My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Extra Part : Zahra..



Daniar terlihat ketakutan setelah mengunci pintu kamar Chintya, dia bingung apa yang harus dilakukannya kini, dia telah mengurung anak orang lain dirumahnya, namun jika dia melepaskan anak itu, dia takut anak itu benar benar akan melaporkannya ke polisi.


Daniar terlihat bolak balik di depan kamar Chintya dengan sangat resah, memikirkan langkah apa yang harus dilakukannya kini, tidak mungkin dia terus mengurung Zahra bersama Chintya disana, karena sebentar lagi pasti kedua orang tuanya mencari keberadaan anak mereka.


Daniar kemudian duduk di kursi untuk menenangkan diri. Mencari jalan keluar agar dia bisa membiarkan Zahra untuk pergi tanpa takut dirinya akan dilaporkan ke polisi.


Namun dia tak menemukan cara apapun, dia semakin merasa takut dan cemas.


Kalau seandainya anak itu melaporkan dirinya ke kantor polisi, dirinya tak bisa mengelak lagi, apalagi dia ingat luka lebam di tubuh Chintya akibat pukulan dan siksaannya masih terlihat sangat jelas, karena itulah dia tidak mengizinkan anak tirinya itu untuk ke sekolah karena khawatir orang lain akan melihatnya.


Di Sekolah.


Sementara itu, terjadi kehebohan di sekolah karena menghilangkannya Zahra, seisi sekolah dibuat pusing dan mencarinya ke setiap sudut sekolah.


Semuanya terjawab ketika security mengecek rekaman CCTV, mereka melihat Zahra yang berlari keluar gerbang disaat jam istirahat.


Mau tidak mau, sekolah segera melaporkan hal ini kepada kedua orangtuanya.


Mendapat kabar mengenai menghilangkannya Zahra tentu saja membuat Fatimah kaget dan cemas, dia segera menelepon Aditya suaminya.


"Kali ini apa lagi yang dilakukan oleh anakmu..?" Jawab Aditya sembari meninggalkan rapat yang sedang dipimpinnya.


"Aku akan mencarinya, kamu tenang saja.."


Dia bergegas pergi dan meninggalkan kantor.


Selama dalam perjalanan, Aditya mengecek ponselnya, dia ingat telah memasang GPS pada jam tangan milik Zahra dan bisa di cek langsung melalui ponselnya.


Tak lama, Aditya mendapatkan lokasi terbaru Zahra, dia melihat Zahra berada tak jauh dari sekolahnya.


Dia segera berangkat ke titik lokasi Zahra berada.


Dia menghentikan mobilnya tepat di sebuah rumah, mengecek kembali ponselnya dan memastikan posisi Zahra yang terdeteksi berada di sekitar itu.


Aditya melihat sekeliling, dia berjalan menjauhi rumah itu sambil terus melihat ponselnya, dan terlihat sinyal yang terdeteksi ikut menjauh, ketika dia mendekati rumah itu lagi, sinyal terlihat semakin kuat.


Hal itu semakin meyakinkan dirinya, bahwa Zahra berada di dalam rumah itu, walaupun ada sedikit keraguan dalam hatinya, apa yang sebenarnya putrinya lakukan disana.


Aditya memberanikan diri memasuki pagar yang tidak dikunci, dia kemudian mengetuk pintu dan mengucapkan salam beberapa kali.


Namun tak ada jawaban sama sekali, bahkan Aditya mengetuk pintu dengan sedikit keras berkali kali dan mengucapkan salam dengan sangat kencang.


Cukup lama, tetap tidak ada jawaban, sampai akhirnya Fatimah meneleponnya.


"Aku akan kesana sekarang.." Ucap Aditya sambil meninggalkan rumah itu dan langsung menaiki mobilnya.


Daniar terlihat menghela napas panjang setelah melihat kepergian Aditya dari rumahnya, dia yang dari tadi sengaja tidak membuka pintu karena merasa ketakutan setengah mati.


"Apa itu ayahnya Zahra..?"


"Kalau iya, kenapa dia bisa tahu jika Zahra berada disini..?"


Daniar merasa heran, rasanya cepat sekali ayahnya menemukan Zahra disini, padahal ini belum satu jam semenjak Zahra dia kurung di dalam kamar.


Di dalam kamar.


"Aku tahu, dari suaranya itu tadi papah aku.." Ucap Zahra kepada Chintya.


"Tapi ibu aku sepertinya tidak membukakan pintu.."


Zahra mengangguk.


"Kamu tenang saja, sebentar lagi, papa aku akan segera kembali lagi kesini.."


Tiba tiba pintu terbuka, mereka melihat Daniar masuk dan memerhatikan Zahra dengan cermat.


Sampai Daniar melihat jam tangan milik Zahra.


Dia segera mendekati Zahra dan berusaha melepaskan jam itu dari tangan Zahra.


"Tante jangan.." Teriak Zahra dengan kencang.


"Diam..berisik.." Jawab Daniar sambil terus mencoba melepaskan jam itu dari tangan Zahra.


Akhirnya jam itu berhasil diambilnya, Daniar langsung keluar dan kembali mengunci pintu kamar dari luar.


Chintya melihat tangan Zahra sedikit terluka, dia melihat tangan temannya itu memerah bahkan ada beberapa luka cakaran disana.


"Kamu tidak apa apa..?"


Zahra menggelengkan kepalanya, dia sebenarnya merasa sedikit kesakitan, namun tidak ingin membuat Chintya khawatir, Zahra berpikir luka yang dialaminya tidak seberapa dibanding dengan luka yang dia lihat di sekujur tubuh sahabatnya itu.


Di Sekolah.


Aditya memarkirkan mobilnya di depan sekolah Zahra, dia berjalan memasuki sekolah dengan tergesa-gesa.


Sesampainya diruang guru, dia melihat Fatimah yang menangis karena mengkhawatirkan Zahra.


Melihat kedatangan suaminya, Fatimah menghampirinya.


"Bagaimana..?" Tanya Fatimah cemas.


Guru guru juga terlihat khawatir, mereka telah melakukan segala upaya untuk menemukan Zahra.


Aditya menjelaskan kalau sebenarnya dia telah memasang GPS di jam tangan yang dipakai Zahra, juga sudah mendapatkan sinyal dimana Zahra sekarang berada.


Yakni di sebuah rumah yang tidak jauh dari sekolah.


"Loh..itukan rumahnya Chintya..?" Kata salah seorang dari guru setelah Aditya memberitahu titik lokasi alamat dari sinyal yang didapat.


Semuanya merasa kaget.


"Dan hari ini Chintya tidak sekolah karena sakit.." Ucap guru itu lagi.


Semuanya saling berpandangan.


"Tapi saya tadi kesana, dan tidak ada siapapun dirumahnya.."


"Kita kesana lagi..sinyal GPS itu tidak mungkin bohong.." Ucap Fatimah bersemangat.


Semua guru menyetujuinya.


Akhirnya mereka semua pergi bersama kerumah Chintya untuk memastikan keberadaan Zahra disana.


Tak butuh waktu lama, rombongan Aditya dan istrinya beserta guru guru sekolah sampai di depan rumah Chintya, Aditya kembali mengecek sinyal GPS dan melihat sinyal itu masih didalam rumah ini, namun tiba-tiba sinyal hilang. Membuat Aditya keheranan.


Guru yang lain pun merasa heran, mereka semakin meyakini bahwa ada sesuatu yang terjadi.


Di Dalam Rumah.


Daniar memukul berkali kali jam tangan milik Zahra dengan palu di belakang rumahnya, dia tahu pasti karena jam itu mereka bisa mengetahui keberadaan Zahra secepat itu.


Tiba-tiba terdengar suara pintu rumah yang diketuk beberapa kali, terdengar juga suara orang yang mengucapkan salam.


Daniar berdiri ketakutan, dia segera berlari keluar dan mengintip siapa yang datang.


Alangkah terkejutnya ketika dia melihat banyak orang di luar rumahnya.


Dia kebingungan sampai dia dikejutkan oleh suara Zahra yang berteriak meminta tolong dengan suaranya yang sangat keras berkali kali.


"PAPA..AKU DISINI..TOLOOONG.." Teriak Zahra dengan keras.


Samar samar Fatimah mendengar suara Zahra yang meminta tolong.


"Itu suara Zahra.." Ucap Fatimah meminta semua orang untuk diam.


Suara itu kini terdengar semakin jelas.


Mendengar suara anaknya yang meminta tolong, membuat Aditya khawatir.


Tanpa pikir panjang Aditya langsung mendobrak pintu di depannya.


Dibantu oleh para guru pria.


Dengan sekali tendangan keras lagi dari mereka, pintu akhirnya terbuka, mereka langsung melihat Daniar yang ketakutan.


"Apa yang kalian lakukan..?" Tanya Daniar dengan suara bergetar karena takut.


Suara Zahra semakin terdengar jelas, Fatimah berlari menghampiri asal suara dan membuka kunci pintu kamar itu.


Zahra berlari melihat ibunya yang membuka pintu.


Sedangkan Daniar langsung bersujud meminta ampun.


"Mama..Tante itu ibu tiri jahat dia memukuli Chintya terus.." Ucap Zahra dalam pelukan ibunya.


Fatimah kaget, dia langsung menghampiri Chintya yang terdiam sambil menangis, diikuti oleh para guru yang merasa penasaran.


"Ya Allah.. astaghfirullah.." Pekik salah seorang guru yang melihat kondisi Chintya.


Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat banyaknya luka di sekujur tubuh Chintya, salah seorang bapak guru terlihat langsung menelepon polisi, dan ibu guru lainnya menggendong Chintya dan dibawanya keluar.


Zahra dipeluk oleh Aditya.


"Kamu tidak apa-apa sayang..?" Tanya Aditya memerhatikan Zahra dengan seksama.


"Apa dia memukulmu juga..?" Tanya Aditya cemas.


Zahra menggelengkan kepalanya.


"Tapi dia mengambil jam tangan aku pa.."


"Tidak apa-apa..nanti kita beli lagi.." Aditya memeluk kembali putrinya.


Daniar terlihat ketakutan, berkali kali dia terlihat meminta ampun kepada semuanya.


"Saya khilaf..ampuni saya, jangan dilaporkan ke kantor polisi.." Teriak Daniar berkali-kali.


Fatimah menghampiri Daniar.


"Kamu benar-benar tidak mempunyai hari nurani tega sekali kamu menyiksa anak sekecil itu..." Ucap Fatimah menangis.


"Maafkan saya..saya khilaf.." Daniar terlihat memohon.


"Kamu juga sudah berani mengurung anakku dan melukai tangannya, kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal.." Lanjut Fatimah dengan marah mengingat luka di tangan putrinya.


Semua guru juga turut mengutuk kelakuan Daniar kepada Chintya, tidak ada satupun dari mereka yang terenyuh dengan air matanya yang memohon ampun berkali kali.


Tak lama polisi datang, mereka langsung membawa Daniar ke kantor polisi, sementara Chintya dibawa oleh para guru ke rumah sakit terdekat untuk segera diobati.


Aditya menyuruh Fatimah untuk membawa Zahra pulang, dia dan guru lainnya yang akan memberi keterangan di kantor polisi.


Sementara itu, ayah Chintya segera dihubungi oleh polisi, dia yang bekerja di luar kota diminta untuk segera kembali untuk melihat keadaan putrinya Chintya yang kini berada di rumah sakit dikarenakan siksaan yang dilakukan oleh ibu tirinya.


Fatimah memeluk Zahra di dalam mobil yang dibawa oleh mang Redo, Zahra menceritakan kepada ibunya kenapa akhirnya dia sampai berada dirumah Chintya.


"Mama.." Zahra melihat Fatimah sendu.


"Apa semua ibu tiri itu jahat..?"


Deg.. jantung Fatimah berdebar kencang.


"Aku tidak mau punya ibu tiri.." Ucap Zahra dengan sedikit ketakutan.