
Pagi datang menyapa, sinar matahari menyelusup lewat celah-celah gorden memasuki kamar di mana sepasang kasih tengah bercumbu dengan lelap. Merasakan sinar menerpa dirinya, Zio membuka matanya perlahan untuk menyesuaikan penglihatan dari terangnya cahaya. Menyadari hari telah pagi Zio menghela nafas lega, pria itu merasa begitu segar pagi ini. Perasaan nya juga begitu tenang dan damai.
Rasanya sudah begitu lama ia tak menikmati tidur malamnya seperti malam ini. Mimpi buruk sepertinya cukup berbaik hati hingga tak datang menyapa dan membiarkannya tidur sepanjang malam.
Zio menolehkan kepalanya, matanya menangkap sosok Davina yang masih terlelap dengan berbantal lengannya. Tangan gadis itu juga melingkar di perut pria itu, menerbitkan senyum cerah di bibir Zio. Tadi malam Setelah apa yang terjadi Davina tetap menolak untuk tidur sendiri dan mau tidak mau Zio menemaninya meski rasa khawatir tetap ada. Zio takut ia kembali melakukan kesalahan.
Karena Davina beralasan ia tak bisa tidur sendirian di tempat yang baru, selama ini di rumah nya saja ia sering terbangun tengah malam dan kesulitan tidur kembali. Mau tidak mau Zio menuruti kekasihnya namun ia harus berusaha menahan diri sekuat tenaga. Rasanya? sangat menyiksa!
Zio mengusap lembut pipi Davina, saat sedang terlelap begini wajah gadis itu begitu cantik dan memancarkan kedamaian bagi Zio yang memandangi nya. Zio merasa menjadi pria paling beruntung karena bisa mendapatkan cinta dari gadis seistimewa Davina, gadis muda dan energik yang selalu menebarkan aura bahagia pada siapapun dengan kecantikan hati dan juga fisik nya.
"Bangun princess, ini sudah pagi" Bisik Zio sambil menciumi puncak kepala Davina, namun gadis itu tak bergeming. Mungkin mimpinya terlalu indah hingga ia tak rela untuk beranjak dari tidur lelap nya.
"Sayang, mau jalan-jalan kan? ayo bangun" Kali ini Zio menepuk lembut pipi kekasih kecilnya. Zio mulai merasa sesak di bagian bawah tubuhnya efek tubuh Davina yang begitu menempel padanya.
Kali ini Davina menggeliat, matanya pelan-pelan mulai terbuka. Gadis itu tersenyum manis saat menyadari Zio tengah menatapnya.
"Selamat pagi om" ucapnya dengan suara serak, gadis itu sepertinya masih mengantuk namun tak sedikitpun menghapus jejak kecantikan di wajahnya. Davina kemudian kembali memeluk Zio yang sebelumnya sempat terlepas lalu menyesapkan wajah ke dalam dada Zio. Ia begitu menyukai aroma maskulin yang menguar dari tubuh kekasihnya.
"Selamat pagi sayang" Balas Zio.
"Sekarang bersihkan diri kamu ya, om akan memesankan makanan" lanjut pria itu, tangannya masih setia membelai rambut Davina.
"Kenapa harus cepat-cepat, Davina belum lapar om"
"Supaya nanti kita bisa cepat jalan-jalan sayang" bujuk Zio.
"Rasanya mau kayak gini aja sepanjang waktu, nggak usah jalan-jalan. Rebahan kayak gini ditemani om Zio uda liburan yang paling menyenangkan buat Davina" Ucapan Davina membuat Zio terkekeh. Sebenarnya pria itu setuju dengan apa yang Davina katakan, namun Zio tak ingin mengambil resiko. Ia takut kebablasan lagi seperti tadi malam jika mereka berdua tetap seperti ini sepanjang liburan ini.
"Kenapa harus jauh-jauh ke sini kalau cuma rebahan aja sayang, katanya mau foto-foto. Sayang banget kalo dilewatin, banyak tempat wisata bagus dengan pandangan indah yang akan kita kunjungi nanti" Zio kembali berusaha membujuk Davina, ia tak bisa seperti ini lebih lama lagi karena hasratnya mulai bangkit akibat Davina yang kini tengah menyesapkan wajah di lehernya. Hembusan nafas Davina membuat bagian sensitifnya bereaksi hebat.
"Davina nggak tertarik, om Zio jauh lebih indah dari semua itu. Daripada jalan-jalan mending kayak semalam aja om" ucap Davina tanpa rasa bersalah, gadis itu sama sekali tak tau efek yang ditimbulkan dari ucapannya.
"Om Zio mau buang air kecil dulu sayang" Zio terpaksa menggeser tubuh Davina dengan hati-hati lalu segera bangkit dan beranjak cepat memasuki kamar mandi. Ia sudah tak tahan lagi, hampir saja ia meledak dan kembali menerkam Davina.
🍁🍁🍁
"Waw ini benar-benar surprise yang luar biasa" Davina mengangkat wajahnya dengan cepat saat mendengar seseorang berbicara. Ia tercekat mendapati keberadaan Samuel dengan senyum lebarnya.
"Kak Samuel, kenapa bisa di sini?" tanya Davina resah.
"Aku sedang ada urusan di sini, kita benar-benar berjodoh Davina." ucap pria itu bangga. Davina tersenyum masam, ia kesal dan tak habis fikir.
Dunia ini begitu luas namun kenapa mereka tetap dipertemukan di sini? ada banyak wilayah di negara ini tapi kenapa Samuel harus mengurusi pekerjaan di kota tempat ia sedang berlibur.
"Oh ya kamu sedang apa di sini? atau jangan-jangan om kamu dan papa ku kerja sama untuk mempertemukan kita di sini. Papa sengaja mengirim ku mengurusi pekerjaan di sini sementara om kamu entah menggunakan alasan apa mengirim kamu. Mereka lucu sekali, tapi aku senang Davina" Davina menggelengkan kepalanya, Samuel adalah pria paling percaya diri yang pernah Davina temui.
"Aku lagi liburan sama om Zio di sini" Davina mulai gelisah, Zio yang tadi pamit ke toilet masih belum kembali.
"Oh ya? om Zio nya mana?" Samuel seperti meragukan Davina, ia masih sangat percaya pada apa yang ia terka sebelumnya.
"Om Zio sedang ke toilet" Davina membuka ponselnya dan mulai mengetikkan pesan pada Zio agar segera kembali. Namun belum sempat ia menekan tombol kirim gadis itu sudah mendapati sosok Zio yang berjalan tergesa ke arahnya.
"Hai om Zio, senang bisa bertemu di sini" Ucap Samuel sambil tersenyum namun sangat terlihat senyuman itu begitu dipaksakan.
"Kamu? kenapa bisa ada di sini?"
"Papa mengirim ku ke sini mengurusi proyek di kota ini. Kebetulan sekali ternyata Davina juga sedang liburan. Mungkin ini yang dinamakan jodoh tak akan ke mana, lihat kami sudah begitu jauh pergi dari kota tempat kita tinggal, tapi tetap saja semesta mempertemukan kami di sini" ucap Samuel dengan senyum bangga.
"Ini hanya kebetulan Sam. Selain karena kota ini memang tujuan wisata banyak orang, di sini juga syurga bagi para pengusaha untuk menangkap peluang bisnis yang bertebaran" Zio sama sekali tak menutupi raut wajah tak suka dengan kesimpulan yang Samuel buat.
"Kami duluan Samuel, salam pada papa mu" Sebelum Samuel sempat menjawab Zio telah lebih dulu menutup obrolan mereka. Ia mengulurkan tangannya pada Davina untuk segera membawa gadis itu keluar dari kedai makan tempat mereka sarapan.
🍁🍁🍁