
Zahra terdiam mendengar jawaban dari Cindy.
"Memang mama lagi kemana..?" Tanya Zahra polos.
Cindy tersenyum.
"Zahra mau tahu semuanya..?" Tanya Cindy pelan.
Zahra mengangguk pelan.
"Baiklah..kalau begitu, Tante akan menceritakan semuanya.."
Zahra terlihat mendengarkan dengan seksama.
"Jadi mama kandung kamu yang sebenarnya adalah ini.."
Cindy memperlihatkan foto pernikahan Aditya dan Sherly di ponselnya.
Zahra terlihat kaget, dia mengambil ponsel Cindy dan menatap layar dengan tajam seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ini papa sama siapa..?"Tanya Zahra pelan sambil terus menatap layar ponsel.
"Itu adalah ibu kandung kamu..ibu yang melahirkan kamu sayang.."
Zahra kaget, dia melihat wajah Cindy.
"Bukan..mama Zahra bukan yang ini.." Jawab Zahra sembari memberikan ponsel itu kepada Cindy.
"Tante bohong..mamah Fatimah adalah mamah Zahra..bukan yang ini.." Zahra terlihat marah dan menahan tangisnya.
Cindy dengan segera mendekati Zahra dan mengusap rambutnya.
"Sayang..Tante tidak bohong, semua yang Tante katakan itu benar, Fatimah bukan mama kandung kamu, dia hanya ibu tiri kamu sayang.."
Zahra terlihat semakin kaget mendengar Cindy mengatakan bahwa Fatimah adalah ibu tirinya.
"Dan ibu kandung kamu adalah ini, namanya mama Sherly.."
Zahra menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Kamu tahu, sekarang dia ada dimana..?" Tanya Cindy lagi.
Zahra diam tak menjawab, dia menatap Cindy dengan wajahnya yang marah.
"Ibu kandung kamu sekarang ada di penjara, Fatimah dan papa kamu yang memasukkannya kesana.." Ucap Cindy dengan pelan.
Zahra semakin kaget, dia terlihat meneteskan air matanya.
Penjara.
Di dalam pikiran Zahra, penjara adalah tempat orang orang jahat berkumpul dan dihukum karena perbuatanya, itu adalah tempat paling seram dan paling menakutkan menurutnya.
"Kamu harus percaya sama semua perkataan tante, Tante mengatakan ini karena Tante sayang sama kamu.." Cindy memeluk dan mengelus rambutnya.
"Tante tidak ingin kamu terus dibohongi oleh Fatimah.."
Zahra terlihat menghapus air matanya.
"Tapi Zahra tidak percaya sama Tante..Tante pembohong, Tante jahat.." Teriak Zahra dengan sangat marah dan pergi meninggalkan Cindy.
Dia berlari hingga mobil mang Redo akhirnya datang.
Zahra segera menaiki mobilnya sedangkan Cindy terlihat tersenyum dengan puas.
"Racun yang ku tanam di kepala Zahra perlahan akan menghancurkan keharmonisan keluarga kamu Aditya..tidak akan kubiarkan kamu dan Fatimah hidup bahagia sampai kapanpun.."
Cindy tersenyum sinis.
Zahra menangis di dalam mobil, semua perkataan Cindy sangat menyakitkan hatinya, dan dia tidak ingin mempercayai semua perkataannya, berharap semua yang dikatakannya itu tidak benar.
Mang Redo kaget melihat nona kecilnya menangis dengan sedih, dia bertanya berulang kali, tapi Zahra tak menjawab pertanyaannya.
Mang Redo menghentikan mobilnya.
Dia berbalik melihat Zahra yang menangis.
"Ada apa non..?" Tanya Mang Redo penasaran melihat Zahra menangis.
Zahra tidak segera menjawabnya. Setelah beberapa saat, dia berniat menanyakan sesuatu kepada Mang Redo.
"Mang Redo.. Zahra mau tanya boleh..?" Tanya Zahra sambil berusaha menghapus air matanya.
Mang Redo menganggukkan kepalanya.
"Apa mamah Fatimah mamah kandung Zahra..?"
Mang Redo terkesiap mendengar pertanyaan Zahra.
"Kata Tante tadi, mamah Fatimah adalah ibu tiri Zahra.." Ucapnya kembali terisak.
"Siapa yang mengatakan itu non, Tante siapa..?" Mang Redo penasaran.
Zahra menggelengkan kepalanya.
"Zahra tidak tahu siapa Tante itu, dia hanya bilang kalau mamah Fatimah bukan ibu kandung Zahra dan sebenarnya dia hanya ibu tiri, apa itu benar mang..?" Tanya Zahra lagi.
Mang Redo menunduk, dia terlihat bingung tidak tahu harus menjawab apa.
"Jawab Zahra mang.." Pinta Zahra menanti jawaban dari mang Redo.
Mang Redo terlihat menghela nafas panjang, dia akan mencoba menjelaskan semuanya dengan hati hati.
"Non.. sebelumnya saya mau tanya sama nona Zahra, selama ini, bagaimana sikap nyonya Fatimah kepada non, sangat sayang atau sering memarahi atau bahkan memukul non..?"
Zahra termenung dan menggelengkan kepalanya.
"Mama sangat sayang sama Zahra, tidak pernah memarahi atau memukul Zahra.."
"Ibu kandung atau bukan.. jawabannya ada pada diri nona Zahra sendiri, karena yang selama ini merasakan semua kasih sayang dari nyonya Fatimah adalah nona Zahra.."
"Mama sangat sayang sama Zahra, sayang sekali.." Ucap Zahra pelan.
"Mama tak pernah marah atau bahkan memukul Zahra.." Ucap Zahra kembali.
Mang Redo tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Nona Zahra benar, semua orang mengetahui kasih sayang nyonya Fatimah sangat besar dan tulus kepada nona Zahra, jangan pernah ragukan itu non.."
Zahra menganggukkan kepalanya.
"Ingatlah semua kasih sayang yang sudah nona Zahra dapatkan dari Nyonya Fatimah, jangan pikirkan hal lain, ibu kandung atau bukan, ingat Nyonya Fatimah sangat menyayangi non.."
Zahra terdiam.
"Jadi benar, mamah Fatimah bukan mamah kandung aku..?" Ucap Zahra kembali terisak.
Mang Redo terdiam.
Zahra terlihat menghapus air matanya dan mengangguk
Mereka terdiam beberapa saat.
"Apa kita pulang sekarang non..?" Tanya Mang Redo.
Zahra mengangguk.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang, dan selama itu pula Zahra banyak berpikir.
Semua yang dikatakan mang Redo benar, selama ini dia sangat merasakan kasih sayang yang diberikan ibunya kepadanya sangat besar dan tulus, dia tidak pernah meragukan itu, kalaupun memang Fatimah ibu tirinya, dia bahkan tidak pernah sekalipun membentak atau bahkan memarahinya apalagi memukulinya, berbeda dengan ibu tiri Chintya yang jahat.
Dan kalaupun benar Fatimah ibu tirinya, dimana ibu kandungnya sekarang, apakah yang dikatakan Tante tadi juga benar bahwa sekarang ibu kandungnya sedang berada di dalam penjara karena dimasukkan oleh mamah Fatimah dan ayahnya, Aditya.
Pernyataan itu terus bergejolak di hatinya, dan dia berusaha untuk tidak mempercayainya.
Akhirnya mereka sampai kerumah, Zahra terdiam dan kembali menangis, tidak segera turun dari dalam mobilnya, karena melihat Fatimah sudah menunggunya diluar bersama dengan adiknya Zidane.
"Mama sangat sayang sama aku.."
Mang Redo yang mendengar melihat Zahra yang menangis terisak-isak.
"Itu benar non.." Mang Redo memanggilnya.
Zahra terus menangis.
Memikirkan Fatimah bukan ibu kandungnya membuatnya sedih dan kecewa, kenapa dirinya tidak lahir dari wanita yang sangat disayanginya itu, kenapa dirinya harus berbeda dengan adiknya Zidane.
Fatimah terlihat heran karena Zahra tidak kunjung turun dari mobilnya, dia mendekati mobil dan mencoba membuka pintunya.
Namun ternyata Zahra mengunci diri disana.
"Sayang.." Fatimah memanggil Zahra.
Zahra semakin terisak, dia tidak meragukan kasih sayang Fatimah kepadanya, Fatimah sangat menyayanginya dan dia tahu itu.
Mang Redo turun dari pintu depan.
"Mang..kenapa Zahra tidak turun..?" Tanya Fatimah heran.
Mang Redo hanya menunduk tidak menjawabnya, dia tidak ingin melihat wajah majikannya jika dia mengatakan bahwa Zahra sudah mengetahui semuanya, fakta bahwa Fatimah hanyalah ibu tirinya.
Fatimah semakin heran, dia kembali memanggil Zahra dan mengintipnya di kaca mobil.
Fatimah cemas karena kini dia melihat Zahra yang sedang menangis di dalam.
Fatimah menghampiri mang Redo.
"Ada apa mang..?Katakan kepada saya..?" Pinta Fatimah dengan sangat.
Mang Redo semakin menundukkan kepalanya.
Akhirnya Zahra keluar dari dalam mobil, dia langsung berlari masuk ke dalam rumah memasuki kamarnya dan mengunci diri.
Fatimah yang mengejar sembari memanggilnya pun merasa semakin heran dan bertanya-tanya apakah yang terjadi kepada putrinya.
Dia memanggil Zahra berulang kali di depan kamar putrinya.
Fatimah kembali keluar dan mencari mang Redo.
"Ada apa mang.. tolong katakan pada saya.." Ucap Fatimah kembali dengan memohon.
-------------
Fatimah duduk terkulai di depan pintu Zahra, dia menyandarkan seluruh badannya pada pintu kamar putrinya itu.
Fatimah menangis terisak, air matanya berjatuhan dengan deras, dia tahu saat ini akan tiba, tapi dia tidak menyangka akan secepat ini.
"Zahra.." Ucap Fatimah lemas memanggil manggil putrinya.
Semua ART ikut menangis menyaksikan kesedihan yang kini sedang dialami oleh majikan mereka.
"Zahra..anak mama.." Bisik Fatimah pada daun pintu yang menjadi pembatas antara dirinya dan Zahra.
Tak lama Aditya datang setelah dihubungi oleh Bik Minah, dia sudah mengetahui apa yang terjadi, melihat istrinya terkulai di depan pintu, Aditya segera menghambur ke arahnya dan memeluk erat Fatimah.
"Zahra sudah mengetahui semuanya.." Tangis Fatimah dalam pelukan suaminya.
Aditya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Aku tahu sayang.."
"Dia tidak mau membuka pintu.." Fatimah melepaskan pelukannya, di mengusap pintu kamar Zahra sembari terus menangis.
"Kita beri dia waktu sendiri.." Jawab Aditya menatap sedih istrinya.
Fatimah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Zahra buka pintu sayang.." Fatimah kembali menyandarkan tubuhnya pada pintu.
"Mama sayang sama Zahra..sayang sekali.." Ucap Fatimah dengan pelan diiringi isak tangis.
Aditya tak kuasa melihat semuanya, dia berdiri dan terlihat menelepon seseorang.
Setelah menghubungi ibu mertuanya, Aditya kembali menghampiri Fatimah yang masih terkulai lemas di depan pintu.
"Sayang jangan seperti ini.. bangunlah.."
Fatimah menggelengkan kepalanya.
"Zahra..ini papa nak..buka pintunya sayang.." Aditya mencoba membujuk sang putri.
Namun tetap tak ada respon dari dalam kamar.
Aditya kembali memeluk Fatimah.
Berulang kali dia terus mencoba memanggil Zahra, tapi tetap saja Zahra tidak membukakan pintu.
Tak lama Annisa datang, Aditya bangun dan menyambutnya.
Annisa menjatuhkan diri di hadapan Fatimah yang terisak, mereka berpelukan erat, Fatimah menangis hebat di pelukan sang ibu.
Annisa turut menangis, ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh putri dan cucunya.
"Zahra tidak mau membuka pintu mah.."
"Biar mama yang mencoba membujuknya sayang.."
Berkali kali Annisa memanggil Zahra dengan lembut, akan tetapi hasilnya sama, Zahra tidak juga membuka pintu kamarnya.
Annisa dan Aditya membujuk Fatimah untuk bangun dari sana, akan tetapi Fatimah menolaknya, dia tetap ingin berada di depan pintu kamar putrinya dan menunggu Zahra untuk membukakan pintu.
Ceklek..
Suara pintu terbuka dari dalam..