
"Kakak harap kamu mengerti keadaan mama dan papa.."
"Jangan menyalahkan mereka seperti itu.."
"Terutama mama, beliau sudah menyayangi kita selayaknya ibu kandung kita sendiri.." Kevin berusaha menenangkan Clara yang masih terguncang.
"Tapi..apa kakak tidak kasihan dengan nasib anak kandung mama yang sudah ditelantarkannya?"
"Clara..kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mungkin ada sesuatu sehingga mama harus meninggalkan anaknya dan memilih papa.."
"Tapi..apapun alasannya, menurutku itu sangat kejam, mana ada seorang ibu yang tega meninggalkan kandungnya sendiri.." Clara terus menangis dengan terisak.
Kevin menghela napas.
"Iya..kamu benar tapi kita tidak berhak menghakiminya, apapun kesalahannya, bagi kakak mama adalah segalanya buat kakak, beliau yang sudah membesarkan dan merawat kita dengan kasih sayang yang tulus..kakak sangat menyayanginya.."
"Kakak harap..kamu juga demikian, jangan lupakan kasih sayangnya kepadamu selama ini.."
"Terlebih saat ini, mama sangat membutuhkan kita..kakak mohon maafkanlah dia.."
Clara terdiam, apa yang dikatakan oleh Kevin benar, mamahnya saat ini membutuhkan dukungannya.
"Minta maaflah kepada mama..kakak takut keadaannya akan memburuk setelah kejadian tadi.."
Clara mengangguk.
Tak lama Kevin mendapat telepon dari ayahnya yang mengabarkan keadaan Annisa memburuk.
Dengan segera dia dan Clara adiknya pergi kerumah sakit.
Kevin dan Clara berlari hingga sampai di sebuah ruangan ICU, dimana ayahnya dan beberapa orang sedang menunggu.
"Apa yang terjadi pah..?" Tanya Kevin dengan khawatir.
"Kondisinya menurun drastis, hingga tak sadarkan diri, dokter membawanya ke ICU dan sekarang sedang memeriksanya.."
Clara menutup wajahnya, dia menangis, Kevin dan Handoko mencoba menenangkannya.
"Ini semua salahku.." Ucap Clara dalam tangisnya.
"Kondisinya memang sudah sangat buruk, mama kamu memang harus segera mendapatkan transplantasi ginjal.." Handoko memeluk putrinya.
Kevin terdiam.
"Aku tak akan biarkan mama pergi meninggalkan kita.."
"Aku akan menemui Aditya.." Ucap Kevin seakan meminta izin kepada Handoko, ayahnya.
"Tidak nak..mamamu melarangnya, dia tidak mau mendapatkan donor ginjal dari Fatimah, anaknya.."
"Jadi maksud papa, kita akan membiarkan mama meninggal..?"
Handoko terdiam.
Clara semakin terisak.
"Paling tidak, mama harus bertemu dengan anak kandungnya.." Ucap Clara.
"Mama harus meminta maaf kepadanya.."
"Kalaupun mamah harus pergi, dia akan pergi dengan tenang.." Clara semakin mengangis terisak isak.
Semuanya terdiam.
"Tapi Aditya tidak menginginkannya.." Ucap Handoko.
"Aku akan menemuinya.." Jawab Kevin sembari berlari meninggalkan ayah dan adiknya.
-----------
Aditya sedang memimpin rapat, hingga sekretarisnya menghampiri dan berbisik.
"Rapat kita lanjutkan lagi nanti, saya ada keperluan mendadak.." Ucap Aditya sambil berdiri meninggalkan ruangan itu dengan terburu-buru.
Aditya memasuki ruangannya, dia melihat seseorang sudah menunggunya disana.
"Ibuku.. keadaannya kritis.." Ucap Kevin ketika Aditya berjalan menghampirinya.
Tentu saja Aditya mengenali pria itu, dia adalah putra dari pak Handoko, salah satu rekan bisnisnya juga.
"Apa yang bisa aku lakukan.." Tanya Aditya.
"Biarkan dia bertemu dengan Fatimah, anak kandungnya untuk meminta maaf.."
Aditya terdiam.
"Kamu tahu, ini akan membuat istriku sangat sedih dan terguncang.."
"Aku tahu..tapi kita harus mempertemukan ibu dan anak itu, walaupun untuk yang terakhir kali.."
Aditya terdiam, apa yang dikatakan Kevin benar, Fatimah memang berhak mengetahui yang sebenarnya.
"Kalau istriku mengetahuinya, dia pasti akan akan mendonorkan ginjalnya.."
"Aku tidak mau itu terjadi, kesehatannya masih lemah pasca operasi, dan aku tidak mau dia hidup dengan satu ginjal.."
Kevin mengerti kekhawatiran Aditya, terlihat Aditya memang sangat mencintai istrinya.
"Aku mengerti..semua saya serahkan kepadamu, saya hanya ingin memberitahumu itu saja..agar nanti kita tidak menyesal, sebelum semuanya terlambat.."
"Saya permisi.."
Kevin meninggalkan Aditya yang masih termenung kebingungan.
"Ya Allah..apa yang harus aku lakukan sekarang..?"
----------
"Jadi menurut lu, apa yang harus gue lakukan sekarang..?"
Romi terlihat diam, dia kaget mendengar cerita Aditya tentang Annisa yang merupakan ibu kandung dari Fatimah.
"Jadi secara tidak langsung lu itu menantu dari Pak Handoko..?"
Aditya mengangguk.
"Secara tidak langsung itu benar.."
"Wah..kalau kekayaan lu dan Pak Handoko disatukan, maka kalian berdua akan menjadi orang terkaya di negeri ini.." Romi takjub sambil menggelengkan kepalanya.
Aditya melempar pulpen yang berada di mejanya kepada Romi.
"Gw serius.."
"Ok..baik.."
"Menurut gw, lu memang harus memberitahu Fatimah.." Ucap Romi serius.
"Kenapa..?"
"Karena biar bagaimanapun Ibu Annisa adalah ibu kandungnya.."
"Fatimah harus bertemu dengannya walau untuk yang terakhir kalinya.."
"Dan memastikan Fatimah mendapatkan warisan dari Ibu Annisa.."
Aditya kembali melemparkan pulpen kepada Romi.
-----------
"Sayang...Aku ingin memberitahu kamu sesuatu.."
Fatimah melihat suaminya dengan serius.
"Apa..? Sepertinya penting.."
"Iya ini penting sekali sayang.."
"Baiklah.." Fatimah membenarkan posisi duduknya, melihat Aditya dengan serius.
Mereka duduk berhadap-hadapan di atas tempat tidur.
"Ini tentang ibu kamu.."
"Ibu..?"
"Ibu kandung kamu masih hidup.."
"Aku tidak mengerti.."
"Ibu kandung kamu masih hidup dan sekarang ada dirumah sakit, keadaannya kritis.."
Fatimah mendengarkan dengan serius ketika suaminya menjelaskan semuanya dengan detail.
Tentu saja Fatimah menangis, terlihat bulir bulir air mata mengalir di pipinya.
"Sayang.." Aditya mengerti perasaan Fatimah, dia mendekatkan tubuhnya dan memeluk istrinya.
Fatimah tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa menangis di pelukan suaminya.
Cukup lama Fatimah menangis, Aditya membiarkannya, dia membiarkan istrinya mengeluarkan semua kesedihan hatinya.
Sampai akhirnya.
"Antar aku kesana.."