My Love My Baby Sitter

My Love My Baby Sitter
Kekacauan di Sekolah..



"Gue hebat kan dit..baru 3 bulan nikah, bini gw udah hamil.."


Fatimah dan Ayu tersenyum melihat Romi yang terus saja meledek Aditya.


Aditya kesal, dia merasa dikalahkan oleh Romi. Ternyata selama ini mereka bertaruh kalau Romi akan memerlukan waktu yang lebih lama seperti dirinya untuk membuat Ayu hamil.


Romi terus saja membanggakan dirinya yang ternyata lebih 'Perkasa' dibandingkan Aditya.


Fatimah sangat senang mendengar kehamilan Ayu, dengan begitu nantinya jarak usia antara anak mereka tidak akan jauh berbeda.


"Rencana kita buat menjodohkan anak kita nanti jadi kan dit..?" Tanya Romi bercanda.


"Gak jadi..gak mau gue punya besan kayak loe.." Jawab Aditya juga bercanda


Fatimah dan Ayu tertawa melihat Romi yang terus saja menggoda Aditya.


"Jadi..kamu ga jadi kembali ke apartemen..?" Tanya Fatimah.


"Mami gak izinin.." Jawab Ayu.


"Iya memang lebih baik kamu tinggal sama mertua kamu.."


Ayu mengangguk.


"Aku bersyukur maminya Romi sekarang sangat menyayangimu.."


"Iya.. aku juga gak percaya, beliau menganggap aku seperti putrinya sendiri.."


"Beliau sekarang mau berubah..bahkan sudah mulai nanya tentang agama dan mau aku ajarin ngaji, beliau juga sudah mau berhijab.."


"Subhanallah..Ayu.. Alhamdulillah.."


Ayu mengangguk.


"Iya Fatimah..aku bersyukur mami ada keinginan untuk berhijrah..Dia tak segan atau malu bertanya kepada aku sesuatu perihal agama yang tidak dia tahu atau mengerti.."


"Alhamdulillah Ayu, kehadiran kamu membawa pengaruh positif bagi Romi dan keluarganya.."


----------


Papi bengong melihat Margareth yang sibuk membereskan isi lemari.


"Mami lagi apa seh..?"


"Dan baju baju muslim itu untuk siapa..banyak banget..?" Tanya Papi heran.


"Baju mami yang lama mau mami simpan di gudang, baju baju muslim itu punya mami, baru mami beli.."


"Mami mau berhijab sekarang..?"


"Iya.."


"Alhamdulillah.."


"Apa ini semua karena Ayu..?"


"Bisa iya..bisa juga tidak.. intinya mami merasa Ayu adalah anugerah terindah di keluarga kita.."


"Asal papi tahu, Ayu mengajarkan banyak hal kepada mami, apalagi setelah kejadian Nita kemarin.. Pokoknya mami belajar banyak dari Ayu.."


Papi mengangguk mengerti.


"Romi benar dengan menikahi Ayu dan membawanya kerumah ini.."


---------


Fatimah mendapat telepon dari sekolah Zahra, yang memintanya untuk segera datang ke sekolah.


Fatimah tidak menghiraukan pesan dokter dan tetap pergi ke sekolah walaupun sudah dilarang oleh bik minah dan yang lainnya.


Sesampainya di sekolah, Fatimah kaget melihat suaminya yang ternyata sekolah juga memintanya untuk datang.


"Kenapa kamu kesini..?" Tanya Aditya heran melihat istrinya.


"Guru Zahra menelepon aku.."


"Biar aku saja..kamu kembali saja kerumah.."


"Aku tidak mau.." Jawab Fatimah sambil berlalu meninggalkan Aditya.


Ternyata kedatangan mereka sudah ditunggu oleh beberapa guru dan kepala sekolah, mereka langsung dipersilahkan memasuki ruang kepala sekolah.


Zahra langsung menghampiri Fatimah dan memeluknya.


"Ada apa sayang..?" Tanya Fatimah.


Zahra terdiam.


Kepala sekolah langsung memberitahukan apa yang terjadi.


Ternyata Zahra bertengkar dengan temannya, dan Zahra mendorong temannya hingga mengakibatkan temannya itu terluka di bagian kening yang harus mendapatkan 2 jahitan.


Tentu saja Aditya sangat kaget dan marah kepada Zahra, dia tidak menyangka anaknya bisa berbuat kasar seperti itu.


"Saya tidak terima anak saya terluka seperti ini.." Teriak ibu si anak yang terluka.


"Saya akan meminta ganti rugi, dan meminta permohonan maaf dari kalian.."


Fatimah tidak menghiraukan kemarahan wanita itu.


"Sayang.. ceritakan sama mamah, apa yang sebenarnya terjadi.."


"Dia mengolok-olok Zahra terus, dia bilang aku punya dua mamah..dia juga melempar buku dan tas Zahra" Jawab Zahra menahan tangis.


Fatimah kini mengerti.


"Tapi anak ibu yang salah, dia terus mengolok olok dan mengganggu anak saya.." Jawab Fatimah lantang seolah-olah dia menantang ibu itu.


Tentu saja semua orang kaget melihat reaksi Fatimah yang balik marah kepada mereka.


Aditya juga kaget Fatimah malah membela Zahra yang sudah jelas jelas salah telah melukai anak orang lain.


"Sayang jangan seperti itu, mari kita meminta maaf.. Zahra yang salah.."


"Tidak..aku tidak akan meminta maaf.." Jawab Fatimah kepada Aditya.


"Kalau anak anda tidak mengganggu anak saya terus, anak saya tidak akan melukai anak anda, itu hanya bentuk pembelaan diri..." Ucap Fatimah lantang.


"Dasar..sudah tahu anaknya yang salah malah menyalahkan anak orang.."


"Disini jelas jelas anak saya yang terluka, bukan anak anda.."


"Saya mempercayai putri saya, saya tahu dia tidak bersalah dan saya dan anak saya tidak akan pernah meminta maaf.." Jawab Fatimah tak kalah lantang,seakan dia lupa akan kehamilannya yang tidak boleh stres.


Aditya terus saja berusaha membujuk Fatimah untuk mengalah, selain karena memang dipikirnya Zahra yang salah, Aditya juga mengkhawatirkan kehamilan istrinya.


Para Guru dan kepala sekolah terus berusaha untuk menengahi Fatimah dan orang tua murid itu.


Percuma keduanya tidak mau mengalah dan tetap tidak mau saling meminta maaf.


"Pokoknya saya akan tuntut kalian.."


"Saya akan melaporkan kejadian ini ke kantor polisi.."


"Silahkan..saya tidak takut.." Tantang Fatimah.


"Heran ya sudah tahu anaknya salah malah dibela.." Jawab Ibu itu.


"Saya akan membela anak saya selama dia benar, dia hanya merasa saatnya harus melawan karena anak anda yang setiap hari terus saja mengolok anak saya.." Jawab Fatimah.


"Sayang..sudah, mari kita meminta maaf dan semua masalah akan beres.." Bujuk Aditya.


"Zahra cepat minta maaf sama teman kamu.." Perintah Aditya kepada putrinya.


Fatimah memeluk Zahra.


"Tidak..justru anak dia yang harus meminta maaf kepada Zahra.." Jawab Fatimah lantang.


Tak lama security datang dan memberikan rekaman CCTV di kelas Zahra.


Pak kepala sekolah segera memutarnya di hadapan semua orang.


Terlihat jelas Zahra yang sedang duduk terus saja diganggu oleh temannya itu, bukan hanya mengganggu, temannya juga mengambil dan melempar buku Zahra kelantai, terlihat teman Zahra juga mengambil tas Zahra dan akan melemparnya, tapi Zahra menahan dan terjadi rebutan tas hingga Zahra melepaskan tasnya dan si anak itu terjatuh dan keningnya mengenai ujung kursi hingga berdarah.


Si ibu itu terlihat serba salah sesudah melihat rekaman CCTV itu.


"Sudah saya katakan, anak saya tidak salah, dia hanya membela diri.." Ucap Fatimah kepada semua orang.


"Sekarang..anak siapa yang akan dilaporkan ke kantor polisi.." Lanjutnya.


Semuanya terdiam termasuk para guru dan kepala sekolah.