
Diam-diam Davina mengirimkan pesan pada Zio, menceritakan tentang keberadaan Samuel dan meminta pria itu menjemputnya. Tapi sayang pesan yang ia kirimkan hanya centang satu.
"Le, nomor om Zio kayaknya nggak aktif" Bisik Davina pada Lea. Keduanya pura-pura sibuk memilih sweater.
"Aku mau coba yang warna ini dulu Vin" Ucap Lea menunjuk satu sweater. Ia menarik Davina ke arah ruang ganti, Samuel kembali mengikuti mereka dari belakang. Saat Davina akan masuk ruang ganti Samuel mencekal tangan Davina.
"Kamu nggak usah ikut masuk"
"Lah kok jadi ngatur-ngatur? aku kan butuh pendapat Davina tentang sweater pilihan aku" Protes Lea.
"Abis dicoba kan kamu bisa keluar buat minta pendapat Davina. Kamu tenang aja aku nggak akan nyulik Davina" Samuel tak peduli pada raut masam Lea. Ia tak melepaskan tangannya dari tangan Davina.
Lea terpaksa menuruti setelah mendapat anggukan dari Davina.
"Kalau dia macam-macam kamu teriak aja Vin" Ucap Lea, ia segera masuk ke dalam ruang ganti. Gadis itu tak langsung mencoba sweater yang ia pilih, Lea mengeluarkan ponsel di sakunya lalu mencoba menghubungi Zio. Namun benar saja nomor pria itu sedang tidak aktif, mungkin kehilangan daya.
Lea mencoba menenangkan hatinya dan berusaha berfikir jernih. Ia yakin Samuel tidak akan membiarkan Davina pergi begitu saja.
Sementara itu
"Kamu diam-diam mau main curang sama aku Davina" ucap Samuel dengan tatapan tajamnya.
"Maksud kamu?" Davina menatap Samuel dengan heran.
"Aku nggak nyangka diam-diam kamu ada main sama om kamu sendiri. Kamu nolak aku tapi main gila sama dia bahkan kamu akan menikah dengan nya. Di mana otak kamu Davina" Davina terhenyak, ia menatap kaget pada Samuel. Hatinya bertanya-tanya namun ia mengingat sesuatu, mungkin pak Beni sudah menerima undangan pernikahan nya dengan Zio karena itu Samuel mengetahui rencana pernikahannya.
"Kamu kira kamu bisa mempermainkan aku? nggak akan bisa!" Lanjut Samuel, ketakutan Davina bertambah. Samuel lagi-lagi menunjukkan sisi mengerikan dari dirinya.
"Di mana letak kesalahannya? aku dan om Zio saling mencintai, tak ada ikatan darah di antara kami berdua. Jadi sah-sah aja, lagipula atas dasar apa kamu menuduhku mempermainkan kamu?" Davina memberanikan diri menantang mata Samuel. Meski ia amat ketakutan tapi ia berusaha menutupinya agar Samuel tak menyadari bahwa ia merasa terancam.
"Kamu yang datang dan masuk ke dalam hidupku. Aku menyukai kamu sejak pertama kali bertemu, aku nggak akan pernah melepaskan kamu Davina. Bagaimana pun caranya kamu harus jadi milik aku." Ketegasan Samuel membuat tubuh Davina bergidik.
"Gimana Vin bagus nggak?" Lea keluar dari ruang pas membuat Davina lega. Setidaknya sekarang ia tak sendirian menghadapi Samuel yang tampak menyeramkan.
"Nggak Lea, ini terlalu biasa. Nggak cocok untuk karakter kamu" Jawab Davina sengaja mengulur waktu.
"Iya bener, aku juga mikirnya gitu. Cari lagi yuk" Tanpa masuk ke ruang ganti Lea langsung melepaskan sweater yang ia coba sebelumnya dan menarik tangan Davina namun lagi-lagi Samuel menghentikannya.
"Jangan mempermainkan aku, jangan kira aku nggak tau kalau ini hanya akal-akalan kalian untuk mengerjaiku" Ucap Samuel terlihat kesal.
"Ih aneh, kami kan dari awal ke sini emang mau belanja. Kamu sendiri yang nggak tau malu ngintilin kita. Ngapain protes, udah tau cewek kalo belanja lama. Pake acara ngikut segala" Davina beruntung karena Lea begitu berani menghadapi Samuel.
"Mau ke mana si, aku nggak mau kak. Nggak ada yang perlu kita bicarain" Davina berpegangan pada Lea dan berusaha melepaskan diri dari Samuel.
"Beneran nggak takut aku teriak nih? kamu ini orang terhormat kan? kamu nggak malu kalo ada yang kenal sama kamu dan tau kamu mau nyulik Davina?" ancam Lea. Ia tak habis fikir pada kenekatan Samuel membuat ulah di tempat umum seperti ini.
"Silahkan aku nggak takut" tantang Samuel yang membuat Lea makin terperangah.
"Kamu beneran gila ternyata" Gumam Lea dengan kesal. "Tapi aku jauh lebih gila" lanjut Lea sembari tersenyum sinis.
"Oh ya? kamu boleh berteriak sekarang, nanti aku tinggal bilang pada orang-orang bahwa kamu menyukai istriku dan mengarang cerita bahwa aku akan menculik istriku sendiri yang kebetulan sedang merajuk. Aku yakin mereka akan lebih percaya padaku ketimbang kamu, ingat seorang pria tampan akan lebih dipercaya" Ucap Samuel dengan penuh percaya diri. Ia merasa menang melihat keterkejutan di wajah Davina dan Lea.
"Kenapa diam? nggak percaya? ayo cobalah untuk berteriak." Samuel menarik tangan Davina, mengajaknya keluar dari toko pakaian. Lea akan berteriak namun ia urungkan, jika benar Samuel akan mengakui Davina sebagai istri nya maka tak akan ada yang berani ikut campur dalam permasalahan rumah tangga orang lain. Mereka hanya akan menjadi tontonan.
Lea memutuskan untuk mengejar Samuel dan Davina, ia tak akan membiarkan Samuel membawa Davina tanpa dirinya sambil terus berharap Zio akan segera datang dan menghentikan Samuel.
"Lepaskan calon istriku Samuel" Davina merasa teramat lega mendapati Zio berada di hadapan mereka menghentikan langkah Samuel. Begitupun dengan Lea yang tersenyum senang.
Sebelumnya, saat Lea akan memasuki ruang ganti Davina memberikan ponselnya agar Lea bisa menelfon Zio, saat nomor pria itu tak aktif Lea berusaha mencari nama asisten Zio seperti yang Davina bisikkan. Beruntung nomor asisten Zio bisa dihubungi dan pria itu langsung menerima panggilan dari nya
"Tidak akan! Davina milikku, aku nggak akan pernah melepaskan dia untuk kamu. Aku jauh lebih pantas untuk Davina ketimbang kamu" Ucap Samuel sambil tersenyum sinis, pegangan tangannya semakin erat membuat Davina meringis menahan sakit.
"Lepaskan Sam, kamu menyakiti calon istriku. Aku tidak akan segan melaporkan kamu pada polisi, kamu bisa bayangkan bagaimana respon ayahmu mengetahui putra yang ia banggakan berupaya menculik seorang gadis, apalagi kalau berita ini sampai terdengar oleh relasi bisnis ayahmu" Ucap Zio dengan geram.
Samuel mengepalkan tangannya, rahang pria itu tampak mengetat menahan amarahnya. Dengan berat hati ia melepaskan tangan Davina. Jika harga dirinya yang dipertaruhkan, Samuel tak akan peduli. Namun jika sudah melibatkan nama baik ayahnya nyali Samuel seketika menciut.
"Suatu saat aku akan mendapatkannya kembali" ancam Samuel sebelum pria itu berlalu dari sana.
"Kamu nggak apa-apa?" Zio meraih tangan Davina, pergelangan gadis itu tampak memerah karena Samuel menggenggamnya terlalu kuat.
"Davina nggak apa-apa. Tapi Davina takut" menghambur ke dalam pelukan Zio tak peduli meski mereka sedang berada di tempat umum.
"Nggak usah takut sayang, ada mas Zio di sini" Zio mengusap punggung Davina dengan lembut. Ia begitu terkejut saat asisten nya memberitahukan tentang Davina yang sedang diikuti oleh Samuel. Ia terpaksa menghentikan meeting untuk segera menemui Davina. Untung saja mall tempat Davina tak begitu jauh dari kantor hingga ia bisa segera tiba dan menyelamatkan Davina dari Samuel.
🍁🍁🍁
Sorry di sini ujan deras, jalan di tutup dan penghulunya nggak bisa datang...
Jadi pernikahannya terpaksa ditunda guys, mudah-mudahan besok cuaca cerah.
❤️