
"Maaf mba.. kartunya tidak bisa digunakan.." Sherly mendengus, dia mengeluarkan beberapa kartu lagi.
"Yang ini juga mba.." Kata pelayan toko lagi.
"Semuanya..?" Kata Sherly setengah marah.
"Iya mba semuanya.."
"Mesin kalian kali yang rusak..ga mungkin semua kartu kredit saya ga bisa digunakan.." Jawab Sherly kesal.
"Ya sudah..saya bayar cas saja, dimana mesin ATM disini.."
Pelayan itu menunjuk ke sebuah arah.
Sherly berjalan dengan kesal, sambil berpikir kenapa hampir semua kartu kreditnya tidak bisa digunakan, over limit tidak mungkin karena dia merasa tidak belanja banyak bulan ini.
Dia sampai di sebuah mesin ATM, mengeluarkan kartunya dengan segera.
"Apa..? ini tidak mungkin..!!!!" Pekik Sherly.
Saldo dalam kartu ATM miliknya kosong.
Dia mencoba lagi, dan hasilnya tetap sama.
Sherly mengeluarkan kartu debit lainnya, dan betapa terkejutnya dia ternyata saldo di semua kartu ATM miliknya kosong.
Sherly terlihat panik, dia segera menelepon call center salah satu bank.
"Apa..?" Tanya Sherly kaget.
Dia segera menutup teleponnya dan berjalan ke arah basemen mall, berjalan dengan terburu-buru dan lagi lagi dia terkejut.
Sekelompok orang tengah menderek paksa mobil miliknya, Sherly berteriak kenapa mobilnya diderek paksa.
"Maaf Bu..ini perintah pak Aditya.."
Sherly terkejut.
"Aditya lagi..." Ucap Sherly geram.
Dia pasrah melihat mobil kesayangannya diderek paksa dan meninggalkan basemen mall.
------
"Aditya kenapa kamu memblokir semua kartu kreditku, membekukan semua uangku di ATM dan mengambil mobil milikku..?" Tanya Sherly dengan marah sambil menerobos masuk ke dalam kantor Aditya.
Seolah-olah sudah tahu akan kedatangan Sherly, Aditya malah tersenyum melihat mantan istrinya itu menerobos masuk dan marah kepadanya.
"Maksud kamu..kenapa aku mengambil kembali semua uang milikku..?" Tanya Aditya santai.
"Dan mobil itu juga masih atas nama aku.." Lanjut Aditya.
"Apa maksudmu..?" Tanya Sherly semakin marah.
"Aku hanya mengambil semua milikku kembali.."
"Milikmu..?" Tanya Sherly semakin marah.
"Mobil itu sudah kamu berikan kepadaku, dan uang di ATM adalah milikku, bukan milikmu.."
Aditya tersenyum.
"Oh ya..darimana kamu punya uang? semenjak kita bercerai kamu tak pernah sekalipun bekerja, kamu membawa kartu milikku yang berisi milyaran yang aku berikan kepadamu selagi kamu masih menjadi istriku, setelah bercerai kamu mentransfer semuanya ke rekening milikmu, belum lagi semua perhiasan dan barang mewah lainnya yang dibeli dengan uangku, sebenarnya aku tidak mempermasalahkan uang yang menurutku tidak seberapa, tapi kamu terus saja mengganggu rumah tanggaku..dan ini balasannya.."
"Sebenarnya aku tidak akan melakukan ini semua, seandainya kamu tidak terus-menerus mengganggu rumah tanggaku dengan Fatimah.."
"Dengan uangku kamu menyewa pengacara untuk melawanku, dengan uangku juga kamu menyewa beberapa orang untuk membuntuti Fatimah.."
"Entah apa lagi yang akan kamu lakukan kepada keluargaku dengan semua uang milikku.."
Sherly terdiam.
Semua yang dikatakan Aditya memang benar.
Selama ini dia memang hidup dengan uang milik Aditya.
"Oh iya, bukan hanya uang dan mobil yang aku ambil kembali, apartemen yang kamu tinggali selama ini, aku juga sudah mengambilnya kembali"
"Itu masih atas namaku, salahmu sendiri tidak segera membalikkan nama setelah aku memberikannya kepadamu waktu itu.."
Sherly semakin kaget, dia tidak menyangka Aditya juga akan mengambil kembali apartemen miliknya.
"Kamu tidak bisa melakukan itu semua.." Teriak Sherly dengan marah.
"Mobil dan Apartemen itu sudah kamu berikan kepadaku, kamu tidak bisa mengambilnya kembali.."
Aditya menghampiri Sherly perlahan sembari menatap tajam wajah mantan istrinya.
"Yang aku lakukan ini tidak seberapa.."
"Sebenarnya aku bisa melakukan sesuatu yang lebih dari ini kepadamu, misalnya aku bisa saja menyewa pembunuh bayaran untuk membunuhmu.." Bisik Aditya dengan dengan pelan tapi tajam.
Sherly terkesiap.
Dia mundur menjauhi Aditya.
"Kamu tidak akan mungkin melakukan itu Aditya, biar bagaimanapun aku adalah ibu kandung dari Zahra.. anakmu..." Jawab Sherly bergetar.
Aditya tersenyum.
"Kita lihat saja nanti.." Jawabnya santai.
Aditya menghubungi security.
Tak lama dua orang security datang.
"Tolong seret wanita ini keluar, jangan biarkan dia masuk lagi kesini.."
Sherly memberontak ketika dengan paksa dua orang security menyeretmu keluar dengan paksa.
"Aditya aku minta maaf..tolong maafkan aku, kembalikan semuanya dan aku berjanji tidak akan pernah lagi mengganggu keluarga kamu..aku berjanji Aditya.." Kata Sherly memohon.
Aditya tersenyum, dia tetap menyuruh security-nya untuk membawa Sherly pergi meninggalkan kantor.
Sherly berjalan memasuki lobi apartemen mewah itu, dia ingin membuktikan perkataan Aditya yang telah mengambil kembali apartemen miliknya.
Dia sampai di depan pintu, memasukkan beberapa kode untuk membuka pintu.
Tidak terbuka, dia mencoba lagi dan tetap sama, pintu apartemen itu tidak bisa terbuka. Dia sudah mencoba puluhan kali dan tetap tidak bisa.
Rupanya kode pintu itu terkoneksi langsung ke ruang keamanan security.
Tak lama dua orang security menghampirinya.
"Ada yang bisa saya bantu mba..?"
"Aku tidak bisa membuka pintu apartemen saya sendiri.."
"Setahu kami pemilik resmi apartemen ini sudah mengambil alih kembali flat ini.." Jawab salah seorang security.
"Tidak itu tidak benar, saya pemilik resminya, cepat bukakan, saya tahu kalian bisa.." Perintah Sherly kepada mereka.
"Maaf kami tidak bisa.."
"Cepat buka atau saya akan mengadukan kalian kepada pengelola apartemen.."
"Silahkan.." Jawab security itu kembali.
Sherly marah dan kesal, dia meninggalkan dua security itu dan berniat akan mengadu kepada pengelola apartemen.
"Maaf ibu, apartemen ini milik Bapak Aditya dan beliau sudah mengambil alih kembali.."
"Jadi anda ataupun kami..tidak bisa memasukinya tanpa seizin dari beliau.."
Sherly bingung, kesal dan marah. Paling tidak dia harus mengambil barang-barang miliknya.
Dia menelepon Aditya.
"Izinkan aku untuk masuk, paling tidak untuk mengambil bajuku.."
"Tidak.." Jawab Aditya dan langsung menutup teleponnya.
Sherly menangis, apa yang harus dia lakukan sekarang, dia melihat isi dompetnya dan hanya tersisa beberapa uang lembar.
"Apa yang harus aku lakukan, sekarang aku tidak mempunyai apa apa lagi.."