My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Obat itu lagi...



Beberapa kali Romi memejamkan matanya, akan tetapi senyuman Ayu terus terbayang jelas.


Romi terbangun dengan kesalnya dan turun dari tempat tidurnya menuju ke arah sofa dan menyalakan televisi, rupanya itupun tidak dapat mengalihkan pikirannya dari Ayu.


"Kenapa wajahnya selalu terbayang.."


"Apa keistimewaan gadis itu sehingga aku terus memikirkannya.."


"Sial..Padahal dia gadis biasa, berhijab malah sama sekali bukan tipeku.."


Romi terus saja menggerutu kesal kepada dirinya sendiri, sudah puluhan wanita cantik dan seksi yang dia kencani dan dia tiduri, akan tetapi tidak ada satupun dari mereka yang dapat membuat Romi jatuh hati. Mereka ibarat barang yang kalau Romi sudah puas akan dicampakkan begitu saja dan mencari wanita lain.


Akan tetapi lain ketika Romi melihat Ayu, perasaan seketika teduh melihat senyumannya dan parasnya yang cantik alami.


Romi hanya berharap besok dia segera melupakan Ayu, karena Ayu benar benar bukan tipe Romi. Romi berharap kalau dia tidak benar-benar jatuh cinta kepada Ayu.


Di kediaman Aditya.


Fatimah memerhatikan gaun yang dia kenakan di depan kaca, tak henti-hentinya Ayu, nenek dan Zahra memuji kecantikan Fatimah, akan tetapi Fatimah malah terlihat murung, karena ini kali pertama buatnya menghadiri acara penting di perusahaan suaminya. Fatimah merasa tidak percaya diri mendampingi suaminya. Akan tetapi nenek dan Aditya terus memaksa, karena itu adalah resiko menjadi istri seorang presdir.


Aditya akan menjemputnya pukul 18.30 karena dia harus menghadiri rapat terlebih dahulu.


Dan akhirnya Aditya pun datang, kali ini giliran Aditya yang dibuat terkesima dengan kecantikan sang istri yang memakai gaun, ingin rasanya Aditya menciumi istrinya tapi dia harus bergegas berganti baju dan segera datang ke acara yang dilaksanakan di salah satu hotel miliknya.


Mereka pun sampai di tempat acara berlangsung dan disambut beberapa orang, semua perhatian tertuju kepada Fatimah yang terlihat sangat anggun karena ini kali pertama dia menghadiri acara perusahaan. Semua memuji kecantikan dan keramahannya kepada semua orang.


Namun ada sepasang mata yang memerhatikan dengan penuh kebencian, tidak lain adalah Sherly.


Sherly terus saja melihat kearah Fatimah, dia menunggu Aditya meninggalkan Fatimah dan terlihat Fatimah sedang sendiri duduk diatas kursi, segera Sherly menghampirinya.


"Gak nyangka ya gadis kampung seperti kamu bisa ada disini.." Kata Sherly seketika mengagetkan Fatimah.


"Ini acara besar, banyak konglomerat dan sosialita dan banyak artis di acara ini, saya rasa kamu tidak pantas berada disini.." Ucap Sherly


Fatimah tersenyum.


"Dan kamu sendiri? Saya rasa kamu bukan salah satu satu dari 3 itu, kamu hanya seorang mantan artis.." Jawab Fatimah sambil tersenyum.


Tentu saja Sherly marah mendengar jawaban Fatimah, dia merasa sangat dilecehkan olehnya.


Akan tetapi dia berusaha mengendalikan diri.


"Kamu akan tahu akibatnya berurusan dengan saya Fatimah.." Ancam Sherly.


Fatimah mengangguk.


"Saya tunggu.." Jawab Fatimah enteng.


" Saya tidak segan akan melukai kamu dan Aditya bahkan Zahra.."


Fatimah menatap tajam Sherly.


"Sudah saya duga kamu tidak pernah menyayangi Zahra, walaupun dia lahir dari rahimmu sendiri, tapi tak apa, kasih sayang bukan hanya tentang hubungan darah, saya yang akan melindungi Zahra darimu. Saya ibunya dan Jangan pernah sakiti anakku.."


Sherly tertawa.


"Aku memang tak pernah menyayangi Zahra, apalagi melihat dia lebih menyayangi kamu, aku semakin membencinya dan membuatku menyesal telah melahirkannya.."


Fatimah menggeleng sambil tertawa.


Tiba tiba ada seorang pelayan menghampiri mereka memberikan minuman kepada Fatimah.


Fatimah segera menghabiskan minuman dalam gelasnya, melihat itu membuat Sherly tertawa.


"Langkah awal adalah mempermalukan kamu dan Aditya.." Ucap Sherly di tengah tertawanya.


Fatimah bingung apa maksud Sherly, akan tetapi seketika kepalanya pusing dan badannya terasa panas.


"Kemarin aku gagal menjebak Aditya dengan obat perangsang, dan sekarang aku memberikannya kepadamu.." Bisik Sherly.


"Kamu akan menggeliat kepanasan dan birahimu memuncak, kamu tidak akan sadarkan diri dan terus saja menggeliatkan badanmu sepanjang acara yang baru akan dimulai...selamat bersenang-senang.." Ucap Sherly sambil meninggalkan Fatimah


Sherly berpikir rencananya kali ini akan berhasil, dia akan membuat Aditya malu dihadapan banyak orang karena kelakuan istrinya yang sedang terangsang karena efek obat kuat yang diberinya melebihi dosis.


Apa yang dikatakan Sherly benar, seketika badan Fatimah langsung kepanasan, akan tetapi Fatimah hanya menunduk dan terus menyebut nama Allah.


Dia hanya meminta pertolongan Allah agar diberikan kekuatan dari reaksi obat ini sehingga rencana Sherly yang ingin mempermalukan dirinya dan Aditya gagal.


Walaupun badannya kepanasan dan libidonya meningkat akan tetapi Fatimah tetap bisa mengontrol diriny, Sherly yang memerhatikan dari jauh merasa heran kenapa Fatimah sama sekali tidak bereaksi.


Fatimah hanya berharap acara ini bisa cepat selesai, sesekali dia melihat Aditya yang berada di atas panggung, berharap Aditya segera menghampirinya.


Sherly semakin penasaran, diapun bertanya kepada pelayan yang tadi memberi Fatimah minuman yang telah bersekongkol dengannya, menanyakan apa dia yakin telah memberikan obat perangsang itu, dan pelayan pun berani bersumpah telah memberikannya.


Akan tetapi semuanya jauh dari ekspektasi yang diharapkan oleh Sherly.


Hampir setengah jam berlalu.. Aditya menghampiri Fatimah dan duduk di samping kursi istrinya, Aditya memerhatikan Fatimah yang seperti kepanasan karena banyak berkeringat.


"Kenapa sayang.." Tanya Aditya.


Fatimah menggeleng sambil menutup matanya dan memegang tangan Aditya


"Sebaiknya kita pulang.." Ucap Fatimah berbisik.


Aditya semakin khawatir.


"Kamu sakit.." Tanya Aditya.


"Kumohon bawa aku pergi dari sini, Sherly memberiku obat perangsang.." Jawab Fatimah.


Aditya kaget dia melihat sekeliling dan ternyata memang ada Sherly yang memerhatikan mereka dari jauh.


Aditya segera membawa Fatimah keluar ruangan, dia akan membawa Fatimah ke salah satu kamar di hotel itu.


Fatimah berusaha untuk tetap berjalan normal dan masih bisa menjawab sapaan orang orang yang berpapasan dengannya dan Aditya.


Akhirnya mereka sampai di salah satu kamar, Fatimah meminta Aditya membantunya membuka gaun yang dikenakannya, kemudian Fatimah mandi dibawah guyuran air shower yang dingin.


Aditya memperhatikan istrinya yang tengah mandi karena kepanasan, rasa marah kepada Sherly kini tidak tertahankan lagi, ingin rasanya dia kembali ke bawah dan menghajar Sherly, tapi dia tidak bisa meninggalkan Fatimah.


Fatimah terus saja berdiri di bawah guyuran air shower, dia tidak lagi kepanasan, akan tetapi libidonya yang meningkat semakin menjadi, dia mencari Aditya, hanya dia yang kini bisa menyembuhkan dirinya, pikir Fatimah.


Fatimah melihat Aditya sedang berteleponan, dia segera menghampiri suaminya dan memeluknya dari belakang.


Aditya mengerti kemauan istrinya, kini giliran dirinya mengobati istrinya karena reaksi obat perangsang itu.


Sedangkan Sherly yang membuntuti mereka merasa kesal karena rencananya tidak berhasil malah membuat Aditya dan Fatimah bermesraan di dalam kamar hotel.