
Romi memberhentikan mobilnya agak jauh dari tempat yang dituju.
Dia melihat jam tangan yang dipakainya, pukul 03.45.
Dia melihat sekeliling yang sepi, terlihat sebuah gudang tua dari arah kejauhan di tengah lahan yang dipenuhi semak belukar jauh dari perumahan penduduk.
Dia keluar dari mobilnya, berjalan perlahan lahan mengendap dengan memegang senjata api di tangannya.
Setelah beberapa lama berjalan, dia sampai di gudang itu, dia mencoba mencari pintu masuk dan berjalan menyisiri dinding berharap ada celah sehingga dia bisa melihat ke dalam gudang.
Setelah cukup lama berjalan, samar samar Romi melihat seberkas cahaya di dalam gudang, tak jauh dari situ, ada sebuah pintu dan sepertinya tidak dikunci.
Romi mengintip dari balik pintu, ada beberapa orang yang sedang bermain kartu sambil meminum minuman keras yang cukup banyak.
"Apa belum ada instruksi selanjutnya dari big bos?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Belum, kita tunggu saja.."
"Tapi gadis itu cukup cantik untuk kita abaikan.."
"Ah jangan macem-macem loe..kita sebaiknya tunggu perintah dari big bos, kalau kata dia besok kita harus menghabisinya, kita akan menikmatinya terlebih dahulu, sepertinya dia masih gadis, sayang kan kalau mati masih perawan.."
"Dan anak kecil itu..?"
"Ya sama kita habisi juga, masa dikembalikan kepada orang tuanya.."
Semua orang tertawa terbahak-bahak.
Romi mengepalkan tangannya, matanya memerah menahan amarah, berani sekali mereka akan menyentuh Ayu, kini dia bertekad akan mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi Ayu dan Zahra.
Romi menunggu saat yang tepat untuk masuk.
Setelah beberapa lama, 3 dari 5 orang disana sudah terbaring tidur, kini hanya tinggal 2 orang yang terlihat masih terjaga dan bermain kartu.
Romi berpikir dia akan menunggu 2 orang itu lagi untuk tertidur, dia yakin sebentar lagi mereka akan segera tidur karena terlalu banyak meminum minuman keras.
Dan ternyata tebakan Romi benar, salah satu dari mereka pamit akan tidur kepada temannya dan mewanti-wanti agar temannya itu tetap berjaga. Akan tetapi tak lama kemudian orang itu pun tertidur.
Romi menunggu beberapa saat.
Setelah dipastikan mereka telah tertidur nyenyak, dia memutuskan untuk masuk dengan perlahan, dia berjalan diantara orang orang yang tertidur dengan sangat hati-hati.
Romi melihat ruangan yang digembok dari luar, dia yakin disitulah Ayu dan Zahra dikurung, dia melihat ke atas meja, mengambil sebuah anak kunci dan berjalan mendekati pintu itu.
Dia membuka gembok dengan perlahan, dibukanya pintu dan dilihatnya Ayu sedang memeluk Zahra ketakutan.
Romi menghampiri Ayu sambil menyimpan jari telunjuk di mulutnya.
"Ini aku.." Ucap Romi pelan.
Ayu tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Romi calon suaminya datang menyelamatkan dirinya dan Zahra. Ayu menahan tangisnya.
"Kamu tidak apa-apa..?" Tanya Romi pelan.
Ayu menggeleng.
"Ikuti aku.." Ajak Romi.
Ayu menuruti perintah Romi, dia mengangkat Zahra, Romi segera mengambil Zahra dari gendongan Ayu, kemudian menidurkannya di pundaknya.
Mereka berjalan perlahan meninggalkan ruangan itu, Ayu mengikuti Romi dengan perlahan melangkah diantara para penjahat yang sedang tertidur.
Mereka terus berjalan perlahan hingga sampai di pintu.
Romi membuka pintu dengan perlahan, Ayu tetap berjalan mengikutinya.
Tiba tiba salah seorang diantara mereka terbangun karena suara pintu yang terbuka itu cukup keras.
"HEI SIAPA KAMU..?" Teriak orang itu dan membangunkan teman temannya.
Mereka semua segera bangun dan mengejar Romi dan Ayu.
Seketika Romi berlari keluar dari pintu dan memegang tangan Ayu, mereka berlari sangat kencang ke arah semak belukar yang gelap.
Para penjahat mengejar dan kemudian kehilangan jejak mereka, mereka menembakkan senjata api ke segala arah.
Romi tak menghiraukan tembakkan yang mengenainya, dia terus berlari sampai akhirnya mereka sampai di mobil, Romi segera menyuruh Ayu masuk dan memberikan Zahra kepadanya.
Romi segera menghidupkan mesin akan tetapi para penjahat hampir mendekat ke arah mobilnya.
Romi mengeluarkan senjata dibalik bajunya, dia menembaki mereka semua dengan membabi buta hingga mereka mundur dan mencari perlindungan.
Romi segera menginjak pedal gas dan memajukan mobilnya dengan sangat kencang.
Sesekali dia melihat ke spion belakang khawatir para penjahat itu mengejarnya.
Ayu berhasil menenangkan Zahra yang terus menangis dari tadi. Kini Zahra sudah terdiam, akan tetapi kini Ayu melihat Romi yang menyetir dengan kesakitan.
Ayu melihat baju Romi yang berlumuran darah, dia melihat darah terus mengucur dari pundak belakang Romi.
Ayu menyobek ujung bajunya yang panjang, dia kemudian menutup luka Romi dengan kain tersebut. Ayu menekan luka Romi dengan kencang agar darah tidak terus keluar.
"Cepat cari rumah sakit.." Kata Ayu.
Romi mengangguk.
"Kamu tidak apa apa..?" Tanya Romi menatap Ayu.
"Kenapa masih mengkhawatirkan aku..?" Jawab Ayu yang kini tidak bisa menahan tangisnya.
"Kumohon cepat cari rumah sakit..kamu sudah kehilangan banyak darah.." Pinta Ayu masih dengan menekan luka di pundak Romi.
Romi tersenyum.
"Apa kamu khawatir kepadaku..?"Tanya Romi.
Ayu hanya bisa mengangguk sambil menangis.
"Aku senang kamu mengkhawatirkan aku.." Ucap Romi pelan sambil merintih kesakitan.
Romi sudah memasuki daerah kota lagi, kini dia tidak perlu khawatir akan diikuti oleh penjahat tadi, sekarang dia menuju rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Romi yang kini hampir tidak sadarkan diri terlihat tidak kuat lagi, Ayu dengan segera keluar mobil masih dengan menggendong Zahra memanggil Dokter yang berjaga di IGD.
Mereka segera datang dan memberi bantuan pertama kepada Romi.
Sebelum dibawa ke ruang tindakan, Romi yang masih setengah tersadar memberikan ponselnya kepada Ayu.
"Hubungi Aditya sekarang.." Kata Romi.
Ayu mengangguk.
Ayu mencari nama Aditya di kontak. Setelah menemukannya dia segera menghubungi nomor tersebut.
Fatimah yang sedang mengaji kaget mendengar suara ponsel Aditya berbunyi di jam segini, dia berdiri dan melihat nama di layar ponsel 'Romi'
Fatimah langsung menjawab panggilan tersebut.
"Halo.."
"Halo Fatimah, ini aku Ayu..kami ada di rumah sakit.."
Fatimah tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Ayu...Zahra dimana?" Tanya Fatimah dengan suara bergetar karena menangis.
"Zahra ada bersamaku..dia baik baik saja, tetapi Romi tertembak"
Fatimah berlari ke kamar nenek dimana Aditya sedang berada disana.
"Zahra..Zahra.. Ayu..ada dirumah sakit.." Ucap Fatimah kepada Aditya yang terkaget karena Fatimah menghampirinya dengan menangis.
"Romi tertembak dan ada di rumah sakit sekarang.." Kata Fatimah.
Aditya kaget.
Dia dan Fatimah segera menuju rumah sakit.