
"Kalian habis bahas apa? kok serius banget" Yara menghampiri Davina dan mama Ayumi sambil menggendong bayi nya.
"Biasa obrolan orang dewasa" ucap Davina sambil tersenyum ceria. Ia berusaha menutupi kondisi hatinya yang sebenarnya.
"Hadeeh si tante sok dewasa ya dek" Timpal Yara sambil berbicara pada bayi mungilnya.
"Ih adek kecil makin ganteng aja" Davina mencium pipi baby Arsen yang semakin gembul.
"Kalian lanjutin ngobrolnya ya, oma ada janji sama tetangga mau cobain resep kue baru" Pamit mama Ayumi sambil mengusap lengan Davina.
"Jadi dari tadi Davina ganggu ya oma?" Tanya Davina merasa tak enak hati.
"Enggak sayang, emang janjiannya jam sekarang kok" Ucap mama Ayumi menenangkan Davina. Ia kemudian beranjak dari sana untuk bertemu dengan tetangganya.
"Kamu uda lama di sini?" Yara yang sejak tadi menemani bayinya tidur di kamar tidak tau jika Davina datang.
"Lumayan hampir 1 jam yang lalu" Davina memain-mainkan pipi bayi laki-laki yang ada dipangkuan Yara.
"Sama kak Zio?"
"Enggak, Davina sendirian" jawab gadis itu.
"Tumben sendiri, biasanya kamu dan kak Zio ke mana-mana selalu bersama. Lengket banget kayak permen karet nempel di rambut" Davina tertawa namun hatinya resah, yah ia dan Zio memang sedekat itu. Namun dengan kondisi sekarang entah akan seperti apa hubungan mereka ke depan. Davina tak yakin ia dan Zio bisa sedekat dulu sebelum mereka saling mengetahui isi hati masing-masing.
"Om Zio masih ada kerjaan di kantor, tadi Davina harus ngerjain tugas makanya pulang duluan" kini Davina mengambil alih memangku baby Arsen.
"Kamu kok cocok banget ya Vin momong bayi, jangan-jangan udah dekat nih jodohnya" goda Yara.
"Masa sih kak?" Davina tertawa senang
"Iya, aura kamu keluar banget tau. Kamu mau nikah muda nggak?" Yara hanya iseng bertanya namun sepertinya Davina begitu serius menanggapinya.
"Nggak tau kak, belum ada bayangan. Pacar aja nggak punya" Jawab Davina memasang raut wajah bersedih.
"Masa sih nggak punya pacar. Pada ke mana nih pria-pria single, masa cewek secantik kamu dianggurin" ucap Yara yang membuat Davina mencebik malas.
"Kak Yara berlebihan"
"Loh beneran kok Vin. Kalo yang kamu sukai ada nggak?" tanya Yara penasaran.
"Ada sih, tapi sayang dia nggak mau sama Davina" Davina memang tertawa namun diam-diam ia mengasihani dirinya sendiri. Meski kini ia mengerti alasan Zio menolak nya namun tetap saja ia merasa sedih.
"Ah nggak percaya" melihat kecantikan Davina juga kebaikan hatinya Yara tak yakin akan ada pria yang menolak pesona nya.
"Beneran, Davina ditolak kok sama pria yang Davina sukai" Davina terkekeh.
"Wah sok banget tuh orang, kasih tau kakak emang seganteng apa dia? nggak tau diri banget dia bisa-bisanya nolak cewek sempurna kayak kamu" Davina semakin terkekeh melihat reaksi Yara yang ia nilai berlebihan.
"Siapa yang ganteng?" Suara Zio menginterupsi obrolan Yara dan Davina yang berlangsung seru.
"Om Zio uda pulang?" Sapa Davina salah tingkah.
"Iyah tadi om Zio uda pulang ke rumah, kata mbak kamu di sini makanya om Zio susul" Zio mendaratkan tubuhnya di sebelah Davina. Ia sengaja mendekati gadis itu karena beberapa hari ini Davina selalu menjaga jarak dengannya, Zio tau di depan Yara Davina tak mungkin menolaknya.
"Tadi lagi bahas apa? kayaknya asik banget, pertanyaan om Zio juga belum dijawab. Siapa yang ganteng banget?" tanya Zio
"Ini kak si Davina, masa katanya dia ditolak sama cowok yang dia suka. Kan sok kegantengan banget cowok kayak gitu masa Davina ditolak. Mau yang kayak gimana lagi coba?" Ucap Yara berapi-api.
Zio menatap pada Davina, pria itu tersenyum kecut.
"Cinta kan emang nggak bisa dipaksa kak. Mungkin Davina nggak masuk kriterianya dia" jawab Davina sambil melirik pada Zio. Pria itu terlihat ingin menyangkal namun tidak jadi. Mungkin takut Yara bisa menebak bahwa pria yang Davina maksud adalah dirinya.
"Mau kakak kenalin sama teman kakak yang jomblo?" tanya Yara tiba-tiba.
Davina melihat Zio tampak gelisah namun pria itu tetap tak mengatakan apapun.
"Nggak usah kak, kalo yang mau deketin Davina sebenar nya banyak. Davina nya aja yang belum bisa buka hati. Tapi kayaknya mulai sekarang uda harus coba buat membuka diri dan nggak hanya fokus pada satu orang yang nggak menghargai perasaan Davina" Zio terlihat menatap gusar pada Davina, seolah sangat terganggu pada ucapan gadis itu.
"Iya benar juga Vin, kalo misal tetap nggak bisa sama yang lagi deketin kamu nggak ada salahnya kenalan dulu sama teman kakak. Teman-teman kak Yara rata-rata tampan dan kaya Vin. Siapa tau ada yang nyangkut"
"Yara nggak usah ngomporin Davina gitu, bentar lagi Davina mau ujian. Harusnya kamu arahin dia supaya fokus sama pelajaran bukan malah bahas cinta-cintaan" Potong Zio. Mendengar Davina membahas tentang pria lain membuat dadanya terasa panas.
"Yah buat selingan aja kak, biar nggak bosan. Kalo cuma pelajaran mulu yang difikirin suntuk juga" Yara beralih menatap pada Davina
"Nggak kerasa ya kamu uda mau lulus SMA, rencana nya mau kuliah ke mana? ke luar negeri?"
Belum sempat Davina menjawab Zio lebih dulu menimpali ucapan Yara dengan panik.
"Di sini aja, Davina nggak akan kuliah ke luar negeri. Kejauhan, di sini juga banyak kok perguruan tinggi yang bagus" Melihat reaksi Zio, Davina malah merasa tertantang.
"Kayak nya mending ke luar negeri om, Davina pengen ngerasain gimana tinggal di negara orang tanpa siapa-siapa"
"Nggak boleh sayang, kamu kuliah nya di sini aja. Kamu bilang nggak mau jauh dari om Zio, ini kenapa malah kamu yang mau ninggalin om?"
"Davina pengen ngerasain mandiri om, kan nggak selamanya om Zio ada di samping Davina. Apalagi nanti kalau suatu saat om Zio menikah dan memiliki keluarga sendiri, pasti pada akhirnya om akan meninggalkan Davina" Davina tersenyum pahit pada Zio yang menatap tak percaya padanya.
"Bener juga kak, Davina harus belajar mandiri. Terus siapa tau nanti Davina ketemu jodoh di sana. Eh Vin keren banget loh kalo kamu dapat suami bule, anak kalian pasti cantik dan ganteng. Wah asik banget punya anak yang wajahnya indo" Yara dan Davina tertawa sementara Zio bertambah gusar.
"Tapi Arsen ganteng banget nih walaupun mukanya Indonesia banget" Davina mendaratkan kecupan gemas di pipi Arsen yang begitu anteng sejak tadi. Bayi gembul itu sama sekali tidak rewel.
🍁🍁🍁