
Wanita itu terus memeluk Angga dengan erat dan masih menangis.
Angga melihat Clara yang terlihat jelas tidak suka.
"Saya permisi.." Tiba tiba Clara berpamitan seraya berjalan dengan cepat.
Angga seperti akan menahannya, mulutnya sudah terbuka tetapi diurungkan karena dia ragu untuk memanggil Clara.
Clara keluar dari ruangan Angga dengan wajah kesal, dia langsung duduk di kursi.
"Siapa wanita itu, dan apa hubungannya dengan Angga..?
Clara semakin terlihat kesal, dia menghentak hentakan kakinya ke lantai ketika dia ingat wanita tadi memeluk Angga dengan erat, akan tetapi dia menyadari sesuatu.
"Kenapa aku jadi kesal.."
"Memangnya dia siapanya aku..?"
"Wajar kalau dia sudah mempunyai pacar, dia lelaki yang lumayan tampan juga baik.." Clara terlihat menghembuskan nafasnya.
Akan tetapi, entah mengapa hatinya terasa sakit mengingat kalau wanita itu memanglah pacar Angga.
Cukup lama dia duduk di kursi itu, dia berpikir akan kembali saja kerumah, karena Angga sudah ada yang merawat.
Clara memutuskan akan berpamitan kepada Angga, dia mengetuk pintu dan memasuki ruangannya.
Wanita tadi terlihat sudah tidak menangis dan duduk di sampingnya, perlahan Clara menghampiri mereka berdua.
Wanita itu terlihat berdiri melihat kedatangan Clara.
Wanita itu mengangguk dan tersenyum.
Clara juga membalasnya, dia kemudian melihat Angga.
"Aku akan pulang, karena sudah ada yang menjaga kamu, maka aku permisi.."
Angga terlihat kaget mendengar perkataan Clara.
"Baiklah..oh iya perkenalkan dia adikku..namanya Azizah.."
Clara kaget mendengar perkataan Angga, rupanya dia telah salah paham, di sudah mengira bahwa gadis di depannya adalah pacar Angga.
Azizah terlihat mengangkat tangannya akan menyalami Clara, dan Clara segera menyambutnya.
"Terima kasih sudah merawatku..hati hati di jalan.." Ucap Angga kepada Clara.
Clara terlihat ragu untuk menjawabnya, dia merasa menyesal telah berpamitan kepada Angga.
"Kak..haruskah hari ini aku bolos kuliah, aku tidak mungkin meninggalkan Kakak sendirian disini.."
"Kamu pergi saja, biar aku yang menjaga kakakmu.." Ucap Clara riba tiba.
"Bukankah tadi kamu mau pulang..?"
"Tidak usah mengkhawatirkan aku, kalian berdua pulang saja, aku sudah lebih baik sekarang.."
"Tidak..aku tidak jadi pulang, biar aku tetap disini menjaga kamu.." Clara bersikeras.
"Baiklah..terima kasih sudah mau merawat kakakku.." Azizah kemudian berpamitan kepada kakaknya kemudian Clara dan langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Clara kemudian duduk di samping Angga.
Clara masih merasa bersalah karena pikirannya tadi yang menganggap Azizah adalah pacar Angga, mengingat itu dia tersenyum sendiri.
"Kenapa..?" Tanya Angga heran melihat Clara yang tersenyum tanpa sebab.
"Tidak ada.." Clara mengelak dan terlihat malu karena ketahuan.
---------------
Lisa mencoba lagi tespek yang kelima hari ini, dan hasilnya masih tetap negatif, sebenarnya dia senang karena dia belum terbukti hamil, akan tetapi yang membuat dirinya heran adalah, dia melakukannya sudah lebih dari seminggu yang lalu bersama Kevin akan tetapi dirinya sampai saat ini belum juga mendapatkan menstruasi dan ini sudah lewat dari tanggalnya.
Lisa Googling, dia kembali mencari tahu apa saja tanda tanda kehamilan, dan juga mencari tahu apa penyebab dirinya belum juga mendapatkan menstruasi.
Lisa semakin cemas, apa yang akan terjadi apabila ternyata benar dirinya kemudian hamil, apa yang akan dia katakan kepada kedua orangtuanya.
Lisa terlihat kesal karena kelakuan bodohnya yang mau melakukan hal bodoh bersama Kevin.
Tapi, kemudian dia berpikir lagi, bukankah seharusnya dia senang kalau mengandung benih dari lelaki yang sangat dicintainya, walaupun itu akan sangat melukai hati Nadya, istri Kevin, akan tetapi dengan kehamilannya mau tidak mau akan membuat Kevin harus bertanggung jawab, ditambah kedua orangtuanya sudah mengetahui hubungan mereka, bagaimanapun kalau benar dirinya hamil, dia sedang mengandung salah satu keturunan Handoko, sesuatu yang sangat diinginkan oleh semua wanita.
Lisa mulai berpikir.
"Sepertinya kalau aku benar-benar hamil, justru itu akan membuat aku dan Kevin terus bersama, dan masalah orang tuaku, mereka justru akan bangga karena aku akan menjadi bagian dari keluarga Handoko.."
Lisa tersenyum.
--------------
Annisa tengah bersiap akan kembali kerumah sakit, tiba tiba ponselnya berbunyi.
"Ya sayang.." Rupanya Fatimah meneleponnya.
"Mama.. Zahra ingin bertemu dengan mamah, hari ini kami berencana akan kerumah mamah.." Kata Fatimah di ujung telepon.
"Oh ya..Mamah juga sangat merindukan Zahra dan Zidane, tapi sayang apa Aditya tidak memberitahu kamu.."
"Mamah harus kerumah sakit hari ini.."
"Siapa yang sakit mah? Aditya tidak mengatakan apapun.." Tanya Fatimah penasaran.
Annisa kemudian menceritakan semuanya, perihal Angga yang sudah menyelamatkan Clara dari Bayu, juga Angga yang berada dirumah sakit karena dipukuli oleh orang suruhan Bayu.
"Maksud mama Angga temanku di kampung..?"
"Iya sayang, bahkan Aditya sudah mengenalnya.."
"Astaghfirullah..kenapa Aditya tidak memberitahu aku..?"
"Mungkin dia sibuk sayang, hari ini bersama Kevin dia harus bolak balik ke kantor polisi.."
"Sepertinya begitu mah..kalau begitu, aku juga ingin pergi kerumah sakit melihat keadaan Angga.."
"Baiklah..mama akan menjemputmu, kita pergi kesana bersama.."
"Baiklah mah..aku tunggu.."
Fatimah bersiap, dia hanya akan membawa Zahra, sedangkan Zidane dititipkannya kepada Bik Minah.
Sambil menunggu ibunya menjemput, Fatimah berulang kali menelepon suaminya untuk meminta izin, tapi Aditya tidak pernah mengangkatnya, dia berpikir mungkin yang dikatakan ibunya benar, bahwa suaminya sedang sibuk dengan urusannya.
Fatimah sebenarnya merasa bersalah kalau dia pergi keluar rumah tanpa izin dari suaminya, hal yang tidak pernah dia lakukan semenjak menikah dengan Aditya.
Akan tetapi kali ini berbeda, Fatimah tetap akan pergi walaupun dia belum memberitahu Aditya.
Tak lama ibunya datang, dan merekapun pergi bersama ke rumah sakit.
------------
Bayu tertawa terkekeh-kekeh mendengar laporan dari asistennya bahwa Kevin dan Aditya sudah melaporkannya ke kantor polisi.
"Apa mereka tidak mengenal siapa aku..?"
"Justru mereka yang akan saya rugi karena berani melawanku.." Bayu kembali tertawa sinis.
"Panggil tim pengacara, kita akan membantah semua tuduhan, lagi pula mereka berani sekali melaporkan aku padahal tidak mempunyai bukti yang kuat.."
"Baiklah.." Asistennya terlihat akan pergi.
"Tunggu.." Cegah Bayu.
Bayu melemparkan beberapa lembar Foto kepada asistennya.
Dengan segera, asisten Bayu melihat foto itu satu persatu.
"Kirimkan ini kepada istrinya, buat Kevin sibuk mengurus urusan rumah tangganya terlebih dahulu.." Bayu tersenyum sinis.