
"Apa katamu..?" Tanya Aditya sekali lagi.
"Maaf..pasien kritis dan membutuhkan banyak darah.." Perawat menyela pembicaraan mereka.
Aditya dan laki laki itu segera menghampiri perawat.
"Saya ayah kandungnya.." Ucap mereka hampir bersamaan.
Perawat kebingungan.
"Sebaiknya kalian berdua ikut saya.."
Mereka mengikuti perawat memasuki sebuah ruangan.
Fatimah terdiam mendengar perkataan lelaki tadi yang mengaku sebagai ayah kandung Zahra.
Rupanya perawat mengambil darah dari Aditya dan lelaki itu, selama pengambilan darah, pikiran Aditya dipenuhi dengan pertanyaan siapa lelaki itu, mengapa dia mengaku sebagai ayah dari anaknya, Zahra.
Pengambilan darah selesai, keduanya keluar ruangan bersamaan. Sedangkan perawat dengan segera membawa darah mereka ke dalam ruangan operasi.
"Siapa kamu..?" Tanya Aditya ketika mereka sampai di depan ruang operasi.
Laki laki itu terdiam.
"Panjang ceritanya.." Jawab lelaki itu pelan menatap Aditya.
"Ceritakan.."
"Aku adalah orang yang mengorbitkan Sherly menjadi artis dulu.."
"Aku dan Sherly mempunyai hubungan gelap. padahal aku sudah menikah dan mempunyai anak..."
Aditya terhenyak kaget.
"Lanjutkan.." Jawab Aditya marah. Fatimah menghampiri Aditya yang terlihat emosi.
"Kami masih menjalin hubungan bahkan ketika Sherly sudah menikah denganmu.."
Aditya memejamkan matanya menahan amarah, dia mengepalkan tangannya, tapi tiba-tiba Fatimah memegang telapak tangannya dan meredam emosi suaminya.
"Beberapa waktu yang lalu, Sherly mendatangiku setelah sekian lama kami tidak pernah bertemu, dia memberiku ini.." Lelaki itu memberikannya sebuah kertas.
Aditya membuka kertas itu dan membacanya secara seksama, rupanya itu adalah kertas hasil tes DNA yang menunjukan bahwa Zahra adalah anak kandung dari lelaki itu, yang kini Aditya tahu namanya adalah Doni.
Aditya terhenyak kaget, dia tidak percaya dengan apa yang dibacanya, dia menghampiri Doni dan menarik kerah bajunya.
"Zahra adalah anakku..anak kandungku.." Teriak Aditya dengan marah, yang langsung dipisahkan oleh Dewi dan teman temannya.
Fatimah menangis melihat Aditya yang begitu marah, dia memeluk suaminya.
"Sabar sayang..sabar.." Ucap Fatimah menangis di pelukan Aditya.
Doni diam tak membalas perlakuan Aditya.
"Sherly mengancam akan membuka rahasia ini ke publik, dia akan membeberkan perselingkuhan kami.. kalau saya tidak menuruti semua kehendaknya"
"Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi, saya sedang berada di puncak karier saya sebagai sutradara dan saya tidak mau keluarga saya hancur mengetahui saya mempunyai anak hasil perselingkuhan..."
"Karena itu saya melakukan semua perintahnya, saya dalang dibalik foto foto itu, berita rumah tangga kalian dan rem itu juga.."
Aditya marah, kali ini dia memukul wajah Doni.
"Saya tahu saya salah..maafkan saya.." Doni meminta maaf sembari mengusap darah di ujung mulutnya akibat pukulan Aditya.
"Kamu juga menembak Zahra..?" Tanya Aditya emosi.
Doni menggelengkan kepalanya.
"Kalau itu saya tidak melakukannya, saya dengar Sherly menyuruh orang untuk menembak istri anda dan Zahra, karena itu saya mengirimi Anda pesan itu.."
"Aku tidak percaya.."
"Dewi cepat telepon polisi.." Suruh Aditya kepada Dewi yang langsung menuruti perintah tuannya.
"Saya memang pantas masuk penjara..setelah semua yang telah saya lakukan kepada kalian.."
Aditya kembali marah, dia kembali menarik kerah baju Doni.
"Sudah kubilang Zahra adalah anakku..dia anak kandungku.. jangan kamu panggil dia anak kandungmu..jangan pernah.." Aditya mendorong Doni.
Fatimah kembali memeluk Aditya.
"Sayang..kumohon tenanglah.." Ucap Fatimah sembari menangis.
Tak lama dokter keluar dari ruang operasi.
Mereka semua menghampirinya.
"Bagaimana keadaan anak saya dok..?" Tanya Fatimah cemas.
"Operasinya lancar dan keadaannya kini sudah stabil, dia akan baik baik saja dan akan segera dipindahkan keruang perawatan.."
"Alhamdulillah.." Fatimah memeluk Aditya.
"Maaf dok..darah mana yang cocok tadi untuk pasien.." Tanya Doni.
Dokter terdiam sejenak.
"Keduanya cocok, saya menggunakan keduanya.."
"Jadi dok..siapa ayah kandung dari pasien yang sebenarnya..?" Tanya Doni lagi.
Dokter semakin tidak mengerti dengan pertanyaannya.
"Begini, untuk memastikan siapa ayah kandung dari seseorang, untuk lebih akurat silahkan dilakukan cek DNA.."
"Kalau masalah mendonorkan darah, asalkan mempunyai golongan darah yang sama dan cocok, siapa saja bisa mendonorkan darahnya, tak harus ayah kandung atau saudara kandung.."
Aditya duduk di kursi dengan lemas. Fatimah mengikutinya, Aditya mengambil tangan istrinya, menciuminya dan menyimpannya lama di hidungnya dengan memejamkan matanya, berharap memberinya kekuatan.
Fatimah menarik wajah Aditya agar melihat wajahnya.
"Zahra anak kita sayang..apapun yang terjadi, dia tetap anak kita.." Ucap Fatimah pelan.
Aditya mengangguk. Kembali mencium tangan istrinya.
"Kita cek DNA lagi.." Ucap Aditya tiba tiba melihat Doni
Doni langsung mengangguk menyetujuinya.
"Apa yang akan kamu lakukan kalau dia ternyata anakku.." Tanya Doni
Aditya menatap Doni tajam.
"Apapun hasilnya tak akan mengubah apapun dia akan tetap bersama saya.."
-----------
"Kenapa kamu menembak anak itu..?" Tanya Sherly marah.
"Saya bilang, tembak wanita hamil itu bukan anaknya.."
Orang itu terdiam sejenak.
"Tapi wanita hamil itu tidak ada bersamanya, jadi kami pikir anda juga ingin menyakiti anak itu.."
Sherly menghela napas.
"Ya sudah pergi sana.."
"Ini bayaran kalian.." Sherly melemparkan segepok uang kepada mereka.
"Terima kasih bos.."
Sherly sangat cemas memikirkan nasib Zahra, dia hanya ingin menyakiti Fatimah, bukan anaknya Zahra.
Rasa keibuannya kini muncul.
Dia sangat mengkhawatirkan Zahra.