekan bisnisnya padahal mereka masih terlibat obrolan serius. Sementara untuk menunggu obrolan itu selesai, Davina benar-benar sudah tidak tahan lagi.
"Jangan lama-lama" Ucap Zio, Davina mengangguki pesan suaminya dan meraih tas tangan di atas meja dan beranjak menuju toilet.
Untunglah Davina tak kesulitan menemukan toilet, dan kebetulan toilet wanita sedang kosong jadi ia tak perlu mengantri. Davina segera masuk dan menuntaskan urusannya.
Setelah selesai buang air kecil, Davina berniat merapikan riasan di wajahnya menuju wastafel. Namun langkahnya terhenti, wajahnya terkesiap mendapati sosok Samuel sedang menyeringai ke arahnya.
"Hai senang bertemu kamu di sini Davina sayangku" Ucap pria itu yang terdengar memuakkan di telinga Davina.
"Ini toilet wanita kak, kenapa kakak di sini" Davina berusaha untuk terlihat tenang. Ia yakin Samuel tak akan berani macam-macam.
"Ingin bertemu kamu tentu saja" Ucap Samuel dengan tatapan mengerikan seperti biasanya.
"Aku merindukan kamu Davina, tega sekali kamu meninggalkan aku dan menikahi pria lain" Samuel melangkah ke arah Davina. Refleks gadis itu memundurkan langkahnya, Ia sangat ketakutan.
"Kakak mau apa?" Davina terbata dan hampir menangis. Ia sangat berharap seseorang akan datang sehingga Samuel bisa menghentikan niatnya. Langkah Davina terhenti dan tubuhnya menabrak dinding. Davina semakin ketakutan karena Samuel semakin mendekat.
"Aku mau kamu Davina, kenapa kamu masih aja nggak ngerti" Samuel tampak kesal namun kilatan matanya terlihat begitu puas mendapati gadis itu sendirian dan tersudut di dinding kamar mandi dalam kurungan dua lengan kekarnya.
"Jangan macam-macam kak, jangan lupakan keberadaan suamiku di sini. Mas Zio pasti akan menghancurkan kamu kalau terjadi apa-apa sama aku!"
🍁🍁🍁